PADEK.JAWAPOS.COM-Upaya Pemerintah Kabupaten Agam dalam memulihkan kehidupan warga pascabencana banjir bandang dan lahar dingin terus berlanjut.
Tidak hanya menyediakan hunian tetap (Huntap) yang layak huni, Pemkab kini menyalurkan bantuan alat produktif berupa mesin jahit dan obras bagi keluarga terdampak yang menempati Huntap di Jorong IV Surabayo, Nagari Lubukbasung, Rabu (15/10).
Bantuan senilai Rp 122 juta ini diserahkan Asisten Administrasi Umum Sekretariat Kabupaten (Setkab) Agam, Syatria, mewakili Bupati Agam.
Sebanyak 9 keluarga penerima manfaat memperoleh masing-masing satu unit mesin jahit putih lurus dan satu unit mesin obras benang lima.
Syatria menyebut, bantuan ini merupakan tindak lanjut dari hasil pendataan Bappeda Agam yang menyoroti kebutuhan warga Huntap untuk kembali produktif setelah kehilangan sumber mata pencaharian akibat bencana.
“Bantuan ini bukan hanya alat, tetapi modal awal untuk menumbuhkan semangat usaha. Kami ingin masyarakat Huntap tidak hanya pulih, tetapi bangkit dan mandiri secara ekonomi,” ujar Syatria.
Langkah ini sejalan dengan arahan Direktur Jenderal Perumahan Pedesaan Kementerian PUPR, Imran, yang sebelumnya menegaskan bahwa keberhasilan program relokasi tidak boleh berhenti pada penyediaan rumah baru.
Saat meninjau 80 unit Huntap di Lubukbasung (25/9) lalu, Imran menekankan pentingnya pemberdayaan ekonomi warga penghuni agar tidak menjadi “penghuni pasif” di permukiman baru mereka.
“Bangunan Huntap ini sudah memenuhi standar, termasuk infrastruktur dasar seperti listrik dan air. Namun yang lebih penting adalah bagaimana warga bisa melanjutkan kehidupannya, termasuk usaha yang sebelumnya mereka jalani,” kata Imran.
Menurutnya, peran pemerintah daerah menjadi krusial untuk memfasilitasi kegiatan ekonomi produktif yang dapat dijalankan di Huntap. Ia berharap relokasi ini tidak hanya memulihkan tempat tinggal, tetapi juga membangkitkan kembali roda ekonomi warga.
Senada dengan itu, Bupati Agam, Benni Warlis, mengakui tantangan terbesar pascarelokasi adalah membangun kemandirian ekonomi masyarakat.
“Bangunan sudah berdiri bagus, listrik dan air tersedia. Tapi PR kita adalah bagaimana menghidupkan kembali usaha warga. Ekonomi harus bergerak di permukiman baru ini,” ujarnya.
Pemerintah daerah berkomitmen menindaklanjuti program pemulihan ekonomi secara bertahap dengan bantuan berbasis keterampilan dan potensi lokal.
Selain bantuan mesin jahit, Pemkab Agam juga tengah menyiapkan program penguatan usaha mikro di sektor lain seperti kuliner, pertanian, dan perdagangan rumah tangga.
Dengan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, diharapkan Huntap bukan sekadar tempat tinggal baru, tetapi titik awal kebangkitan ekonomi pascabencana.
Warga tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga berdaya, mandiri, dan menjadi penggerak ekonomi di lingkungannya. (ptr)
Editor : Novitri Selvia