Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

IDI Kerahkan 137 Dokter dan Bantuan Kesehatan Rp300 Juta untuk Korban Bencana di Agam

Silvina Fadhilah • Senin, 5 Januari 2026 | 12:17 WIB

Ketua IDI Agam, Valencia, meninjau kondisi di Agam, pascabencana.
Ketua IDI Agam, Valencia, meninjau kondisi di Agam, pascabencana.
IDI Cabang Kabupaten Agam menyalurkan bantuan kesehatan senilai Rp300 juta dan mengerahkan 137 dokter untuk melayani warga terdampak bencana di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Senin (5/1/2026).

PADEK.JAWAPOS.COM--Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kabupaten Agam menyalurkan bantuan kesehatan senilai Rp300 juta dan mengerahkan 137 dokter untuk menangani warga terdampak bencana di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Senin (5/1/2026).

Bantuan tersebut difokuskan ke wilayah terdampak berat, terutama Kecamatan Salareh Aia Palembayan dan Kecamatan Tanjung Raya, dengan dukungan IDI dan fakultas kesehatan dari berbagai daerah di Indonesia.

Ketua IDI Cabang Kabupaten Agam, Valencia, mengatakan bantuan disalurkan dalam bentuk logistik medis, obat-obatan esensial, serta relawan satuan tugas (satgas) kesehatan yang turun langsung ke lapangan.

“Total bantuan yang kami himpun secara nasional mencapai sekitar Rp300 juta. Masing-masing daerah membantu dengan membawa obat-obatan dan tenaga medis sesuai kebutuhan di lapangan,” kata Valencia kepada Padang Ekspres di Lubuk Basung.

Ia menyebutkan 137 dokter yang terlibat terdiri dari dokter umum, dokter puskesmas, hingga dokter spesialis yang bergabung bersama tenaga medis lokal.

“IDI terus turun bersama masyarakat pascabencana. Kami hadir untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan, terutama di wilayah terdampak yang mengalami keterbatasan akses,” ujarnya.

Dalam pelayanan lapangan, penyakit yang paling banyak ditemukan adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan penyakit kulit seperti gatal-gatal akibat kondisi lingkungan dan sanitasi yang belum pulih.

Selain itu, IDI juga memprioritaskan pasien dengan penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, gangguan jantung, dan gangguan tiroid yang membutuhkan pengobatan rutin.

“Dua kelompok penyakit yang paling rentan pascabencana adalah penyakit akibat lingkungan dan penyakit bawaan pasien. Keduanya harus ditangani secara bersamaan,” kata Valencia.

Menurutnya, layanan kesehatan dasar sebenarnya tersedia di puskesmas, namun pada situasi darurat kebutuhan masyarakat meningkat dan ketersediaan obat sering terganggu.

“Layanan primer sudah ada di puskesmas, dan kami hadir untuk meng-cover kekurangan tersebut, terutama obat-obatan dan tenaga medis tambahan,” ujarnya.

Seluruh layanan kesehatan yang diberikan IDI Cabang Agam gratis, meliputi pemeriksaan, pengobatan, hingga pendampingan psikologis, dengan anak-anak sebagai kelompok prioritas.

Selain pengobatan fisik, tim satgas kesehatan juga melakukan trauma healing bagi warga terdampak, terutama anak-anak dan kelompok rentan.

Untuk keberlanjutan layanan, IDI menitipkan obat-obatan ke puskesmas agar dapat digunakan pada tahap kontrol dan pengobatan lanjutan.

“Obat-obatan tersedia dan mencukupi. Sebagian besar merupakan bantuan dari IDI se-Indonesia yang datang langsung membantu masyarakat Agam,” kata Valencia.

Ia menegaskan seluruh obat yang disalurkan telah memenuhi standar mutu dan kualitas, sementara pemilihan jenis dan merek obat menjadi kewenangan profesional dokter di lapangan.

Valencia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam penanganan kesehatan pascabencana agar dampak jangka panjang dapat diminimalkan.

“Penanganan bencana tidak hanya soal sosial dan infrastruktur, tetapi juga kesehatan fisik dan psikologis masyarakat,” ujarnya.(CR1)

 

Editor : Hendra Efison
#IDI Cabang Agam #Bencana Kabupaten Agam #Bantuan Kesehatan Rp300 Juta #Dokter Tangani Korban bencana