Ratusan warga berbondong-bondong memanfaatkan program ini di tengah naik-turunnya harga pangan. Bagi warga, selisih harga beberapa ribu rupiah dari komoditas pokok sudah sangat berarti.
Renita, 36, ibu dua anak, rela datang sejak subuh demi mendapatkan beras lebih murah. ”Harga beras di warung naik terus. Jadi saya ingin pastikan dapat jatah,” ujarnya sambil menggendong putrinya yang tertidur.
Tak jauh darinya, ada Idrus, 58, nelayan yang baru pulang melaut ikut andil menunggu antrean gerakan pangan murah. ”Pendapatan kami kadang tak menentu. Dengan harga lebih murah seperti ini, kami bisa hemat untuk kebutuhan lain,” ujarnya.
Murniati, 42, pedagang warung kecil menuturkan kegembiraannya. ”Biasanya saya kulakan cabai di pasar dengan harga tinggi. Hari ini saya bisa dapat lebih murah, jadi harga di warung saya pun bisa saya jaga,” katanya.
Sementara Fajar Ismail, 43, buruh harian membawa pulang dua karung beras. ”Sekarang semua serba mahal. Kalau kegiatan seperti ini rutin, beban kami jelas berkurang,” ucapnya.
Mereka bukan satu-satunya. Ratusan warga lain berdatangan. Apalagi di hari Sabtu itu kebetulan hari pasar bagi warga Airbangis. Sebagian warga sengaja membawa karung kecil untuk tempat barang yang akan dibeli.
Saat ini, bagi masyarakat pesisir, selisih harga beberapa ribu rupiah saja sangat berarti, terlebih ketika biaya bahan bakar dan kebutuhan pokok lain tak bisa ditebak.
”Alhamdulillah, hadirnya gerakan pangan murah ini sangat membantu kami untuk kebutuhan dapur. Harganya cukup murah dibandingkan harga pasar,” kata Nurhayati, 55, ibu rumah tangga ini bersama warga lainnya.
Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Pasbar Gusmalini, hadir membuka acara bersama Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Ekadiana Oktavia, serta perwakilan Bank Indonesia dan Bank Nagari.
”Melalui GPM, kami ingin memastikan kebutuhan pokok tetap terjangkau dan pasokan terjaga. Masyarakat bisa belanja dengan tenang,” ujar Gusmalini.
Ia menambahkan, pelaksanaan GPM di Pasbar digelar oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Pasbar bekerja sama dengan Bank Indonesia dan Bank Nagari Cabang Simpangempat.
Tahun ini, kegiatan berlangsung di tiga titik, yaitu Kecamatan Pasaman, Sasak Ranah Pasisie, dan Sungai Beremas. Berbagai komoditas yang dijual di antaranya beras, cabai merah, bawang merah, minyak goreng, gula pasir, dan telur dengan harga di bawah pasar atau sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) yang berlaku.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pasbar Ekadiana Oktavia menambahkan, kegiatan ini penting untuk menahan laju inflasi Pasbar yang tercatat 3,96 % (year on year) dan 1,01% (month to month).
”Dengan gerakan ini, harga pangan diharapkan stabil dan daya beli masyarakat tetap terjaga. Inflasi bukan hanya angka statistik. Ia menyentuh langsung dapur setiap keluarga. Karena itu, kami berupaya mendekatkan pangan murah ke masyarakat, terutama di wilayah pesisir yang rentan fluktuasi harga,” ujarnya.
Pasar Mini dengan Misi Besar
Di bawah tenda, aneka bahan pokok ditata rapi mulai dari beras 5.000 kg, cabai merah 50 kg, bawang merah 50 kg, minyak goreng 200 liter, gula pasir 200 kg, dan telur 100 tray.
Sedangkan harga yang ditawarkan yakni beras Rp 60.000 per karung, cabai merah Rp 65.000 per kg, bawang merah Rp 30.000 per kg. Kemudian ada juga minyak goreng Rp 14.000 per liter, gula pasir Rp 15.000 per kg dan telur Rp 45.000 per tray.
Harga tersebut lebih rendah daripada pasaran, bahkan sebagian sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET). Antrean panjang tak menyurutkan semangat warga. Petugas sibuk menakar gula, menimbang cabai, dan menyiapkan telur. Suasana penuh tawa, jauh dari kesan formal.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Pasbar Endang Rirpinta menilai kolaborasi lintas sektor penting untuk mengendalikan harga.
”Program seperti ini membantu menjaga daya beli masyarakat sekaligus menstabilkan pasar. Ketika suplai terjamin, spekulasi harga bisa ditekan,” jelas Endang.
Dikatakan, pihaknya melihat langsung antusiasme warga. Ini bukti program pemerintah tidak hanya berhenti di dokumen, tetapi benar-benar dirasakan masyarakat.
Kepala Bidang Pendistribusian dan Cadangan Pangan pada Dinas Ketahanan Pangan Pasbar, Mirhta menambahkan GPM ini dibuka sejak 09.00 WIB hingga habis diserbu masyarakat sekitar pukul 12.00 WIB. Melihat antusiasme warga, pihaknya sudah melakukan musyawarah akan mengusulkan ke BI agar ada penambahan kuota di Pasbar.
”Kita rancang ada tiga titik lagi yang akan kita distribusikan GPM ini. Lokasinya yang pasti baru satu yakni di Kotosawah, Kecamatan Lembah Melintang. Dua titik lagi masih dipertimbangkan dimana lokasinya nanti,” katanya. (*)
Editor : Eri Mardinal