Hidangan ini merupakan perpaduan ampiang, yaitu beras ketan sangrai yang ditumbuk kasar, dengan dadieh, yoghurt alami dari susu kerbau.
Salah satu penjual ampiang dadieh, Dento (52), berjualan di Jalan KH. Ahmad Dahlan, Kelurahan Alai Parak Kopi, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang.
Ia menjelaskan bahwa dadieh dibuat secara tradisional melalui proses fermentasi alami di dalam bambu tanpa bahan tambahan.
“Dadieh dibuat murni dari susu kerbau, tanpa pengawet. Prosesnya harus higienis karena kalau tidak, dadieh bisa gagal,” ujar Dento, Sabtu (22/11/2025).
Menurutnya, proses fermentasi berlangsung sekitar tiga hari hingga menghasilkan tekstur krim padat dengan cita rasa asam.
Tingkat keasaman akan meningkat seiring lamanya proses penyimpanan, namun sebagian besar pembeli lebih menyukai dadieh yang masih baru.
Dento menyebut dadieh dapat bertahan hingga sekitar 20 hari tanpa lemari pendingin karena proses fermentasi alami.
Ia menyarankan dadieh didiamkan selama tiga hari sebelum disimpan di dalam lemari es agar fermentasi berlangsung sempurna.
Ia menjelaskan bahwa dadieh merupakan makanan khas daerah Tanahdatar, Agam, dan Limapuluh Kota, yang secara tradisional disajikan dalam acara adat bagi para pemuka adat.
Dari sisi penjualan, Dento mampu menjual 25–30 bilah bambu dadieh per hari dengan harga Rp25.000–Rp30.000 per bilah.
Produk ini umumnya disajikan dengan campuran ampiang, gula aren, dan parutan kelapa muda, meski sebagian konsumen memilih menikmatinya tanpa campuran.
“Banyak pembeli memilih dadieh murni saja,” kata Dento.
Hingga kini, ampiang dadieh tetap dicari oleh masyarakat sebagai kuliner tradisional berbahan alami.(CR6)
Editor : Hendra Efison