Penelitian bertajuk ”Inovasi Mesin untuk Peningkatan Produksi dan Penjualan Oleh-oleh Kuliner Khas Ranah Minang” ini, diadakan di Hotel Grand Royal Denai Bukitinggi, baru-baru ini.
FGD diikuti mitra penelitian dan pelaku UMKM Rendang dan Dakak-Dakak ini, bertujuan untuk menyusun dokumen bisnis mesin retort dan mesin pencetak dakak-dakak sesuai kebutuhan user.
Tim peneliti kolaborasi multidisiplin ilmu dari tiga perguruan tinggi yaitu PNP penerima hibah, Politani Payakumbuh dan IPB University.
Penelitian ini dipimpin Dr Nurul Fauzi SE MM Ak dosen Jurusan Akuntansi PNP bersama sejumlah anggota. Yakni, Firmansyah ST MT dan Haris SPd MT dari PNP, Dr. Iis Ismawati SHut MSi dan Dr Nova Sillia SPt MM dari PPNP, serta Dr Dwi Setyaningsing STP MS dari IPB University. Kolaborasi ini juga melibatkan mahasiswa Jurusan Teknik Mesin dan Teknik Elektro PNP.
Nurul Fauzi menyatakan bahwa diskusi ini menjadi langkah awal untuk memahami lebih dalam spesifikasi mesin seperti apa yang menjadi kebutuhan mitra agar dapat meningkatkan kualitas produknya.
Sehingga, peneliti dalam menyusun prototype kedua mesin yang akan diproduksi tersebut benar-benar sesuai kebutuhan user nantinya.
FGD ini difokuskan pada penyusunan Business Model Canvas (BMC) sebagai alat manajemen strategis yang digunakan untuk merancang dan menjelaskan model bisnis mesin retort dan mesin pencetak dakak-dakak yang sedang diproduksi saat ini.
Mitra dipandu untuk dapat memberikan masukan berdasarkan 9 elemen kunci saling berhubungan, mulai dari keys partnership, key activities, key resources, customer relationship, channels, value propositions, customer segments, cost structure dan Revenue streams.
Dalam diskusi ini terungkap bahwa mesin retort yang ada di pasaran saat ini masih terdapat kekurangan seperti kapasitas yang besar, sehingga tidak terjangkau oleh pengusaha rendang yang produksinya masih kecil.
Kemudian, dibutuhkan waktu lama mendistribusikan panas membuat boros bahan bakar dan model sekat yang kurang fleksibel menyebabkan produk menumpuk dan panas menjadi tidak merata.
Sedangkan mesin pencetak dakak-dakak memang belum ada di pasaran, sehingga inovasi yang ditawarkan dalam penelitian ini menjadi harapan besar bagi produsen selama ini masih mencetaknya secara manual.
“Kami sangat kesulitan mencari tenaga kerja pencetak dakak-dakak terutama saat pesanan meningkat seperti bulan puasa. Seiring adanya mesin ini akan menjadi solusi mengurangi biaya tenaga kerja, sekaligus meningkatkan kapasitas produksi usaha kami,” kata Deny pemilik dakak-dakak Dua Putri Simabur Tanahdatar.
Hera, pemilik usaha rendang Dapur Bundo N-3 Kabupetan Agam menambahkan bahwa mesin retort ini tidak saja berguna bagi pengusaha rendang tapi juga produk-produk olahan kuliner Minang lain yang sifatnya basah seperti gulai itiak lado hijau.
Ke depannya beragam aneka kuliner khas Minang lainnya seperti gulai tunjang, pangek cubadak pun bisa menjadi oleh-oleh seperti produk rendang.
Menurut Nurul Fauzi, penelitian ini menunjukkan peran pendidikan tinggi dalam membantu meningkatkan kualitas dan kuantitas produk oleh-oleh dan kuliner khas Minang. Sehingga, produk UMKM Sumbar bisa naik kelas dan mampu menembus pasar ekspor.
“Saat ini kami masih dalam tahap penyusunan prototype, setelah mesin selesai diproduksi dan dilakukan pengujian performance, uji verifikasi dan uji kelayakan diharapkan ini akan menjadi produk unggulan teaching factory PNP yang dapat dipabrikasi dan dipasarkan ke pelaku UMKM yang membutuhkan. Inovasi mesin yang kami rancang ini memang lebih ditujukan untuk usaha kecil, sehingga kapasitasnya tidak terlalu besar dan harganya lebih terjangkau,” pungkasnya. (rdo)
Editor : Adetio Purtama