Kegiatan ini diikuti 300 peserta yang terdiri dari tokoh masyarakat, pemuda, relawan, hingga generasi Muhammadiyah.
Empat Pilar Kebangsaan yang disosialisasikan meliputi Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.
“Masa depan negara ini ada di tangan pemimpin saat ini dan pemimpin masa depan. Karenanya kita gelar sosialisasi ini guna meningkatkan kesadaran masyarakat tentang berkehidupan berbangsa dan bernegara bersama masyarakat, khususnya di Kota Bukittinggi,” ujar Arisal Aziz yang akrab disapa Josal.
Arisal menekankan pentingnya gotong-royong, toleransi, kerukunan, dan hidup berdampingan sebagai nilai yang sejalan dengan Empat Pilar Kebangsaan.
“Isi dari Empat Pilar Kebangsaan adalah Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, UUD 1945 sebagai konstitusi negara serta ketetapan MPR, NKRI sebagai bentuk negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara,” katanya.
Selain Arisal, kegiatan ini juga menghadirkan pemateri Vifner, SH, MH. Ia menjelaskan pentingnya memahami Pancasila sebagai ideologi negara.
“Pancasila berasal dari bahasa Sansekerta, panca berarti lima dan sila berarti prinsip atau asas. Kelima prinsip tersebut tercantum dalam paragraf keempat Pembukaan UUD 1945,” jelasnya.
Vifner juga menguraikan bahwa UUD 1945 adalah hukum dasar tertulis dan konstitusi pemerintahan Republik Indonesia.
NKRI, lanjutnya, berdiri sejak proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 oleh Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta, mencakup wilayah dari Sabang sampai Merauke.
Sementara itu, Bhinneka Tunggal Ika disebutnya sebagai semboyan bangsa Indonesia yang tertulis pada lambang negara Garuda Pancasila.
“Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu,” pungkasnya.(*)
Editor : Hendra Efison