Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

All Quiet on the Western Front: Cermin Pedih Kemanusiaan di Tengah Kekacauan Dunia Modern

Rafiul Refdi • Senin, 10 November 2025 | 10:13 WIB

Film All Quiet on the Western Front (sonora)
Film All Quiet on the Western Front (sonora)
PADEK.JAWAPOS.COM--Film All Quiet on the Western Front kembali menjadi sorotan global, dua tahun setelah tayang perdana di Netflix pada 2022.

Disutradarai oleh Edward Berger, film adaptasi novel karya Erich Maria Remarque ini menyorot realitas brutal Perang Dunia I melalui sudut pandang remaja Jerman bernama Paul Bäumer.

Berdasarkan laporan AP News, film ini tak hanya sukses secara artistik, tetapi juga menghidupkan kembali pesan anti-perang yang relevan dengan kondisi geopolitik dunia masa kini.

Tokoh Paul Bäumer, diperankan oleh Felix Kammerer, digambarkan sebagai pemuda polos yang idealismenya runtuh ketika berhadapan dengan penderitaan dan absurditas perang.

Tidak ada kemenangan, hanya kehilangan dan kehampaan.

Sutradara Edward Berger menyebut versinya sebagai “penerjemahan ulang yang lebih manusiawi” dari novel klasik tersebut.

Dengan bahasa Jerman asli dan pendekatan visual realistis, film ini menghadirkan pengalaman perang yang nyaris dokumenter.

Berdasarkan data Wikipedia 2024, produksi film ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan global, menambah bobot relevansi temanya.

Menurut The New Indian Express, “Film Berger adalah seruan kuat untuk perdamaian sekaligus kritik tajam terhadap kebijakan negara yang mengorbankan generasi muda.”

Sinematografi yang digarap detail, serta musik menekan karya Volker Bertelmann, memperkuat kesan tragis di setiap adegan.

Di laman Rotten Tomatoes, film ini meraih skor 90 persen, menandakan apresiasi tinggi terhadap kekuatan visual dan pesan moralnya.

Pada ajang Oscar 2023, All Quiet on the Western Front meraih penghargaan Best International Feature Film, menjadikannya tonggak penting perfilman Jerman.

Kanselir Olaf Scholz pun menyatakan kebanggaan atas capaian tersebut. Resonansi emosional film ini meluas hingga penonton global.

Banyak pengguna Reddit mengaku “terdiam lama setelah film berakhir,” menandakan dampak mendalam yang ditinggalkan.

Dalam konteks meningkatnya konflik dunia saat ini, film ini menjadi pengingat keras bahwa perang selalu menuntut harga kemanusiaan yang mahal.

All Quiet on the Western Front bukan sekadar film perang, tetapi refleksi universal tentang kehilangan, kehampaan, dan trauma generasi muda yang dikorbankan oleh ambisi politik.

Keheningannya bukan kedamaian—melainkan jeritan sunyi dari manusia yang terluka oleh perang.(CC5)

 

Editor : Hendra Efison
#Edward Berger #Felix Kammerer #All Quiet on the Western Front #film antiperang