PADEK.JAWAPOS.COM-Gigih dalam berikhtiar dan selalu berdoa agar bisa mengubah nasib di masa depan, Aflizar, anak dari keluarga nelayan di Air Bangih, Kecamatan Sungai Beremas, Kabupaten Pasaman Barat, berhasil mencapai puncak tertinggi dalam bidang keilmuannya dengan menyandang gelar profesor.
Capaian ini didedikasikan untuk mencerdaskan generasi di Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh (PPNP). Seperti apa perjalanan hidupnya?
BERADA pada puncak capaian bidang keilmuan, Aflizar berhasil meraih gelar profesor setelah melewati perjuangan panjang dalam dunia pendidikan.
Meskipun berasal dari keluarga sederhana, pria kelahiran Air Bangis, 6 Juli 1974, ini kini telah dinobatkan sebagai guru besar dengan keahlian pada Ilmu Kesuburan dan Konservasi Tanah.
Meskipun tidak pernah menyangka akan mampu meraih tingkat keilmuan hingga gelar profesor, dosen Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh ini sejak sekolah dasar sudah bertekad berupaya sekuat tenaga untuk menjadi orang berpendidikan sebagai cara untuk mengubah kehidupan keluarganya yang sederhana.
Mengawali kisah motivasinya, Prof Aflizar berbicara tentang perjalanan hidupnya sejak sekolah dasar. Dengan profesi ayah sebagai nelayan biasa seperti kebanyakan warga di Air Bangis, Aflizar kecil harus pandai mencari bantuan untuk biaya sekolahnya secara mandiri.
Untuk meringankan beban ayahnya, Aflizar bersekolah sambil berjualan es dan membantu pedagang memilah ikan hasil tangkapan demi mendapatkan uang tambahan untuk kebutuhan sekolah. Bahkan hingga di bangku SMP, ia tetap mencari peluang pekerjaan sampingan.
“Saat itu, saya sangat menyadari betapa sulitnya kehidupan dengan kondisi ekonomi terbatas. Motivasi untuk mengubah hidup menjadi lebih baik sudah melekat kuat dalam diri saya sejak saat itu,” ungkap Prof Aflizar, Rabu (2/10).
Ketika melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) di Lubuk Sikaping, Aflizar harus hidup mandiri di tempat kos.
“Saat itu, ikan kering hasil mengumpulkan ikan dan kiriman dari orang tua menjadi bekal selama saya tinggal di kos,” ucap Aflizar mengenang masa-masa sulit serta dorongan keluarganya untuk pendidikan.
Dengan semangat yang kuat dan tekad untuk mengubah nasib, Aflizar tidak pernah menyia-nyiakan waktunya selain untuk belajar. Hasilnya, ia selalu menjadi juara kelas dan berhasil diterima di Universitas Andalas melalui jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK).
“Teman dan pacar saya hanya buku. Saya tidak seperti teman-teman lain yang memiliki lebih banyak waktu untuk menikmati indahnya masa SMA,” kata Prof Aflizar sambil menceritakan pengalaman hidupnya.
Memulai dari PMDK tahun 1994, Aflizar belajar Ilmu Tanah di Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Pria yang biasa disapa Afu ini dikenal sebagai salah satu mahasiswa yang dipercaya oleh dosen untuk membantu penelitian-penelitian, bahkan hingga diabadikan dalam jurnal-jurnal penelitian.
Afu juga pernah mendampingi peneliti dari Jepang hingga mendapatkan kesempatan pertukaran mahasiswa ke Jepang dari Universitas Andalas. Tentu saja, kesempatan tersebut tidak ia sia-siakan.
“Saya berangkat ke Jepang dan tinggal di sana selama satu tahun dalam program pertukaran mahasiswa,” kisah Afu.
Setelah menyelesaikan pendidikan S1, Afu melanjutkan S2 Ilmu Tanah di Universitas Andalas pada 2001 hingga 2003, masih dengan beasiswa dari Jepang.
Perjuangan berlanjut ketika ia harus bersaing mendapatkan beasiswa S3 ke Jepang, bersaing dengan mahasiswa terbaik dari berbagai negara.
“Selain usaha kita, selebihnya diserahkan kepada pencipta. Takdir baik sesuai rukun iman keenam membawa saya mendapatkan beasiswa S3 ke Jepang tahun 2007,” terang Afu.
Nama Aflizar yang tercantum dalam penelitian dosen sebelumnya memberikan keuntungan dalam proses penerimaan beasiswa tersebut.
Membawa istri dan dua anaknya, Afu berangkat ke Jepang pada 2007 hingga menyelesaikan studinya pada 2010, kemudian kembali ke Politani Negeri Payakumbuh.
Pengalaman penelitian yang telah dilakukan Aflizar sangat penting untuk menunjang kariernya. Artikelnya di jurnal internasional memberikan kontribusi signifikan dalam ilmu tanah.
Tidak hanya aktif dalam penelitian, artikel-artikel ilmiah dan buku yang diterbitkan oleh Aflizar sangat dibutuhkan di dunia akademis. Pengalaman dan hasil penelitiannya mengantarkannya meraih gelar profesor.
“Kini kita hanya menunggu SK. Alhamdulillah, ini adalah capaian prestasi, tetapi di sisi lain, ilmu ini adalah amanah yang harus kita bagikan kepada generasi berikutnya. Seperti harta, ilmu juga harus kita pertanggungjawabkan di akhirat,” jelas Prof Aflizar yang berkomitmen mendedikasikan ilmunya di Politani Negeri Payakumbuh.
Ucapan selamat untuk Afu sebagai guru besar dengan gelar profesor datang dari kerabat, teman, hingga Direktur Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, Ir John Nefri, yang mengaku bangga dengan bertambahnya satu lagi profesor di PPNP.
“Alhamdulillah, Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh telah melahirkan dua profesor muda. Ini kebanggaan bagi kami. Semoga ke depan hal ini memotivasi dosen-dosen lainnya untuk meraih gelar profesor demi mengharumkan nama PPNP. Ini merupakan pencapaian luar biasa bagi PPNP,” pungkasnya. (ARFIDEL ILHAM—
Limapuluh Kota)