Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Ibrahim Jatuh Cinta karena Program Hafizh Indonesia di Stasiun TV Swasta, Targetkan Punya Hafalan Delapan Juz Setamat dari Ponpes

Putra Susanto • Rabu, 5 Maret 2025 | 11:30 WIB

TERMOTIVASI: Ibrahim terinspirasi untuk menjadi Hafiz Al Quran setelah melihat progam Hafiz Indonesia yang ditayangkan RCTI tiap Ramadhan sejak 2013 lalu.(PUTRA/PADEK)
TERMOTIVASI: Ibrahim terinspirasi untuk menjadi Hafiz Al Quran setelah melihat progam Hafiz Indonesia yang ditayangkan RCTI tiap Ramadhan sejak 2013 lalu.(PUTRA/PADEK)

PADEK.JAWPOS.COM-Ibrahim nyaris menghabiskan masa transisinya dengan terus mendalami dan menghafal Al Quran. Cinta pada Al Quran sudah tumbuh di hatinya sejak berusia kanak-kanak. Tiga bulan lalu, Ibrahim genap berusia 14 tahun. Di usia belia ini, ia sudah hafal enam juz Kalam Ilahi. Seperti apa kisahnya?

SUASANA penuh kesantunan begitu terasa di Mushala Radatuljannah Talago, Lubukbasung, Selasa (4/3) siang. Menjelang pelaksanaan shalat Zuhur berjamaah, mushala ini dipenuhi para hafizh dari santri Pondok Pesantren Al Quran Darul Inqilabi Lubukbasung.

Para santri dan santriwati Ponpes Al Quran Darul Inqilabi Lubukbasung memang menjalani rutinitas mengaji dan beribadah di mushala tersebut. Mereka juga menyambut dengan penuh adab para jamaah yang datang untuk memenuhi panggilan Tuhannya di mushala itu.

Di antara para santri itu, salah satunya bernama Ibrahim. Santri kelas dua asal Kota Padang ini punya hafalan ayat-ayat Al Quran cukup banyak ketimbang para santri sekelasnya. 

Nilai-nilai Al Quran telah tertanam dalam diri Baim-sapaan akrab Ibrahim-sejak kecil. Baim sudah mulai belajar mengaji dan mengeja ayat demi ayat Al Quran di usia lima tahun.

Putra sulung dari pasangan Rikwan Hadi dan Silvia Handayani ini menceritakan, dirinya baru setahun menjadi santri di Ponpes Al Quran Darul Inqilabi Lubukbasung. Kini, Baim sudah punya hafalan enam juz ayat Al Quran.

“Aim sudah mulai menghafal ayat Al Quran sejak berusia kanak-kanak. Setamat SDIT sudah hafal empat juz dan setahun di ponpes sudah hafal enam juz,” kata remaja kelahiran Padangpanjang pada 11 November 2010 itu.

Baim sendiri mengaku jatuh cinta mendalami ilmu bidang tahfidz ini karena terkesima dengan program Hafiz Indonesia yang ditayangkan di RCTI. Program kompetisi pencarian bakat penghafal Al Quran ini selalu ditayangkan di bulan Ramadhan sejak tahun 2013 lalu dan masih berlanjut tahun ini.

Lebih jauh, program Hafizh Indonesia menurut Baim, tidak sekadar menginspirasi dirinya untuk menjadi penghafal Al Quran. Namun berhasil menjadikannya untuk lebih percaya diri menanamkan nilai-nilai Al Quran dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam menghafal Al Quran, Baim memiliki kiat dengan membaca berulangkali hingga membekas di ingatan. Sehari minimal mengulang setengah jus. Untuk mempertahankan hafalan, ayat-ayat terus dilafalkan dalam shalat sunat maupun wajib.

Kehebatan Baim dalam mendalami bidang tahfidz tidak terlepas dari peran orang tua. Tidak ada kata lelah bagi orang tua untuk memberikan dukungan dan dorongan kepada sang anak agar terus semangat.

Meski tidak mudah untuk menjadi penghafal Al Quran, namun berkat kecintaan luar biasa mampu mengantarkan Baim menjadi seorang hafizh di usianya yang masih belia. Bahkan Baim saat ini sudah menjelma menjadi seorang da’i yang sering memberi pengajian dan ceramah di Lubukbasung.

“Aim menargetkan sudah punya hafalan minimal delapan juz setamat dari ponpes ini. Tentu, pendidikan mendalami Al Quran tetap terus dilanjutkan, saat ini fokus belajar dulu di pesantren ini,” tutur Baim.

Di Ponpes Al Quran Darul Inqilabi Lubukbasung, juga terdapat santriwati bernama Khansa Mar’atun Azka, adik dari Ibrahim. Khansa sendiri kini hampir memiliki hafalan tiga juz ayat Al Quran.
Pimpinan Ponpes, Hasneril mengatakan, hari-hari para santri dipenuhi dengan berbagai kegiatan ibadah dan pengabdian yang intensif.

Fokus utama pendidikan di pondok ini adalah membentuk karakter yang kuat dan disiplin dalam menjalankan ajaran agama, sembari tetap menjaga kebersamaan dan toleransi antar-santri.

“Saat ini ponpes memiliki 15 santri dan 10 santriwati. Beberapa santri memang sudah memiliki hafalan enam juz ayat Al Quran, namun rata-rata para santri hanya punya hafalan satu hingga tiga juz,” kata Hasneril.

Rutinitas para santri, lanjut Hasneril, mengaji setengah juz setiap hari. Selain itu, menjalankan ibadah shalat wajib dan sunat di Mushala Radatuljannah Talago, belajar ceramah dan tata krama kehidupan. “Saya sendiri rutin memberi nasehat-nasehat akhlakul karimah kehidupan kepada mereka tiap hari,” pungkas Hasneril.

Pengurus Ponpes Al Quran Darul Inqilabi Lubukbasung, Sri Dismayanti menambahkan, program tahfidz bukanlah yang utama di ponpes tersebut. Dalam pengasuhan santri, pondok mengutamakan adab dan pemberdayaan, dengan motto “Santri PADI, Berhati Lembut, Bermental Baja”. 

“Namun kecintaan pada Al Quran menjadikan Baim tetap serius mencapai cita-citanya menjadi penghafal Al Quran. Semoga kelak Baim bisa berperan dalam dakwah Islam,” kata Sri Dismayanti yang juga mengabdikan diri sebagai guru dan tiap Subuh sering memberi ta’lim pada santri Ponpes Al Quran Darul Inqilabi Lubukbasung. (PUTRA SUSANTO —Agam)

Editor : Novitri Selvia
#ibrahim #Ponpes Al Quran Darul Inqilabi Lubukbasung #Program Hafizh Indonesia #Lubukbasung