“Kalau di rumah, makannya dua kali sehari, itu pun sedikit. Lauknya paling sayur sawi bening, tempe, atau ikan,” tutur Alfi saat ditemui di Bekasi pekan ini.
Gadis itu bercerita, makanan yang terbatas di rumahnya kerap harus dibagi dengan ayah, ibu, kakak, dan adik perempuannya yang masih duduk di kelas dua SD.
Kini, di asrama Sekolah Rakyat, hidup Alfi jauh lebih baik. Ia bukan hanya makan cukup, tapi juga bisa belajar dengan tenang dan memiliki semangat baru untuk menatap masa depan.
“Alfi sekarang punya harapan untuk menggapai cita-cita dan semoga bisa mengubah kehidupan keluarga ke depan. Terima kasih, Bapak Presiden Prabowo. Di sini, Alfi akan berjuang dan belajar sungguh-sungguh,” ujarnya penuh semangat.
Alfi merupakan anak dari pasangan pemulung yang bekerja di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi. Sejak kecil, ia membantu orang tuanya memilah sampah plastik dan botol untuk dijual. Meski hidup di tengah keterbatasan, Alfi bertekad untuk mengangkat martabat keluarganya lewat pendidikan.
“Alfi akan berjuang untuk emak dan bapak. Supaya bapak dan ibu bisa lihat Alfi pakai seragam Polwan atau bisa kuliah setinggi-tingginya,” katanya.
Cita-citanya sederhana namun penuh makna. Ia ingin menjadi polisi wanita (Polwan) atau prajurit wanita (Kowad). “Saya mau jadi Polwan pertama di keluarga saya,” ucapnya tegas.
Keinginannya untuk terus sekolah semakin kuat setelah melihat kakaknya terpaksa berhenti belajar di kelas 6 SD dan kini membantu orang tua memulung di TPST Bantar Gebang.
Sekolah Rakyat ini bertujuan memberikan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Diluncurkan pada 14 Juli 2025,
Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto menyediakan pendidikan gratis berasrama setara SD, SMP, dan SMA. Seluruh biaya pendidikan, kebutuhan sekolah, serta makan ditanggung pemerintah.
Di SRMA 13 Bekasi, Alfi tinggal bersama ratusan siswa lainnya dari berbagai daerah. Mereka mendapat pembinaan karakter, keterampilan, dan pendidikan formal agar mampu memutus rantai kemiskinan di keluarga masing-masing.
Sebelum masuk Sekolah Rakyat, Alfi menempuh pendidikan di PKBM Al Falah, Sumur Batu — sebuah yayasan yang memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak pemulung, dari tingkat PAUD hingga Paket C.
Keluarga Alfi tinggal di rumah bedeng dekat TPST Bantar Gebang. Dindingnya terbuat dari triplek bekas, lantainya masih tanah, dan sebagian tertutup spanduk usang untuk menahan angin.
Saat hujan, air sering menetes dari atap yang bocor. Di lingkungan itulah Alfi tumbuh dan belajar menghadapi kerasnya hidup.
Kini, di Sekolah Rakyat, ia memulai babak baru. Alfi bukan hanya menikmati makanan bergizi setiap hari, tapi juga menatap masa depan dengan optimisme. Ia berjanji untuk terus belajar agar suatu hari nanti bisa membanggakan kedua orang tuanya dan menjadi teladan bagi anak-anak lain di Bantar Gebang.(*)
Editor : Heri Sugiarto