PADEK.JAWAPOS.COM-Pagi di Nagari Lubuk Karak, Kecamatan Sembilan Koto, selalu dimulai dengan suara alam. Deru arus sungai yang membelah nagari menjadi alarm alami bagi warga.
Bagi sebagian anak-anak di nagari yang berada di Kabupaten Dharmasraya ini, sungai bukan sekadar bentang alam.
Ia adalah rintangan pertama yang harus ditaklukkan setiap hari demi satu kata bernama sekolah. Sungai itu menjadi satu-satunya akses, meski keselamatan harus dipertaruhkan.
Baca Juga: Bank Dunia Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi RI 5 Persen di 2026
Setidaknya ada tiga titik sungai yang harus diseberangi anak-anak Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar, masing-masing warga Jorong Sungai Kapur menuju Jorong Siraho, serta anak-anak dari Siraho menuju Lubuk Karak.
Dengan tas di punggung, sepatu dilepas agar tidak basah, dan rok sekolah disingsingkan hingga lutut, anak-anak itu melangkah pelan menembus arus. Pegangan tangan mereka erat. Wajah-wajah kecil itu menyimpan ketegangan yang sulit disembunyikan.
Saat hujan turun semalam, arus sungai berubah liar dan tidak ada pilihan lain selain meliburkan diri dari sekolah. Pendidikan anak-anak pun kerap kalah oleh ketiadaan infrastruktur.
Baca Juga: Polres Limapuluh Kota Selidiki Dugaan PETI di Batang Kampar Galugua
Di tepi sungai, orang tua hanya bisa menatap sambil memanjatkan doa dalam diam. Kekhawatiran menjadi bagian dari rutinitas, sebagaimana sarapan pagi.
“Kami takut, tapi lebih takut lagi kalau anak-anak tidak sekolah,” begitu ungkapan yang kerap terdengar dari warga.
Jika air sungai hanya setinggi lutut, anak-anak masih bisa menyeberang sendiri dengan pengawasan orang tua.
Baca Juga: Pengamanan Nataru di Padang Dimantapkan, Operasi Lilin Singgalang Digelar 14 Hari
Namun, ketika air mulai dalam, orang tua menggendong anak-anak mereka menuju sekolah, menunggu hingga jam belajar selesai, lalu kembali menggendong mereka pulang menyeberangi sungai. Rutinitas itu berulang dari hari ke hari.
Nagari Lubuk Karak dengan 407 kepala keluarga hanya memiliki akses jalan darat berupa tanah merah. Saat hujan, jalur itu berubah menjadi kubangan panjang yang tak bisa dilalui kendaraan biasa.
Jika ada warga sakit, perjalanan menuju fasilitas kesehatan bisa memakan waktu berjam-jam. Keterisolasian semakin terasa saat senja tiba. Sinyal telekomunikasi nyaris tak bersahabat.
Baca Juga: JKA Lantik Pejabat Tinggi Padangpariaman, Tekankan Kepemimpinan Humanis dan Totalitas
Ponsel hanya menangkap jaringan di titik-titik tertentu dan itupun tidak stabil. Sebagian warga mulai memanfaatkan wifi dan Starlink, namun harapan akan kehadiran tower telekomunikasi tetap besar.
Meski demikian, kehidupan di Lubuk Karak tak pernah benar-benar sunyi dari harapan. Warga tetap bekerja di ladang dan kebun.
Bertani, menyadap karet, dan mengelola hasil alam menjadi cara bertahan hidup. Gotong royong bukan sekadar budaya, melainkan kebutuhan. Saat satu rumah kesulitan, seluruh nagari ikut merasakan.
Baca Juga: HUT ke-26 DWP Dharmasraya, Bupati Annisa Dorong Transformasi Organisasi Perempuan
Para orang tua menggantungkan harapan besar pada pendidikan. Mereka percaya, meski jalan berlumpur dan sungai harus diseberangi, anak-anak mereka kelak bisa hidup lebih baik.
Pendidikan menjadi cahaya kecil yang terus dijaga agar tidak padam, meski angin keterbatasan berembus kencang. Lubuk Karak bukan sekadar wilayah di peta Kabupaten Dharmasraya.
Ia adalah kisah tentang ketabahan dan mimpi-mimpi kecil yang menolak tenggelam di arus sungai dan lumpur jalanan.
Baca Juga: Kisah Pensiunan PNS Bangun Usaha Rotan: Buka Lapangan Kerja, Tembus Pasar Internasional
Di tengah gencarnya pembangunan yang terus digaungkan, nagari ini masih menunggu uluran tangan nyata: jalan yang layak, jembatan yang aman, dan sinyal yang menghubungkan mereka dengan masa depan.
Sebab bagi anak-anak Lubuk Karak, pembangunan bukanlah janji besar. Ia sesederhana jembatan agar mereka bisa bersekolah tanpa rasa takut.
Menurut Wali Nagari Lubuk Karak, Apridoni, setidaknya ada tiga jorong dalam kondisi memprihatinkan, yakni Jorong Singgolan, Siraho, dan Sungai Kapur. Sejak perkampungan itu ada hingga hari ini, jembatan yang menghubungkan antarjorong masih sebatas harapan.
Baca Juga: Kisah Pensiunan PNS Bangun Usaha Rotan: Buka Lapangan Kerja, Tembus Pasar Internasional
“Walau Indonesia sudah merdeka, Nagari Lubuk Karak belum merasakan kemerdekaan dalam arti yang sesungguhnya. Saat hujan, kendaraan tak bisa melintas, hasil kebun sulit dibawa keluar, dan aktivitas ekonomi nyaris lumpuh,” ujarnya.
Apridoni menyebutkan, jalan beraspal di nagari itu hanya sekitar satu kilometer. Selebihnya berupa jalan tanah dan jembatan darurat.
“Impian terbesar kami adalah pembangunan jembatan beton di Lubuk Karak agar seluruh jorong terhubung. Di samping itu juga harus ada jembatan gantung. Kalau itu terealisasi, nagari akan berkembang, perekonomian meningkat, dan tidak ada lagi cerita sedih anak-anak menyeberang sungai untuk sekolah. Pembangunan jembatan bukan lagi kebutuhan sekunder, melainkan kebutuhan mendesak,” ucapnya.
Baca Juga: Harga Telur Ayam Ras di Pasar Raya Padang Naik Jelang Nataru, Pedagang Harap Intervensi Pemerintah
Yang paling memprihatinkan, kata Apridoni, adalah anak-anak di Jorong Siraho yang harus menyeberangi sungai di tiga titik untuk mencapai sekolah TK dan SD di Jorong Sungai Kapur.
Persoalan tak berhenti di sana. Untuk melanjutkan pendidikan ke SMP, anak-anak harus bersekolah ke Nagari Silago karena Lubuk Karak tidak memiliki SMP.
Saat cuaca ekstrem dan jembatan tak tersedia, mereka terpaksa memutar lewat Ampang Kuranji dengan tambahan jarak tempuh 11 kilometer.
Baca Juga: Biaya Bibit Tinggi dan Cuaca Hujan Tekan Petani Bawang Merah, Harga Jual Masih Fluktuatif
“Jembatan ini sangat penting. Anak-anak sekolah terhambat, ekonomi masyarakat terganggu. Jalan kami masih tanah, berlumpur, dan sulit dilalui. Ini sudah terlalu lama,” tegasnya.
Hingga kini, sungai tetap menjadi penghalang utama masa depan anak-anak Lubuk Karak.
Setiap hari tanpa jembatan adalah pengulangan risiko yang sama. Pendidikan tertunda, ekonomi terhambat, dan keselamatan anak-anak dipertaruhkan.
Baca Juga: KPID Sumbar Gelar Literasi Media di UNU, Ajak Mahasiswa Jaga Ruang Siar Sehat
“Intinya harapan kami realisasi pembangunan jembatan beton Sungai Batang Momong, termasuk pengerasan jalan Lubuk Karak ke Jorong Singgolan. Kalau bisa diaspal. Alhamdulillah, Ibu Bupati sudah menyampaikan solusi cepat dengan mendorong pengerasan jalan dan jembatan gantung Siraho–Sungai Kapur,” tuturnya.
Harapan itu menguat saat Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani berkunjung ke Lubuk Karak beberapa hari lalu bersama Indonesian Offroad Federation.
Kunjungan tersebut mengungkap berbagai persoalan, mulai dari kawasan hulu sungai yang tutupan hutannya mulai disalahgunakan, wilayah terisolir yang tak bisa dilalui kendaraan biasa, hingga anak-anak yang masih harus menyeberangi sungai menuju sekolah.
Baca Juga: Wali Kota Padang Apresiasi Muhammadiyah Selalu Cepat Hadir Bantu Masyarakat Terdampak Bencana
Keterbatasan sinyal seluler turut memperparah kondisi. Terkait infrastruktur, Annisa menyebutkan akses jalan Simpang Ampang Kuranji–Siraho–Sungai Kapur–Jalan TMMD hingga Lubuk Karak akan diupayakan pengerasannya dan diusulkan melalui program Inpres Jalan Daerah.
“Kita tidak ingin lagi ada pelajar yang harus menyeberangi sungai untuk menuju sekolah. Pemerintah daerah akan mengusulkan pembangunan satu unit jembatan gantung tambahan demi meningkatkan keselamatan anak-anak. Pemerintah Kabupaten Dharmasraya akan memprioritaskan pembangunan jalan dan jembatan gantung,” tegasnya.
Soal sinyal seluler, Pemkab Dharmasraya juga akan mengusulkan peningkatan layanan telekomunikasi kepada PT Telkomsel. Sementara untuk kelestarian lingkungan, Annisa menekankan pemanfaatan hutan harus sesuai nilai pelestarian.
Baca Juga: Biaya Bibit Tinggi dan Cuaca Hujan Tekan Petani Bawang Merah, Harga Jual Masih Fluktuatif
“Salah satu langkahnya adalah menyediakan bibit kopi gratis untuk 2.000 hektare bekerja sama dengan Kementerian Pertanian. Kopi bisa ditanam di bawah tegakan hutan tanpa menebang pohon. Pemerintah daerah siap membantu pengembangan kopi di Lubuk Karak selama prinsip pelestarian hutan dijaga,” ujar Annisa.
Di Lubuk Karak, mimpi-mimpi kecil masih berdiri di tepi sungai. Menunggu jembatan, menunggu jalan, menunggu masa depan yang tak lagi harus ditempuh dengan rasa takut.(Zulfia Anita-Dharmasraya)