PADEK.JAWAPOS.COM--Manhorse, grup musik asal Padang yang konsisten mengusung perpaduan desert rock dan garage rock sejak proses awal pembentukannya pada 2017.
Band ini digawangi oleh Giovinn (Vokal/Gitar), Pandu (Gitar/Backing Vocal), Zikri (Bass), dan Harris (Drum). Dalam penampilan panggung, Manhorse juga diperkuat Dzaky sebagai gitaris tambahan yang direncanakan menjadi personel tetap kelima.
Berawal dari Staircase, Lahir jadi Manhorse
Cikal bakal Manhorse berasal dari dua personel inti, Giovinn dan Pandu, yang sebelumnya tergabung dalam band bernama Staircase.
Baca Juga: Benahi Tata Kelola, Bentuk Gugus Tugas
Setelah memutuskan melanjutkan proyek musik dengan arah baru, mereka mencari drummer dan menemukan Harris, yang hingga kini tetap menjadi bagian penting band.
Nama Manhorse sendiri mulai lahir pada fase tersebut, meski belum dipublikasikan secara luas. Perjalanan mereka tidak sepenuhnya mulus. Pada 2019, Manhorse sempat kehilangan rekan mereka, almarhum Dovandri Dilon, yang pernah membantu di posisi bass.
Kemudian, Zikri yang pulang dari perantauan bergabung dan mengisi posisi bassist hingga sekarang. Tahun 2020 menjadi debut panggung resmi Manhorse dalam acara perpisahan venue Menace Space di Padang.
Baca Juga: Desa Wisata Kotogadang kian Bersinar, Harmoni Tradisi dan Ekonomi Kreatif
Nama Unik dari Istilah Tongkrongan
Giovinn mengungkapkan, nama Manhorse bukan berasal dari makna filosofis tertentu, melainkan terinspirasi dari istilah tongkrongan “Menhor” yang kemudian dimodifikasi.
“Tanpa sadar saya teringat kata itu, lalu menambahkan satu huruf agar lebih unik,” jelas Giovinn.
Usung Desert Rock dan Garage Rock
Meski awalnya banyak bereksperimen melalui sesi jamming dan membawakan berbagai referensi musik, Manhorse akhirnya menemukan identitas musikal mereka di jalur rock.
Band-band seperti Arctic Monkeys, The Strokes, Queens of the Stone Age, dan King Gizzard & the Lizard Wizard, menjadi fondasi kuat pembentukan karakter musik mereka.
“Queens of the Stone Age menjadi referensi utama kami untuk menghadirkan nuansa rock vintage namun tetap modern,” ujar mereka.
Dua Single dan Album Perdana
Sejak berdiri, Manhorse telah merilis dua single utama, yakni Analog City (2022) dan Go (2026). Setelah empat tahun jeda dari rilisan, Manhorse kini bersiap merilis album perdana bertajuk Joyless Joyride pada 22 Mei 2026 di seluruh platform digital. Album ini akan memuat 10 lagu dan menjadi tonggak penting perjalanan musikal mereka.
Showcase Album di Padang
Untuk merayakan peluncuran album, Manhorse juga akan menggelar showcase khusus pada 31 Mei 2026 di Le Lucon Café Sawahan, Padang.
Di sisi lain, Manhorse secara terbuka menyoroti persoalan klasik yang masih dihadapi banyak musisi independen di Sumatera Barat, terutama terkait transparansi biaya dan minimnya penghargaan terhadap karya orisinal.
Baca Juga: Nama Kecamatan Berubah, Data Warga Disesuaikan
“Musisi yang membawakan lagu sendiri sering kali mendapat fee lebih kecil dibanding band cover,” ungkap mereka.
Meski begitu, mereka melihat perkembangan gigs independen di Sumbar semakin dewasa dengan banyaknya ruang kreatif di berbagai kota seperti Padang, Bukittinggi, Payakumbuh, Padangpanjang, Solok, dan Batusangkar.
Platform Digital jadi Senjata Penting
Bagi Manhorse, platform digital kini menjadi alat vital bagi musisi independen untuk menembus pasar nasional hingga internasional.
Baca Juga: Kwarcab 0302 Solok Umumkan 64 Peserta Lolos Seleksi Jambore Nasional 2026
Namun mereka menegaskan, kualitas karya tetap menjadi faktor utama. “Percuma branding besar kalau musiknya tidak punya isi,” tegas mereka.
Terakhir, Manhorse berharap pemerintah dapat lebih serius membangun infrastruktur industri musik di Sumatera Barat, termasuk penyediaan toko musik yang layak serta dukungan konkret terhadap ekosistem kreatif lokal.
Dengan album baru, identitas musik yang kuat, dan konsistensi berkarya, Manhorse menjadi salah satu representasi penting kebangkitan rock alternatif Sumbar. (adt)
Editor : Adetio Purtama