Wafaq, band hardcore punk asal Sumatera Barat (Sumbar) tidak hanya menjadikan musik sebagai medium hiburan, tetapi juga sebagai ruang untuk menyampaikan kritik sosial, isu kemanusiaan, hingga perlawanan terhadap berbagai bentuk ketidakadilan yang terjadi di dunia. Seperti apa kisahnya?
Laporan ADETIO PURTAMA, Padang--
Band yang kini digawangi oleh Ghoul (vokal), Obayda (drum), dan Syaitonirojeem (gitar) ini terbentuk pada Februari 2024. Awalnya, Wafaq lahir dari obrolan sederhana antara Ghoul dan Syaitonirojeem di tempat kerja mereka.
Keduanya saling bertukar cerita tentang keresahan terhadap berbagai peristiwa yang terjadi saat itu. Akumulasi kemuakan terhadap kondisi sosial yang mereka lihat sehari-hari kemudian mendorong lahirnya sebuah band.
Baca Juga: Waspadai Penipuan Lowongan Kerja Online
Pada konsep awal, Wafaq dirancang sebagai band dengan nuansa garage punk dan punk era 1980-an yang cenderung lebih santai dalam penyampaian materi. Namun, situasi sosial dan berbagai isu kemanusiaan yang terus terjadi membuat arah musikalitas mereka berubah.
"Kami merasa sangat mubazir jika hardcore punk hanya digunakan untuk bersenang-senang. Ada banyak isu seperti genosida, perampasan ruang hidup, dan ketidakadilan yang disajikan dunia setiap harinya. Karena itu kami memilih menjadikan Wafaq lebih serius dalam konsep, materi, dan musikalitas," kata personel Wafaq kepada Padang Ekspres.
Sarkasme di Balik Nama Wafaq
Nama Wafaq sendiri berasal dari bahasa Arab yang secara umum berarti kesesuaian, keselarasan, atau harmoni. Namun, band ini justru memaknainya secara berbeda.
Baca Juga: Rumah Permanen di Tanahdatar Hangus Terbakar Dini Hari, Kerugian Capai Rp600 Juta
Bagi mereka, Wafaq menjadi bentuk sarkasme terhadap individu maupun kelompok yang terus mencari cara untuk memenangkan kepentingan pribadi dengan mengorbankan nilai, etika, dan kepentingan orang lain.
Pemaknaan tersebut lahir dari tema-tema yang mereka angkat dalam lirik lagu, mulai dari ketimpangan sosial, kemunafikan, penyalahgunaan kekuasaan, hingga kecenderungan manusia yang lebih mengutamakan keuntungan pribadi dibanding kepentingan bersama.
"Dalam konteks itu, kata Wafaq kami gunakan sebagai ironi terhadap praktik-praktik yang tampak selaras dan benar di permukaan, tetapi sebenarnya hanya menguntungkan segelintir pihak," jelas mereka.
Hardcore Punk sebagai Cara Pandang Hidup
Secara musikal, hardcore punk menjadi pondasi utama Wafaq, bukan hanya dari sisi musik, tetapi juga dalam cara mereka memandang kehidupan.
Dari akar hardcore punk tersebut, mereka kemudian menggabungkan berbagai elemen musik lain seperti agresivitas death metal, atmosfer gelap black metal, hingga tekanan khas sludge metal.
Keunikan lain hadir melalui penggunaan pola riff, melodi, serta ketukan bernuansa Timur Tengah yang menjadi warna tersendiri dalam komposisi mereka.
Baca Juga: Lawan Ancaman Galodo, 1.000 Pohon Karet Ditanam
"Seluruh elemen itu kami leburkan menjadi satu kesatuan yang terus berevolusi. Kami tidak pernah membatasi diri pada satu genre tertentu. Selama unsur musik tersebut mampu memperkuat karakter dan pesan yang ingin disampaikan, kami terbuka untuk menggunakannya," ujar mereka.
Menyembunyikan Identitas, Menonjolkan Pesan
Di tengah era ketika banyak musisi menjual identitas personal melalui media sosial, Wafaq memilih jalan berbeda dengan mempertahankan kesamaran identitas visual.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. "Kami ingin fokus utama tetap pada pesan dan karya yang kami bawa, bukan individu di baliknya. Bagi kami, yang penting bukan siapa yang berbicara, tetapi apa yang ingin disampaikan," ungkap mereka.
Baca Juga: UIN Imam Bonjol Gali Potensi Paninggahan untuk KKN ke-52
Terinspirasi Gerakan Harami Punk
Secara personal, setiap anggota memiliki referensi musik yang berbeda-beda. Namun secara konsep, Wafaq banyak terinspirasi oleh gerakan Harami Punk atau Harami Hardcore.
Menurut mereka, Harami Punk bukanlah genre musik baru, melainkan gerakan kultural yang berkembang dalam komunitas hardcore punk global.
Gerakan tersebut melakukan reklamasi terhadap istilah "harami", yang semula bermakna negatif, menjadi simbol perlawanan. "Mereka bangga disebut Harami karena menolak tunduk pada dua kutub. Itu yang menginspirasi kami secara konsep," jelas mereka.
Baca Juga: Forwana Muswil IV dan Raker, Perkuat Sinergi Nagari
Produktif dalam Dua Tahun Berkarya
Meski baru berusia dua tahun, Wafaq telah menghasilkan sejumlah rilisan. Pada 2024, mereka merilis EP bertajuk Liberation Corpse yang berisi lima lagu. Setahun kemudian, mereka merilis album penuh Reconciliation Philanthropy yang memuat sembilan lagu.
Selain itu, mereka juga terlibat dalam berbagai album kompilasi internasional maupun nasional, seperti Anti-Pode Vol. 1 dari Turki, Under The Blade Of A Zionist Nightmare Volume III dari Girona, Spanyol, serta Kontra Genosida: Indonesian Hardcore Punk Compilation For Palestine.
Materi yang mereka angkat lahir melalui proses riset mendalam dari berbagai sumber. "Kami melakukan riset dari kisah-kisah nyata, artikel, dan buku-buku yang kami baca. Setelah itu kami mengemas ulang dengan cara kami sendiri tanpa mengurangi esensi dari kisah tersebut," ujar mereka.
Baca Juga: Tokoh Muda Kapalokoto Tekankan Kriteria Ideal Wali Nagari di Era Digital
Konsisten Mengangkat Isu Palestina
Sejak awal berdiri, Wafaq secara terbuka menyuarakan dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina.
Bahkan, EP maupun album penuh mereka banyak terinspirasi dari kisah Intifada, yaitu gerakan perlawanan rakyat Palestina terhadap pendudukan Zionis.
"Kami ingin menunjukkan bahwa bukan hanya Palestina yang menderita. Banyak wilayah lain di dunia, termasuk di Indonesia, yang mengalami persoalan serupa berupa ketidakadilan dan perampasan hak," kata mereka.
Mereka juga mengaku sangat selektif dalam memilih platform distribusi digital.
Menurut Wafaq, sebagian platform digital dianggap tidak berpihak kepada musisi independen, bahkan beberapa di antaranya dinilai memiliki keterkaitan dengan gerakan Zionis.
Baca Juga: UiTM Malaysia dan UBH Perkuat Mitigasi Bencana di Panampuang
Karena alasan tersebut, mereka hanya menggunakan Bandcamp sebagai sarana distribusi musik digital.
Menembus 23 Kota di Empat Pulau Dalam kurun waktu dua tahun, Wafaq telah tampil di 23 kota yang tersebar di 10 provinsi dan empat pulau di Indonesia.
Beberapa kota yang pernah mereka singgahi antara lain Padang, Bukittinggi, Payakumbuh, Bangkinang, Palembang, Tangerang, Bogor, Jakarta, Bandung, Depok, Cirebon, Solo, Yogyakarta, Kediri, Surabaya, Banyuwangi, Denpasar, hingga Makassar.
Mulai dari tiket pertunjukan yang habis terjual jauh sebelum acara berlangsung, insiden amplifier terbakar di atas panggung, penonton yang begitu antusias hingga menyebabkan pagar jebol, sampai pengalaman unik ketika penonton masuk ke area persawahan saat pertunjukan berlangsung.
Baca Juga: Prasekolah Periode Penting Bentuk Perilaku Sehat, Unand Kenalkan Belajar Pilih Jajanan via Bermain
Meskipun telah menjangkau berbagai wilayah di Indonesia, Wafaq mengaku masih menghadapi sejumlah tantangan. Menurut mereka, salah satu kendala terbesar berasal dari persoalan geografis dan berbagai kebijakan domestik yang dinilai menyulitkan mobilitas.
"Kami tidak menyebut Padang sebagai kota terpencil. Namun kebijakan domestik sering kali mempersulit. Menurut kami, bukan hanya kami yang merasakannya, tetapi banyak orang lain juga," ujar mereka.
Pentingnya Mendukung Rilisan Fisik
Di tengah dominasi platform digital, Wafaq menilai rilisan fisik seperti kaset, CD, piringan hitam, dan merchandise masih sangat relevan untuk dikembangkan.
Menurut mereka, sistem royalti platform digital saat ini belum mampu memberikan pendapatan yang layak bagi banyak musisi independen.
Selain memberikan keuntungan ekonomi yang lebih besar bagi musisi, rilisan fisik juga menciptakan hubungan yang lebih personal antara musisi dan pendengarnya.
Lebih jauh, ekosistem rilisan fisik turut menghidupi berbagai profesi lain, mulai dari ilustrator, desainer grafis, fotografer, percetakan, hingga distributor dan toko musik independen. "Mendukung rilisan fisik bukan sekadar nostalgia, tetapi upaya membangun ekosistem musik yang lebih berkelanjutan dan adil," kata mereka.
Baca Juga: Pembangunan Infrastruktur Butuh Penguasaan Teknologi dan SDM
Tetap Bertumbuh Bersama Komunitas
Saat ini, Wafaq mengaku lebih nyaman tampil di ruang-ruang komunitas dan acara independen yang diselenggarakan secara mandiri. Ruang tersebut dianggap memberikan kebebasan dalam berkarya sekaligus memungkinkan interaksi yang lebih dekat dengan audiens.
Optimisme untuk Skena Musik Padang
Wafaq menilai skena musik Padang terus menunjukkan perkembangan positif. Mereka melihat banyak band lokal yang memiliki identitas kuat, keberanian bereksperimen, serta konsep yang menarik.
Menurut mereka, hal tersebut menjadi modal penting agar skena musik Sumatera Barat mampu berkembang lebih luas hingga tingkat nasional maupun internasional. Ketika ditanya mengenai cara menembus pasar musik nasional, Wafaq mengaku tidak memiliki formula pasti.
Baca Juga: Pembangunan Infrastruktur Butuh Penguasaan Teknologi dan SDM
Namun mereka percaya bahwa konsistensi dan kejujuran terhadap diri sendiri menjadi kunci utama. Ke depan, Wafaq berharap ekosistem musik Sumatera Barat dapat tumbuh secara sehat, inklusif, dan berkelanjutan. Mereka juga berharap semakin banyak ruang bagi musisi independen untuk berkarya tanpa harus meninggalkan identitas dan nilai yang mereka yakini.
Di tengah berbagai aktivitas tersebut, Wafaq mengungkapkan bahwa mereka tengah mempersiapkan materi baru. Meski belum bersedia membocorkan detail proyek tersebut, mereka memberikan sedikit petunjuk.
"Untuk saat ini kami sedang menggarap materi baru. Produknya masih dalam proses pengembangan dan riset, antara EP atau LP. Yang jelas, something big is coming," tutup mereka. (*)
Editor : Adetio Purtama