Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Rachmat Pambudy: Sawit Jadi Pilar Utama Wujudkan Indonesia Emas 2045

Hendra Efison • Sabtu, 15 November 2025 | 19:05 WIB

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy. (Mifta/Radar Bali)
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy. (Mifta/Radar Bali)
PADEK.JAWAPOS.COM—Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menegaskan bahwa kelapa sawit akan tetap menjadi salah satu sektor strategis dalam transformasi ekonomi menuju Indonesia Emas 2045.

Pesan itu ia sampaikan saat membuka The 21st Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) and 2026 Price Outlook di Nusa Dua, Bali.

Rachmat menyebut sawit bukan sekadar komoditas, melainkan fondasi pembangunan nasional. “Kelapa sawit bukan hanya komoditas. Sawit adalah jembatan persahabatan, perdamaian, dan kemanusiaan,” ujarnya, Jumat (14/11/2025).

Sawit sebagai solusi global

Menurut Rachmat, dunia kini menghadapi ketidakpastian geopolitik, perubahan iklim, serta meningkatnya kebutuhan pangan dan energi.

Dalam situasi tersebut, Indonesia memposisikan sawit sebagai bagian dari solusi global berkat kontribusinya terhadap ketahanan pangan, energi terbarukan, dan kebutuhan industri sehari-hari.

Ia menekankan keberhasilan industri sawit tidak hanya diukur dari volume produksi, tetapi dari pengelolaan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan sesuai prinsip Sustainable Development Goals (SDGs). Indonesia, katanya, berkomitmen menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

Motor pembangunan pedesaan

Rachmat menjelaskan, sawit selama ini telah mendorong pembangunan pedesaan, menyediakan jutaan lapangan kerja, serta menjadi tulang punggung industri hilir seperti biofuel, oleokimia, hingga material industri hijau.

Peran strategis ini, menurutnya, penting dalam percepatan transisi menuju ekonomi rendah karbon.

“Kelapa sawit adalah contoh transformasi berkelanjutan. Sawit membuka lapangan kerja hijau, mengurangi kemiskinan, dan mempercepat peralihan dari energi fosil,” katanya.

Petani jadi pusat agenda pembangunan

Ia menegaskan pemerintah menempatkan petani kecil sebagai subjek utama dalam kebijakan pembangunan sawit.

Keadilan bagi smallholders, pekerja kebun, serta keluarganya disebut sebagai syarat penting bagi keberlanjutan industri.

Sejumlah langkah yang didorong Bappenas meliputi percepatan peremajaan kebun rakyat, pembiayaan modernisasi petani, digitalisasi rantai pasok melalui traceability, reformasi regulasi, hingga penguatan sertifikasi ISPO.

Hilirisasi dan penguatan energi hijau

Rachmat juga menyoroti pentingnya hilirisasi bernilai tambah tinggi, termasuk pengembangan sustainable aviation fuel (SAF) dan material biodegradable.

Penguatan hilirisasi dinilai krusial demi ketahanan energi sekaligus meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Filosofi Tri Hita Karana sebagai dasar tata kelola

Dalam forum internasional itu, ia menyinggung filosofi lokal Bali, Tri Hita Karana—harmoni dengan Tuhan, manusia, dan alam—sebagai nilai yang menginspirasi tata kelola sawit Indonesia.

Menurutnya, prinsip tersebut relevan untuk mendorong industri sawit yang inklusif, etis, dan berkeadilan.

Indonesia lawan diskriminasi sawit

Rachmat menegaskan bahwa Indonesia tetap aktif melawan hambatan dagang dan kampanye negatif terhadap sawit.

Ia mengutip kemenangan Indonesia di WTO sebagai bukti bahwa praktik perdagangan sawit nasional memenuhi standar keberlanjutan internasional.

“Ini menunjukkan bahwa keadilan dan fair play masih mungkin diperjuangkan ketika kita berbicara berdasarkan bukti,” ujarnya.

Ia menutup pidatonya dengan ajakan kolaborasi lintas pemangku kepentingan—pemerintah, pelaku industri, petani, hingga mitra internasional—untuk memperkuat peran sawit sebagai penggerak pertumbuhan dan kerja sama global.(*)

Editor : Hendra Efison
#Menteri PPN #Kepala Bappenas #IPOC 2025 #Rachmat Pambudy #Ketahanan Pangan dan Energi Nasional