PADEK.JAWAPOS.COM-Kamis, tepatnya pada 26 Juni 2024 lalu, saya berkesempatan mengikuti webinar yang menggugah dari Perpustakaan Nasional RI, bertajuk “Kerja Bahagia Lewat Literasi: Menjaga Kesehatan Mental di Era Informasi.”
Sebuah tema yang bukan hanya relevan, tapi sangat mendesak untuk dibahas di tengah meningkatnya tekanan mental akibat gaya hidup digital yang tanpa jeda.
Webinar ini menghadirkan para pelatih literasi, Tantawi, Fatwa, Asti, dan moderator Yudhi yang mengajak peserta menyadari bahwa literasi bukan hanya alat untuk cerdas secara intelektual, tapi juga sarana penyembuhan sosial dan psikologis.
Kesehatan mental kini telah menjadi perhatian global. Data dari World Health Organization (WHO, 2023) menunjukkan bahwa 1 dari 4 orang mengalami gangguan mental di sepanjang hidupnya.
Sementara di Indonesia, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menyatakan bahwa 9,8 persen penduduk mengalami gangguan mental emosional, angka yang diperkirakan meningkat pasca pandemi.
Di saat yang sama, UNESCO menyebut bahwa tingkat literasi fungsional remaja Indonesia masih tergolong rendah, terutama dalam kemampuan memahami informasi dan berpikir kritis terhadap konten digital.
Dalam konteks ini, literasi menjadi tidak lagi sekadar soal “kemampuan membaca dan menulis”, tetapi menjadi alat berpikir, refleksi, dan ketahanan batin.
Literasi adalah proses memahami, memilah, dan mengelola informasi, yang pada akhirnya membantu kita merawat kewarasan di tengah banjir notifikasi, tuntutan sosial media, dan budaya kerja yang kian tak kenal waktu.
Webinar ini juga memperkuat posisi bahwa literasi adalah bagian dari hak dasar setiap warga negara, sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 28C UUD 1945, dan diperkuat melalui Perpres No. 18 Tahun 2020 tentang RPJMN 2020–2024 yang menempatkan penguatan budaya literasi sebagai agenda prioritas pembangunan manusia Indonesia.
Lebih jauh, literasi kini juga menjadi elemen utama dalam penguatan Profil Pelajar Pancasila, sebagaimana tertuang dalam Permendikbud No. 16 Tahun 2022 yang menegaskan bahwa siswa harus dibentuk menjadi pembelajar sepanjang hayat, kreatif, kritis, dan beriman.
Sebagai guru Biologi di madrasah unggulan, saya merasakan langsung bahwa tekanan mental tidak hanya dirasakan oleh guru, tetapi juga siswa. Tantangan administratif, kompetisi akademik, hingga ekspetasi sosial kerap membuat ruang berpikir reflektif menjadi sempit.
Dalam situasi ini, membaca menjadi oase yang menyegarkan. Buku, artikel, atau bahkan jurnal ilmiah bisa menjadi ruang hening tempat kita menyusun ulang kepingan-kepingan psikologis yang berserakan.
Melalui kegiatan literasi—baik individual maupun kolektif—kita memberi ruang jeda pada pikiran, mengatur ulang prioritas, dan meregulasi emosi. Inilah esensi dari literasi sebagai terapi sosial.
Sebuah bentuk perlawanan halus terhadap kelelahan eksistensial. Webinar ini memberikan inspirasi langsung untuk mengintegrasikan literasi sebagai bagian dari kebijakan sekolah dalam menjaga iklim psikologis.
Program seperti literasi pagi, klub baca, ruang refleksi menulis, dan terapi seni berbasis literasi bisa menjadi intervensi murah, ringan, namun berdampak dalam jangka panjang.
Tidak kalah penting adalah membangun ruang dialog yang aman, di mana guru dan siswa bisa berbicara tentang emosi, tekanan, dan makna belajar tanpa merasa dihakimi. Selain itu, negara perlu memperluas akses terhadap literasi berbasis kesejahteraan psikologis.
Perpustakaan sekolah, komunitas baca, dan TBM (Taman Bacaan Masyarakat) harus didukung bukan hanya dengan koleksi buku, tetapi juga dengan pelatihan penguatan literasi emosional dan literasi digital yang aman dan sehat.
Kesehatan mental adalah isu pendidikan dan literasi adalah salah satu jawabannya. Kita butuh ekosistem literasi yang tidak elitis, tapi membumi, terjangkau, akrab, dan menyentuh kebutuhan keseharian.
Webinar Perpusnas RI ini patut diapresiasi karena telah membuka ruang diskusi lintas profesi dan generasi. Ini seharusnya menjadi titik tolak kebijakan baru: bahwa menjaga mental bangsa tak bisa lagi ditunda.
Maka, mari jadikan literasi sebagai bentuk cinta diri, perawatan batin, dan investasi kesehatan mental kita.
Mulai dari satu halaman buku, satu kalimat reflektif, satu ruang diskusi, satu langkah kecil yang bisa mengubah cara kita hidup di tengah informasi yang bising dan dunia yang kadang terlalu cepat.(Dodi Saputra, S.Pd, GURU MAN INSAN CENDEKIA PADANGPARIAMAN)