PADEK.JAWAPOS.COM-Di era yang semakin sadar akan lingkungan, kita semua bisa berkontribusi untuk menjaga bumi tetap hijau. Salah satu cara sederhana adalah dengan memanfaatkan limbah rumah tangga menjadi sesuatu yang berguna, seperti pupuk cair organik.
Bayangkan saja, kulit buah-buahan yang biasanya dibuang bisa diubah menjadi pupuk yang menyuburkan tanaman. Semua ini sudah dipraktikkan di SD Negeri 28 Payakumbuh.
Dalam upaya mendukung program Sekolah Adiwiyata yang mengedepankan prinsip ramah lingkungan, pemanfaatan limbah organik menjadi solusi praktis dan berkelanjutan.
Salah satu inovasi yang diterapkan adalah pembuatan pupuk organik cair (POC) dari kulit buah-buahan yang dicampur dengan gula enau, air dan EM4 untuk pencampur bahan serta penghilang bau.
Selain ramah lingkungan, kegiatan ini juga seru, edukatif, dan mengajarkan murid-murid tentang daur ulang serta cinta alam dari kegiatan pembelajaran berbasis lingkungan.
Lebih menarik lagi, ini dilakukan bersama duta Adiwiyata dan utusan dari masing-masing kelas di sekolah, sebagai langkah nyata menuju predikat Sekolah Adiwiyata.
Pupuk cair organik adalah pupuk alami yang dibuat dari bahan-bahan organik, sehingga aman untuk tanah, air, dan tanaman. Manfaatnya banyak, diantaranya ialah meningkatkan kesuburan tanah, membantu tanaman tumbuh lebih sehat, dan mengurangi sampah organik yang mencemari lingkungan.
Kulit buah seperti pisang, nanas, mangga, atau apel sering kita buang begitu saja. Padahal, kulit-kulit ini kaya akan nutrisi yang bisa diolah menjadi pupuk cair untuk menyuburkan tanaman.
Ditambah dengan gula enau (atau gula merah), M4, proses fermentasi jadi lebih cepat dan hasilnya lebih berkualitas. Kegiatan pembuatan pupuk organik cair ini diawali dengan seluruh murid membawa kulit buah dan gula enau dari rumah, setelah itu dikumpulkan di tempat yang telah disediakan.
Langkah selanjutnya, kepala sekolah, Ibu Hj. Wisma Diandra, M. Pd memberikan ulasan dan informasi serta arahan tentang tujuan pembuatan serta manfaat pupuk organik cair.
Selanjutnya, Ibu Meri Sofiyanti, S. Pd, salah seorang seorang guru yang bertanggung jawab terhadap pembuatan pupuk organik cair juga menjelaskan cara-cara dan urutan langkah kerja pembuatan pupuk ini.
Duta adiwiyata dan murid-murid yang telah ditunjuk perkelas berkolaborasi bersama guru dalam proses pembuatan pupuk organik cair.
Kulit buah yang telah dibawa dipotong kecil-kecil untuk memudahkan fermentasi kemudian dimasukkan ke dalam wadah yang sudah disiapkan dicampur dengan gula enau dan EM4 untuk membantu mikroorganisme bekerja lebih cepat dalam menguraikan kulit buah dan yang juga ditambah dengan air.
Biasanya, setiap 50-60 ml EM4 digunakan untuk 1 kg bahan baku organik, atau dapat dilarutkan dalam air 1 : 50 (1 ml EM4 untuk 50 ml air). Setelah itu letakkan wadah di tempat yang sejuk. Proses fermentasi akan berlangsung dengan rentang waktu 14 sampai 21 hari.
Setelah sampai pada batas waktunya, akan keluarlah cairan yang hendaklah disaring terlebih dahulu dan dicampur dengan air sebelum dijadikan untuk memupuk tanaman.
Adapun takaran yang dianjurkan untuk pencampurannya adalah setiap menggunakan 20 ml POC maka airnya adalah 5 liter , atau 1 liter POC maka pencampurnya 100 liter air
Dari rangkaian kegiatan yang telah dilakukan, murid-murid merasa senang dan antusias karena mereka mempraktekkan langsung di lapangan.
Ini semua bukan hanya pengetahuan dan praktek membuat pupuk organik cair, tetapi juga menanamkan nilai-nilai Adiwiyata kepada murid, diantaranya ialah peduli lingkungan, cinta tanaman, dan kretativitas serta kerja sama.(Kiki Krisdianti S.Pd, GURU SDN 28 PAYAKUMBUH)
Editor : Novitri Selvia