Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

MA Negeri Kota Sawahlunto, Kiat Merawat Emosi: Menjaga Hati dan Lidah

Novitri Selvia • Selasa, 3 Maret 2026 | 06:00 WIB

Dafril, M.Pd.I, GURU MTSN 1 PADANG/ MAHASISWA PROGRAM DOKTORAL STUDY ISLAM UM SUMBAR. (TIM LAMAN GURU)
Dafril, M.Pd.I, GURU MTSN 1 PADANG/ MAHASISWA PROGRAM DOKTORAL STUDY ISLAM UM SUMBAR. (TIM LAMAN GURU)

PADEK.JAWAPOS.COM-Di tengah riuhnya dunia modern yang serba cepat, manusia semakin mudah terpancing emosi, namun semakin sulit mengelolanya.

Informasi bergerak dalam hitungan detik, opini bertebaran tanpa saringan, dan percakapan—baik luring maupun daring—kerap berubah menjadi arena pelampiasan amarah.

Dalam situasi demikian, kemampuan merawat emosi bukan lagi sekadar kecakapan pribadi, melainkan kebutuhan sosial yang mendesak.

Menjaga hati dan lidah menjadi fondasi etika peradaban.
Emosi: Anugerah Sekaligus Amanah

Dalam kajian psikologi modern, terutama melalui konsep Emotional Intelligence yang dipopulerkan oleh Daniel Goleman, emosi dipahami sebagai energi batin yang dapat menggerakkan manusia menuju keberhasilan atau sebaliknya menjerumuskannya pada kehancuran relasi.

Kecerdasan emosional meliputi kemampuan mengenali perasaan diri, mengelola emosi, memotivasi diri, berempati, dan membangun hubungan sosial yang sehat.

Dalam khazanah etika klasik, Aristotles menegaskan bahwa kebajikan berada pada jalan tengah tidak berlebihan dalam marah, namun juga tidak kehilangan keberanian dalam membela kebenaran.

Dalam perspektif spiritual Islam, pengendalian amarah merupakan ciri orang bertakwa.

Allah Swt. Berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain.

Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. Ali ‘Imran: 134). Rasulullah saw. juga menegaskan, “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah”.

Hadis lain yang sangat singkat namun mendalam maknanya adalah sabda beliau, “Jangan marah”, (Beliau mengulanginya beberapa kali ketika seorang sahabat meminta nasihat.)

Dengan demikian, merawat emosi bukanlah menekan perasaan, melainkan mengelolanya secara sadar, proporsional, dan bernilai ibadah.

Hati sebagai Sumber Perilaku

Segala perilaku bermula dari hati. Hati adalah pusat kesadaran moral, tempat niat dilahirkan, dan sumber keikhlasan ditumbuhkan.

Rasulullah saw. Bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh; jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati”.

Al Quran pun mengingatkan pentingnya kebersihan batin, “Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih”, (QS. Asy-Syu‘ara: 88–89).

Ketika hati dipenuhi prasangka, iri, dan dendam, lidah akan mudah mengucap kata-kata yang melukai. Sebaliknya, hati yang jernih melahirkan tutur kata yang menenangkan.

Ilmu neurosains menjelaskan bahwa reaksi emosional spontan sering dipicu oleh kerja amygdala, yang dapat mendahului pertimbangan rasional dari korteks prefrontal.

Karena itu, jeda sebelum berbicara bukan hanya ajaran moral, tetapi juga kebutuhan biologis agar akal dapat mengendalikan dorongan sesaat.

Merawat hati dapat dilakukan melalui muhasabah, refleksi diri, dzikir, dan kesadaran penuh (mindfulness). Dalam Al Quran ditegaskan, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”, (QS. Ar-Ra‘d: 28).

Lidah: Cermin Kedewasaan Jiwa

Lidah adalah penerjemah isi hati. Kata-kata dapat menjadi penyejuk, namun juga bisa menjadi senjata yang melukai tanpa terlihat.

Karena itu, Islam sangat menekankan etika berbicara.
Allah Swt. Berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar”, (QS. Al-Ahzab: 70).

Baca Juga: Bupati Pasaman Welly Suhery Lantik 120 Pejabat, Tekankan Integritas dan Jemput Program Pusat

Dalam ayat lain ditegaskan, “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka”, (QS. Al-Isra’: 53).

Rasulullah SAW, juga bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam”.

Di era media sosial, menjaga lidah berarti juga menjaga jari yang mengetik. Setiap kata tercatat, bukan hanya dalam jejak digital, tetapi juga dalam catatan amal.

Allah mengingatkan, “Tiada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat”, (QS. Qaf: 18).

Karena itu, tiga pertanyaan sederhana sebelum berbicara patut menjadi kompas etis, Apakah yang saya katakan benar?,

Apakah ia perlu disampaikan?, Apakah ia disampaikan dengan cara yang baik?. Jika salah satu jawabannya negatif, diam sering kali lebih bijak.

Kiat Praktis Merawat Emosi

Merawat emosi adalah latihan seumur hidup. Beberapa langkah berikut dapat menjadi panduan, 1. Mengenali Pemicu Emosi, Kesadaran atas titik rapuh membantu kita lebih waspada dalam menjaga diri.

2. Mengambil Jeda. Rasulullah SAW memberi tuntunan praktis saat marah, “Jika salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, maka hendaklah ia duduk.

Jika belum hilang juga, maka hendaklah ia berbaring”. Dalam riwayat lain beliau menganjurkan berwudu, karena marah berasal dari api, dan api dipadamkan dengan air.

3. Memilih Respons, Bukan Reaksi. Allah berfirman “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara engkau dan dia ada permusuhan seakan-akan menjadi teman yang sangat setia”, (QS. Fussilat: 34).

Ayat ini menegaskan bahwa respons yang baik mampu mengubah konflik menjadi persahabatan.

Lalu 4. Melatih Empati dan Memaafkan. Allah memuji orang yang pemaaf dan menjanjikan kemuliaan bagi mereka yang mampu menahan diri.

5. Memperbanyak Introspeksi dan Doa. Doa dan dzikir menumbuhkan ketenangan batin serta memperluas perspektif, sehingga tidak semua hal dipandang layak diperdebatkan.

Tantangan Zaman Digital

Era digital menghadirkan paradox, komunikasi semakin mudah, tetapi kesalahpahaman semakin sering terjadi. Anonimitas membuat sebagian orang merasa bebas berkata kasar.

Padahal, setiap ucapan memiliki konsekuensi moral dan spiritual.
Budaya literasi digital perlu dibarengi literasi emosional.

Tanpa kedewasaan batin, teknologi hanya mempercepat penyebaran konflik. Sebaliknya, hati yang terjaga dan lidah yang terkendali menjadikan teknologi sebagai sarana dakwah dan penyebar kebaikan.

Merawat Emosi sebagai Investasi Peradaban

Sejarah mencatat bahwa banyak konflik besar bermula dari kata-kata yang tak terjaga. Sebaliknya, peradaban yang maju dibangun oleh dialog yang santun dan saling menghormati.

Dalam keluarga, pengendalian diri orang tua membentuk karakter anak. Di sekolah, guru yang bijak dalam bertutur melahirkan generasi santun.

Di ruang publik, pemimpin yang menjaga ucapannya membangun kepercayaan masyarakat. Merawat emosi adalah seni menyeimbangkan rasa dan rasio, dunia dan akhirat.

Hati yang bersih melahirkan lidah yang santun, lidah yang santun menjaga persaudaraan; persaudaraan yang terjaga menumbuhkan peradaban yang bermartabat.

Pada akhirnya, kekuatan sejati manusia tidak terletak pada kerasnya suara, melainkan pada kemampuannya menahan diri.

Dalam dunia yang gaduh, mereka yang mampu menjaga hati dan lidah adalah para penjaga kedamaian—diam-diam, tetapi menentukan arah sejarah.(Dafril Tuanku Bandaro, M.Pd.I, Kepala MAN Kota Sawahlunto)

Editor : Novitri Selvia
#MA Negeri Kota Sawahlunto #Dafril Tuanku Bandaro