Penulis : Muhammad Al Fatih - Siswa Kelas V UPTD SD Negeri 01 Maek
Halo, teman-teman!
Perkenalkan, namaku Muhammad Al Fatih. Aku duduk di kelas V UPTD SD Negeri 01 Maek. Aku tinggal di Nagari Maek, sebuah nagari yang terkenal sebagai Negeri Seribu Menhir. Di kampungku ada banyak peninggalan sejarah yang membuatku bangga.
Selain menhir, Maek juga memiliki sebuah bukit yang sangat unik. Bukit itu berlubang tepat di bagian tengahnya. Lubangnya sangat besar hingga konon dapat dilewati sebuah helikopter. Masyarakat kami menyebutnya Bukik Posuak. Sejak kecil aku sering melihat bukit itu dari kejauhan, tetapi aku belum tahu bagaimana asal-usulnya.
Kesempatan untuk mengenal cerita Bukik Posuak datang ketika aku mengikuti Lomba Bertutur Tingkat Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota. Tema lombanya sangat menarik, yaitu “Mengangkat Kearifan Lokal dalam Seni Bertutur untuk Memperkokoh Jati Diri dan Literasi Budaya.”
Awalnya aku merasa gugup. Berdiri di depan banyak orang bukanlah hal yang mudah. Aku harus berlatih menghafal cerita, mengatur intonasi suara, dan menampilkan ekspresi agar pendengar ikut merasakan kisah yang kusampaikan. Berkat doa orang tua, bimbingan guru, dan latihan yang sungguh-sungguh, Alhamdulillah aku berhasil meraih Juara III. Pengalaman itu menjadi salah satu momen paling membahagiakan dalam hidupku.
Cerita yang kubawakan berjudul “Asal Mula Terjadinya Bukik Posuak.”
Konon, pada zaman dahulu hiduplah seorang panglima sakti bernama Baginda Ali. Suatu hari beliau bersama para dubalang pergi berburu seekor rusa emas yang sangat langka. Setelah menempuh perjalanan panjang, rusa emas itu akhirnya terlihat. Baginda Ali dan rombongannya segera mengejarnya.
Rusa emas terus berlari hingga masuk ke sebuah ladang jagung milik seorang petani. Melihat rusa itu sudah kelelahan, sang petani melemparkan tombaknya. Tombak itu tepat mengenai rusa hingga roboh. Warga yang berdatangan kemudian menyembelih rusa tersebut dan membagi-bagikan dagingnya kepada masyarakat. Mereka menyisakan satu paha rusa sebagai penghormatan untuk Baginda Ali.
Tidak lama kemudian, Baginda Ali tiba di tempat itu. Melihat rusa buruannya telah disembelih, beliau sangat marah. Dengan membawa paha rusa yang masih tersisa, Baginda Ali berdiri di atas sebuah batu besar di tepi Batang Maek. Dengan seluruh kekuatannya, paha rusa itu dilemparkan hingga melesat menembus sebuah bukit. Sejak saat itulah bukit tersebut berlubang dan dikenal oleh masyarakat sebagai Bukik Posuak.
Mungkin cerita ini hanyalah legenda yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, legenda seperti inilah yang membuat daerah kita memiliki identitas, kekayaan budaya, dan cerita yang selalu menarik untuk dikenang.
Mengikuti lomba bertutur membuatku memperoleh banyak pengalaman berharga. Aku mendapatkan teman-teman baru dari berbagai sekolah, mengenal sejarah kampung halamanku lebih dekat, mendengarkan cerita rakyat dari daerah lain, dan semakin mencintai budaya Indonesia, khususnya budaya Kabupaten Lima Puluh Kota.
Kini aku percaya bahwa setiap daerah memiliki cerita yang luar biasa. Jika tidak dikenalkan kepada generasi muda, cerita-cerita itu bisa saja hilang ditelan zaman. Karena itu, aku ingin terus belajar, membaca, dan bertutur agar kisah-kisah warisan nenek moyang tetap hidup di hati anak-anak Indonesia.
Teman-teman, jangan pernah malu mencintai budaya daerah kita. Siapa tahu, dari sebuah cerita sederhana, kita bisa mengenalkan kampung halaman kepada dunia. (*)
Editor : Adriyanto Syafril