Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Petani Keluhkan Harga Pupuk Mahal, Sedangkan Hasil Tani Murah

Novitri Selvia • Selasa, 16 November 2021 | 13:36 WIB
Ilustrasi.(NET)
Ilustrasi.(NET)
Petani di Kabupaten Limapuluh Kota keluhkan mahalnya harga pupuk untuk kebutuhan pertanian. Sementara harga komoditi pertanian sangat murah. Sehingga sangat tidak menguntungkan bagi petani yang mau tidak mau harus mengolah lahan pertanian sebagai sumber utama ekonomi.

Bukan persoalan baru, hanya saja petani menilai solusi jitu dan peran pemerintah untuk mengurai persoalan pertanian tidak kunjung berhasil. Seharusnya menurut petani, di daerah dengan mayoritas penduduk bermata pencarian sebagai petani, masalah pertanian akan semakin mengecil.

“Coba periksa lagi ke lapangan, tanyakan langsung ke petani soal harga pupuk yang non subsidi bisa melambung hingga angka Rp 500 ribu per karung. Tidak hanya pupuk pestisida, insectisida saja, kebutuhan pertanian lainnya juga mengalami kenaikan,” ungkap Ilham, salah seorang petani di Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota.

Menurut Ilham, Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota, harus mampu memperjuangkan nasib petani di Limapuluh Kota dengan kemudahan-kemudahan yang bisa didapatkan. Jika pupuk kimia dan kebutuhan pertanian menjadi mahal, harusnya harga komoditi juga bisa digenjot hingga menguntungkan petani.

“Saat ini saja, coba tanyakan pada petani harga sayuran, Buncis hanya Rp 3 ribu per kilo, Kacang Panjang hanya dihargai Rp 1.000 per kilo dan Terong hanya Rp 2.500 per kilo. Tentunya ini membuat petani sayur tidak diuntungkan,” sebut Ilham.

Komoditi lainnya seperti jahe juga sangat murah, hanya di kisaran harga Rp 7 ribu per kilo. Ini menjadi kondisi persoalan yang dilematis bagi petani. Jika tanah tidak diolah, sudah pasti tak ada sumber ekonomi, jika diolah harga pupuk mahal, komoditi murah.

“Jika menggunakan pupuk bersubsidi, kualitasnya kurang bagus hasilnya. Jika menggunakan pupuk non subsidi, hasilnya bagus tapi harganya tidak terjangkau alias sangat mahal,” keluh Ilham.

Menanggapi keluhan yang disampaikan petani, Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (Distanpanghorbun) Kabupaten Limapuluh Kota, Eki Hari Purnama mengatakan, pemanfaatan pupuk harus tepat waktu, tepat cara, tepat jumlah serta ketepatan lainnya yang harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.

“Hanya saja, memang mungkin kadang terkendala tidak tepat waktu, karena distribusi pupuk dari Iskandar Muda, Aceh hingga sampai di Sumbar membutuhkan waktu dan kadang terkendala di pelabuhan hingga sampai di Limapuluh Kota,” ucap Eki Hari Purnama.

Namun saran Kadis Tanpanghorbun Limapuluh Kota ini, petani sudah harus tidak terlalu tergantung pada penggunaan pupuk kimia atau pupuk pabrikan saat ini. Sebab memang akan menimbulkan biaya tinggi. Sementara pemerintah hanya bisa mengawasi untuk pupuk bersubsidi.

“Kita berharap petani bisa melepaskan diri dari penggunaan pupuk kimia dengan cara pemanfaatan sumber daya yang ada untuk memproduksi pupuk organik. Jika petani mau, bahan baku untuk pupuk organik sangat melimpah di sekitar kita,” terang Eki.

Bahkan Kepala Dinas ini memberikan contoh bahan baku pembuatan organik yang ada di sekitar lahan pertanian. Mulai dari kotoran ternak Sapi, Ayam dan Kambing, bahkan sisa batang padi juga bisa dijadikan bahan yang sangat bagus untuk pemupukan tanaman padi maupun sayuran.

“Jika petani sawah atau ladang bisa memanfaatkan waktu yang ada untuk sekadar membawa satu hingga dua ember kotoran sapi setiap pergi ke sawah, hasilnya akan sangat bagus. Artinya tidak perlu lagi pupuk kimia. Jika dalam waktu satu hari datang ke sawah bisa membawa lima ember saja kotoran sapi, dalam waktu sepuluh hari saja sudah 50 ember kotoran Sapi bisa menjadi pupuk bagi tanaman. Manfaatkan pola sederhana ini, sawah akan subur tanpa pupuk kimia,” pungkas Eki Hari Purnama. (fdl) Editor : Novitri Selvia
#Distanpanghorbun Kabupaten Limapuluh Kota #pupuk langka #pupuk mahal