PADEK.JAWAPOS.COM-Aliran sungai di Jorong Galugua, Jorong Kototangah, Nagari Galugua, serta beberapa nagari lainnya di hulu Batang Kampar yang melintasi Kecamatan Kapur IX mulai meluap.
Meskipun dalam kondisi yang masih terkendali, beberapa pemukiman sudah mulai terendam air sejak Minggu (28/12) pagi.
“Derita dunsanak kita di Limapuluh Kota sepertinya belum akan berakhir. Sebab, saat ini (kemarin, red) hulu Batang Kampar mulai meluap. Sebagian jalan dan pemukiman di Jorong Kototangah dan Jorong Galugua mulai terendam. Bibir sungai mulai melebar dan hampir tak terlihat lagi. Artinya, air sudah mengalir keluar dari jalur seharusnya,” ucap salah seorang warga, Patria, sambil mengirim sejumlah foto, Minggu siang.
Selain itu, naiknya debit air sungai juga terpantau di Batang Kapur yang melintasi Nagari Sialang, Kecamatan Kapur IX. Begitu juga dengan Batang Maek yang melintasi Nagari Pangkalan, Kecamatan Pangkalan Koto Baru.
Debit air di kedua sungai tersebut mulai meluap hingga mencapai halaman Masjid Raya Pangkalan. Meskipun hujan yang turun tidak lebat, durasinya yang panjang sejak pagi hari menyebabkan debit air meningkat secara signifikan.
“Hingga saat ini hujan masih berlanjut. Jika intensitasnya semakin tinggi dan berlangsung lebih lama, kemungkinan debit air akan semakin tinggi dan mengkhawatirkan,” kata Patria.
Sementara itu, sejumlah netizen melaporkan adanya kemacetan di jalan Sumbar-Riau, tepatnya di Nagari Manggilang. Seiring berjalannya waktu, bencana di Kabupaten Limapuluh Kota terus mengintai hingga penghujung tahun 2025.
Pendataan kerugian dan kerusakan akibat bencana terus dilakukan untuk mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Namun, proses pendataan dan akurasi data yang diterima hingga kini masih menjadi masalah.
Perubahan data yang terus terjadi dinilai belum memperhatikan akurasi yang maksimal. Hal ini diungkapkan oleh Plt Kepala Pelaksana BPBD Limapuluh Kota, Rahmadinol, ketika dikonfirmasi.
“Ya, soal akurasi data memang kita akui masih ada kelemahan. Apakah ini karena pemanfaatan sistem aplikasi atau kesalahan dalam penginputan data bencana, kami berharap masalah ini bisa menjadi perhatian bersama dan segera diperbaiki. Agar fokus kita pada rekonstruksi dan rehabilitasi bisa tercapai dengan maksimal,” ujar Rahmadinol.
Plt Kepala Pelaksana BPBD ini juga menekankan bahwa fokus utama adalah pada rekonstruksi dan rehabilitasi. Untuk itu, diperlukan kesiapan data yang akurat dan pemanfaatan dana dari BNPB.
“Dana pusat ini harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Sebab, kita tidak bisa bergerak progresif dalam penanganan bencana di Limapuluh Kota tanpa dukungan dana dari pusat. Anggaran daerah sangat terbatas, sementara kebutuhan sangat besar,” tambahnya. (fdl)
Editor : Novitri Selvia