Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Ancaman Tanah Bergerak di Limapuluh Kota, Ahli Jelaskan Struktur Karst Pemicu Sinkhole

Mengki Kurniawan • Jumat, 9 Januari 2026 | 20:44 WIB

Ahli geologi, Nuzuwir, memperingatkan potensi gerakan tanah di Situjuah Batua setelah munculnya sinkhole. Pemerintah diminta lakukan kajian teknis dan mitigasi. (Foto: Irfan/Padeks)
Ahli geologi, Nuzuwir, memperingatkan potensi gerakan tanah di Situjuah Batua setelah munculnya sinkhole. Pemerintah diminta lakukan kajian teknis dan mitigasi. (Foto: Irfan/Padeks)
PADEK.JAWAPOS.COM—Ahli Geologi, Ir Nuzuwir, memperingatkan potensi gerakan tanah susulan setelah kemunculan lubang amblesan (sinkhole) di persawahan Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Jumat (9/1/2026).

Peringatan tersebut disampaikan menyusul kondisi geologi kawasan yang berada di atas struktur batuan kapur (karst).

Nuzuwir, mantan Kabid Geologi Dinas ESDM Sumbar, menjelaskan fenomena amblesan berkaitan dengan lokasi Situjuah Batua yang berada dekat pegunungan bukit kapur.

“Secara geologi, sejarah daerah Situjuah Batua ini terletak dekat dengan pegunungan bukit kapur yang terlihat jelas di arah belakang lokasi fenomena. Peristiwa masa lalu seperti letusan gunung api dan gempa besar menyebabkan adanya patahan yang membuat sebagian lempeng mengalami penurunan atau menjadi graben,” ujarnya.

Ia menyebut keberadaan lapisan batugamping Kuantan di bawah endapan lahar Gunung Sago sangat rentan larut oleh air tanah asam.

“Lubang sinkhole ini menurut saya ada korelasinya dengan basement karst yang ada di bawah tanah. Sifat batu kapur yaitu mudah larut pada kondisi air tanah yang asam, bisa karena kandungan sulfur atau belerang dari satuan letusan vulkanik Gunung Sago,” kata Nuzuwir.

Menurutnya, aliran air bawah tanah melalui zona patahan terus mengikis batuan dan membentuk rongga, sehingga meningkatkan risiko gerakan tanah jika hujan lebat berdurasi panjang atau terjadi getaran gempa.

“Ancaman yang ada adalah terjadinya gerakan tanah berskala besar karena air yang keluar tidak terkendali, sehingga tanah menjadi lembek,” jelasnya.

Ia mengungkap fenomena serupa mulai terdeteksi di daerah Halaban, tempat warga menemukan rongga kecil yang diduga sebagai embrio sinkhole.

“Saat ini warga juga menemukan tanah-tanah berongga ukuran kecil,” tambahnya.

Untuk mitigasi, ia meminta pemerintah segera melakukan kajian teknis untuk menentukan radius aman permukiman serta kesiapsiagaan warga.

“Sikap mitigasi bencana perlu disosialisasikan, sehingga masyarakat tahu kapan harus melakukan evakuasi. Hal ini sangat tergantung pada perkembangan kondisi sinkhole,” tegasnya.

Terkait air yang muncul dari lubang amblesan, ia menyarankan uji laboratorium untuk memastikan keamanan dari bakteri atau logam berat.

“Peristiwa sinkhole ini adalah peristiwa alam geologi dan banyak terjadi di tempat lain. Saya mengimbau agar aspek keamanan tetap dinomorsatukan,” pesannya.

Nuzuwir berharap pemerintah terus memberikan edukasi sambil menilai potensi pemanfaatan air bersih bagi warga.

“Mudah-mudahan ini menjadi pelajaran bersama, dan jika terdapat sumber daya air bersih yang mudah diperoleh, patut kita syukuri,” pungkasnya.(CR3)

Editor : Hendra Efison
#Ahli Geologi Nuzuwir #limapuluh kota #sinkhole Situjuah Batua #gerakan tanah