PADEK.JAWAPOS.COM -- Suasana di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) tampak dipenuhi kebahagiaan. Ratusan jemaah haji Debarkasi Padang yang baru tiba dari Tanah Suci disambut keluarga dengan pelukan hangat dan rasa syukur.
Di antara para jamaah yang baru menuntaskan ibadah haji, seorang perempuan paruh baya tampak beberapa kali menyeka air mata. Namanya Busnela, seorang guru mengaji asal Guguak Tabek Sarojo, Kecamatan IV Koto, Kota Bukittinggi.
Bagi Busnela, perjalanan menunaikan ibadah haji tahun ini bukan sekadar menjalankan rukun Islam kelima. Lebih dari itu, perjalanan tersebut merupakan jawaban atas doa yang telah dipanjatkannya sejak masa kecil.
“Saya terharu. Rasa ini enggak mau pulang. Mau di situ rasanya. Saya bilang, Ya Allah, berilah aku rezeki kapan lagi ke sini, ya Allah,” ujarnya sambil menahan tangis saat di BIM, Kamis (11/6).
Sehari-hari, Busnela mengabdikan diri sebagai guru mengaji dan pengajar tahfiz di kampung halamannya. Perjalanan menuju Tanah Suci menjadi impian yang telah lama dipeliharanya.
Ia mengaku mendaftar haji sejak tahun 2014 dan akhirnya mendapat kesempatan berangkat pada musim haji 2026.
Busnela memiliki latar belakang pendidikan Islam yang kuat. Ia pernah menempuh pendidikan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta, cabang Universitas Islam Imam Muhammad Ibnu Su’ud Arab Saudi. Kemampuan berbahasa Arab yang dimilikinya menjadi bekal berharga selama menjalani ibadah haji.
“Saya kebetulan bisa bahasa Arab. Saya kuliah dulu di LIPIA Jakarta. Jadi apapun urusan yang saya kerjakan sendiri, alhamdulillah tak ada kesulitan. Saya jemaahnya mandiri, di mana pun sendiri. Alhamdulillah saya sehat, tak ada sakit,” katanya.
Kemampuan tersebut memudahkannya berkomunikasi dengan petugas maupun masyarakat setempat di Arab Saudi. Namun menurutnya, kelancaran selama berhaji bukan hanya karena kemampuan bahasa.
“Pokoknya kita kalau untuk ke Mekkah ini hati kita dibersihkan,” tuturnya.
Momen paling berkesan baginya terjadi saat berada di Masjidil Haram, khususnya di sekitar Ka’bah dan Multazam, tempat yang diyakini sebagai lokasi mustajab untuk memanjatkan doa.
Busnela mengaku bersyukur karena berhasil menyentuh Ka’bah setelah melaksanakan tawaf secara mandiri di tengah padatnya jemaah dari berbagai negara.
“Alhamdulillah bisa pegang Ka’bah. Kalau mencium agak kesulitan. Saya pergi sendiri bisa pergi ke Ka’bah,” ujarnya.
Perasaannya kembali larut ketika mengenang saat berdoa di dekat Multazam. Impian yang selama ini hanya dipanjatkannya dari kampung kecil di lereng Bukittinggi akhirnya terwujud.
Selama berada di Madinah, Busnela juga beberapa kali membantu sesama jemaah Indonesia, terutama saat pelaksanaan ibadah di Raudhah. Kemampuan berbahasa Arab membuatnya kerap menjadi tempat bertanya bagi jamaah yang mengalami kendala komunikasi.
Menurut Busnela, kesabaran dan ketenangan menjadi kunci utama agar ibadah haji dapat dijalani dengan lancar. Ia memilih menghindari kerumunan besar dan selalu berusaha mematuhi aturan yang berlaku.
Selain pengalaman spiritual yang mendalam, Busnela juga memberikan apresiasi terhadap pelayanan penyelenggaraan ibadah haji Indonesia tahun 2026.
Busnela merupakan jamaah yang tergabung dalam Kloter PDG 7 Debarkasi Padang yang tiba di Bandara Internasional Minangkabau pada Kamis (11/6).
Bagi Busnela, perjalanan spiritual ini menjadi bukti bahwa doa yang dipanjatkan dengan penuh keyakinan akan menemukan jalannya pada waktu terbaik.
Setelah menunggu selama lebih dari satu dekade sejak mendaftar haji, ia akhirnya berdiri di hadapan Ka’bah, menyentuh kiswah yang selama ini hanya dilihat dari kejauhan, dan kembali ke tanah air dengan hati yang dipenuhi rasa syukur. (rdo)
Editor : Adriyanto Syafril