Salah satunya dengan mendukung anak-anak dari keluarga tidak mampu yang berprestasi agar tetap bisa melanjutkan pendidikan. Dukungan ini diwujudkan dalam bentuk bantuan perlengkapan sekolah, seperti sepeda, seragam, dan alat tulis.
Bantuan itu disalurkan kepada Pebra, 15, lulusan SMP asal Kampung Tangga Padang yang telah diterima sebagai siswa baru di SMAN 2 Linggo Sari Baganti.
Wali Nagari Punggasan Timur, Tarmizi Lasmeri mengatakan selain program ketahanan pangan, peningkatan infrastruktur, dan kegiatan sosial lainnya, Pemnag Punggasan Timur juga memberikan perhatian terhadap keberlangsungan pendidikan anak keluarga miskin yang berprestasi.
”Kami menyalurkan bantuan 1 unit sepeda, baju seragam, dan berbagai perlengkapan lainnya yang bersumber dari dana desa (DD) tahun 2025,” katanya.
Dia berharap melalui bantuan yang sudah disalurkan pada Rabu (2/7) pekan lalu itu, akan menambah semangat dan motivasi Pebra untuk lebih giat lagi belajarnya.
Sebab selain bantuan untuk perlengkapan dan penunjang kelancaran untuk pergi ke sekolah itu, pihaknya juga tengah melakukan proses verifikasi melalui pendamping PKH terhadap orang tua Pebra untuk mendapatkan program bantuan bedah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang bersumber dari DD.
Dewi 45, orang tua Pebra mengaku sangat bersyukur atas kepedulian Pemnag Punggasan Timur tersebut terhadap kondisi keterbatasan ekonominya. ”Berkat kepedulian melalui bantuan sepeda, baju, dan berbagai perlengkapan sekolah itu, sehingga anak saya bisa melanjutkan sekolah ke SMA. Dengan memiliki sepeda, maka anak saya tidak harus jalan kaki ke sekolah. Demikian juga dengan semua perlengkapannya, yang sebenarnya saya tidak sanggup untuk membelinya. Saya menyampaikan ucapan terima kasih atas kepedulian ini,” ungkapnya haru.
Camat Linggo Sari Baganti, Zul Irfan Harun yang juga ikut hadir saat penyerahan bantuan itu berharap agar bantuan itu akan menambah semangat dan motivasi Pebra untuk menjadi anak yang sukses nantinya.
”Saya berharap apa yang dilakukan oleh Pemerintahan Nagari Punggasan Timur ini akan menjadi motivasi atau cerminan bagi nagari lainnya dalam menunjukkan kepedulian terhadap anak keluarga miskin dari segi pendidikan. Sebab kita tidak ingin keterbatasan ekonomi menjadi penyebab anak putus sekolah,” katanya.
Menurutnya, keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi alasan anak putus sekolah. ”Bantuan ini bukan hanya soal materi, tapi bentuk nyata kehadiran nagari dalam urusan pendidikan warganya,” ujarnya.
Ia menekankan kepedulian seperti ini harus menjadi inspirasi bersama dalam mencetak generasi muda yang tangguh dan berdaya saing. (*)
Editor : Eri Mardinal