Capaian ini dinilai menjadi kabar positif di tengah pesimisme terhadap kondisi ekonomi nasional. Wakil Rektor Universitas Paramadina, Dr. Handi Risza, menyebut bahwa faktor musiman menjadi salah satu pendorong utama, terutama dari konsumsi rumah tangga.
“Pertumbuhan ekonomi nasional mampu membalik ramalan sejumlah pengamat dan lembaga,” ujarnya, Selasa (5/8/2025).
Dr. Handi menjelaskan, dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan PDB, yaitu sebesar 54,25% atau 2,64%.
Sementara investasi melalui Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menyumbang 27,83% atau 2,06%. Secara total, dua komponen ini menyumbang 82,08% dari total pertumbuhan ekonomi triwulan II.
“Hal ini didorong oleh meningkatnya kebutuhan rumah tangga, mobilitas, dan permintaan terhadap barang modal,” tambahnya.
Sementara itu, dari sisi lapangan usaha, sektor industri pengolahan mencatat kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan sebesar 1,13%, diikuti oleh perdagangan (0,70%), informasi dan komunikasi (0,53%), serta konstruksi (0,47%).
Ia juga menyoroti bahwa peningkatan konsumsi rumah tangga tidak lepas dari banyaknya hari libur nasional dan keagamaan seperti Idul Fitri, Waisak, Isa Almasih, hingga Idul Adha, yang turut meningkatkan belanja masyarakat untuk kebutuhan primer, makanan, minuman, serta mobilitas wisata.
Namun demikian, tantangan masih membayangi sektor manufaktur nasional. Berdasarkan data S&P Global, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Juli 2025 tercatat 49,2, masih berada di zona kontraksi. Sebelumnya, PMI berada di angka 46,7 (April), 47,4 (Mei), dan 46,9 (Juni).
“PMI masih di bawah 50, menunjukkan tekanan berkelanjutan terhadap aktivitas produksi dan permintaan,” jelas Dr. Handi.
Ia menegaskan bahwa ketergantungan terhadap konsumsi bersifat musiman tidak boleh menjadi satu-satunya penopang pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kita berharap membaiknya kinerja ekonomi Triwulan II 2025 didukung oleh peningkatan investasi, ekspor, dan perbaikan sektor industri serta lapangan kerja, bukan semata konsumsi musiman,” pungkasnya.(*)
Editor : Hendra Efison