Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Mentalitas Juara, DNA yang Tidak Pernah Mati

Two Efly • Rabu, 8 Juli 2026 | 06:35 WIB
Two Efly
Two Efly

Oleh: Two Efly, Wartawan Padang Ekspres

Ada ungkapan lama dalam sepak bola: form is temporary, class is permanent. Saya ingin menambahkan satu kalimat lagi: mentalitas juara lebih abadi daripada keduanya.

Itulah yang menjadi pembeda ketika Argentina menaklukkan Mesir 3-2 pada babak 16 besar Piala Dunia 2026. Bukan teknik, bukan penguasaan bola, bahkan bukan pula nama besar Lionel Messi. Yang memenangkan pertandingan itu adalah karakter.

Selama hampir 80 menit, Argentina seperti kehilangan identitasnya. Tarian Tango Argentina seolah menghilang. Argentina terlalu sering kehilangan bola. Operan-operan pendek Argentina mampu dipatahkan lini tengah dan lini belakang Mesir.

Sebaliknya, Mesir memainkan pertandingan yang nyaris sempurna. Organisasi pertahanan mereka begitu disiplin. Setiap pemain Argentina yang menerima bola langsung dikepung dua hingga tiga pemain. Jalur umpan menuju Messi ditutup rapat, sementara Rodrigo De Paul, Alexis Mac Allister, dan Enzo Fernández dipaksa bermain melebar sehingga sirkulasi bola Argentina kehilangan ritme.

Gol Yasser Ibrahim pada menit ke-15 membuat Argentina mulai kehilangan ketenangan. Situasi semakin sulit ketika Mostafa Zico menggandakan keunggulan Mesir pada babak kedua. Saat papan skor menunjukkan 2-0, dunia mulai percaya bahwa kejutan terbesar Piala Dunia 2026 sedang terjadi.

Tekanan psikologis semakin berat setelah Lionel Messi gagal mengeksekusi penalti pada babak pertama. Banyak pemain besar runtuh setelah momen seperti itu. Namun, Messi tidak. Di situlah mentalitas juara mulai berbicara.

Scaloni Memenangi Pertandingan dari Bangku Cadangan

Sepak bola modern tidak hanya dimenangkan oleh sebelas pemain di lapangan. Pertandingan ini juga dimenangkan oleh Lionel Scaloni dari pinggir lapangan.

Keputusan memasukkan Lautaro Martínez mengubah wajah permainan Argentina. Kehadirannya membuat garis pertahanan Mesir tidak lagi berani bermain tinggi. Bek-bek Mesir mulai mundur beberapa meter untuk mengantisipasi kecepatan Lautaro.

Ruang yang sebelumnya tertutup mulai terbuka. Messi memperoleh lebih banyak kebebasan. Enzo Fernández lebih leluasa masuk ke sepertiga akhir lapangan.

Momentum pun berubah.

Cristian Romero memperkecil ketertinggalan melalui sundulan pada menit ke-79. Empat menit kemudian, Messi menebus kegagalan penaltinya dengan gol penyama kedudukan.

Ketika Mesir masih berusaha menerima kenyataan, Enzo Fernández datang menghukum mereka lewat gol kemenangan pada masa tambahan waktu. Dalam rentang sekitar 15 menit, Argentina mengubah mimpi buruk menjadi salah satu comeback terbesar turnamen.

Mengapa Mesir Runtuh?

Banyak yang mengatakan Mesir kehilangan stamina. Saya justru melihat mereka kalah karena tekanan mental.

Selama 75 menit, mereka bermain tanpa beban. Namun, setelah Romero mencetak gol pertama Argentina, cara bermain Mesir berubah drastis.

Mereka tidak lagi berpikir untuk menyerang. Mereka mulai berpikir agar tidak kebobolan. Perbedaan dua cara berpikir itu sangat besar.

Ketika sebuah tim hanya berusaha mempertahankan keunggulan melawan juara bertahan, tekanan akan terus datang. Kesalahan kecil menjadi mahal. Konsentrasi menurun. Ruang mulai terbuka. Argentina membaca perubahan itu dengan sangat baik.

VAR dan Tuduhan "Anak Emas FIFA"

Seusai pertandingan, media sosial kembali dipenuhi tuduhan bahwa Argentina mendapat perlakuan istimewa. Penyebabnya adalah keputusan VAR yang menganulir salah satu gol Mesir.

Perdebatan memang akan selalu ada dalam sepak bola. Namun, hingga kini tidak ada bukti yang mendukung tuduhan bahwa FIFA sengaja menguntungkan Argentina. Keputusan VAR diambil berdasarkan peninjauan terhadap proses terjadinya gol, bukan karena identitas tim yang bermain. Bahkan, sejumlah laporan pascapertandingan menegaskan bahwa kontroversi tersebut memang menjadi bahan diskusi, tetapi bukan bukti adanya keberpihakan sistematis.

Dalam sepak bola modern, kita boleh berbeda pendapat terhadap interpretasi wasit. Namun, kita juga harus menerima bahwa teknologi hadir untuk meminimalkan kesalahan manusia.

Sang Juara Selalu Menemukan Jalan

Pertandingan ini akan dikenang bukan hanya karena lima gol yang tercipta. Laga ini akan dikenang karena memperlihatkan mengapa Argentina masih menjadi juara bertahan.

Mereka bisa bermain buruk. Mereka bisa tertinggal dua gol. Kapten mereka bisa gagal mengeksekusi penalti. Namun, mereka tidak pernah kehilangan keyakinan. Itulah yang tidak dimiliki semua tim.

Mentalitas juara bukan berarti tidak pernah jatuh. Mentalitas juara adalah kemampuan untuk bangkit ketika semua orang mulai percaya bahwa Anda telah kalah.

Di Atlanta, Argentina kembali mengajarkan pelajaran itu kepada dunia. Bahwa dalam sepak bola, taktik bisa memenangkan satu pertandingan, kualitas bisa memenangkan banyak pertandingan, tetapi mentalitas juara adalah yang membawa sebuah bangsa menuju trofi Piala Dunia.(***)

Editor : Hendra Efison
#Argentina vs Mesir #mentalitas juara #lionel scaloni #piala dunia 2026 #lionel messi