Hampir seluruh ulama besar penganut mazhab Syafi’i Minangkabau hadir kala itu. Termasuk sahabat dekatnya Syekh Muhammad Jamil Jaho dan ulama senior Syekh Abbas, Ladang Lawas, Bukittinggi.
Dari daerah Payakumbuh hadir pula Syekh Abdul Wahid Al-Shalihy Tabek Gadang, Syekh Arifin al-Rasyad, Batu Hampar; Syekh Abdul Madjid, Koto Nan Gadang dan Syekh Tuanku Muda ’Alwi, Koto Nan Ampek.
Ada pula Syekh Muhammad Salim, Bayur Maninjau; Syekh Adam, Palembayan; Syekh Hasan Basri, Maninjau; Muhammad Zein, Simabur, Batusangkar; Syekh Khatib Ali, Padang; Syekh Jalaluddin, Sicincin; Syekh Muhammad Said, Bonjol dan Syekh Muhammad Yunus, Sasak Pasaman; serta Syekh Makhudum, Tanjung Bingkung Solok.
Mereka sepakat melakukan perubahan formulasi lembaga pendidikan dari surau dengan sistem halakah menjadi madrasah dengan sistem klasikal dengan sebutan “Madrasah Tarbiyah Islamiyah” di singkat MTI.
Dari pertemuan ini pula lahirlah beberapa MTI, seperti MTI Canduang, MTI Jaho, dan MTI Tabek Gadang. Untuk mengembangkan madrasah ini, dibentuk organisasi bernama “Persatuan Madrasah Tarbiyah Islamiyah” disingkat PMTI, yang bertanggung jawab untuk membina, memperjuangkan, dan mengembangkan MTI yang ada.
Dua tahun berikutnya, 20 Mei 1930, PMTI diubah menjadi Persatuan Tarbiyah Islamiyah, disingkat PTI. Sekitar tahun 1937, Persatuan Tarbiyah Islamiyah disingkat menjadi Perti. Meski terjadi dinamika organisasi dengan adanya perubahan nama dan singkatan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (termasuk nama Tarbiyah dan Perti), kini ormas Islam berskala nasional yang lahir dari ranah Minang ini kembali mengukuhkan dirinya dengan singkatan “Perti”.
Dari penjelasan sejarah singkat di atas, perlu ditegaskan: pertama organisasi Perti lahir dari pertemuan banyak ulama besar Minangkabau (bukan satu-dua orang tokoh) yang berpaham ahlussunnah wal jamaah dengan teologi Asy’ari dan Maturidi serta bermazhab Syafi’i. Keilmuan ulama-ulama besar ini tidak diragukan di zamannya.
Bahkan di antara mereka belajar bertahun-tahun di Mekah. Seperti Inyiak Canduang dan Inyiak Jaho. Sama halnya pendiri Nahdlatul Ulama (KH Hasyim Asy’ari) dan pendiri Muhammadiyah (KH Ahmad Dahlan), Inyiak Canduang dan Inyiak Jaho juga belajar pada guru yang sama di Mekah: Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.
Hanya saja ulama kaum tua ini kembali ke Minangkabau berkomitmen mempertahankan paham ahlussunnah wal jamaah dan mazhab Syafi’i. Inilah menjadi salah satu latar belakang dibentuknya MTI dan Perti.
Kedua, tidak terbantahkan, bahwa organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) sesungguhnya lahir karena adanya MTI. Perti dibentuk untuk membina, mengembangkan, dan merawat lembaga pendidikannya, MTI. Maka Perti tidak bisa dipisahkan dari Tarbiyah, artinya “pendidikan”. Perti berjaya selama MTI maju dan berkembang.
Sejarah pun membuktikan, MTI berkembang pesat ketika Perti fokus merawat MTI. Pada tahun 1937 tercatat sekitar 300 MTI di bawah Perti, tahun 1945 diperkirakan murid MTI sekitar 45.000 santri, tidak saja di Sumatera, tetapi juga berkembang hingga ke Sintang, Kalimantan.
Pada akhir tahun 1945, Perti dikukuhkan menjadi partai politik Islam, lalu tahun 1970 disepakati Perti menjadi organisasi non-politik dan fokus pada misi pendidikan, dakwah, dan sosial keumatan.
Milad ke-95 Perti tahun 2023 ini menunjukkan bahwa usia Perti sudah cukup matang, dewasa, dan berpengalaman. Dua catatan di atas mesti menjadi perhatian utama di mana Perti tidak bisa dipisahkan dari ulama dan lembaga pendidikan Islam, yaitu MTI.
Melalui MTI, sejatinya melahirkan ulama teladan yang memiliki ghirah mendidik umat lalu menjadikan Perti sebagai rumah jihad memajukan pendidikan, mengembangkan dakwah, dan solutif terhadap persoalan sosial keumatan. Dengan begitu, MTI adalah the real Perti.
Namun perkembangan MTI secara kuantitas hari ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tiga dekade awal berdirinya. Memang masih terdapat MTI yang survive dengan ratusan santri, seperti MTI Canduang, MTI Batang Kabung, MTI Darussalam Sumani, termasuk yang baru berdiri (2012) seperti MTI Darul Makmur Sungai Cubadak, Baso dengan santri sekitar 500 orang.
Akan tetapi beberapa MTI memiliki minim santri, bahkan ada pula yang tutup. Ini harus menjadi perhatian Perti untuk kembali konsentrasi mengurus dan merawat “Tarbiyah”, dalam wujud MTI. Setidaknya ada lima hal yang mesti menjadi perhatian Perti untuk memajukan MTI.
Pertama, profil pendidik MTI. MTI memiliki ciri khas tafaqquh fi al-din dengan kajian kitab kuning, berpaham ahlussunnah wal jamaah: berteologi al-Asyary dan Maturidy, bermazhab Syafi’i, dan bertasawuf.
Sejatinya profil pendidik MTI menguasai ilmu keislaman sesuai ciri khasnya. Sementara LPTK di tingkat Perguruan Tinggi Islam nyaris tidak memiliki profil lulusan seperti yang diinginkan oleh MTI. Karena itu, pembinaan terhadap pendidik-pendidik yang ada serta kaderisasi ulama sebagai pendidik di MTI mesti dilakukan secara kontiniu dan konsisten.
Kedua, pengembangan kurikulum. Jika Syekh Sulaiman Arrasuli bersama ulama lainnya bersedia melakukan perubahan pembelajaran dari sistem halakah di Surau menjadi sistem klasikal berbentuk madrasah, maka pengelolaan MTI hari ini juga seharusnya membuka diri untuk melakukan pembaharuan.
Umumnya, MTI hanya menyelenggarakan pendidikan 6 tahun (MTs dan MA), sementara sejumlah kitab harus diajarkan di samping konten kurikulum madrasah (Kemenag) dan kurikulum nasional (Kemdikbud). Perlu kreativitas MTI untuk menyusun kurikulum yang lebih relevan dengan perkembangan peserta didik sehingga profil lulusan yang ditargetkan dapat tercapai.
Di sinilah pentingnya kehadiran Perti untuk merumuskan kurikulum yang menjadi standar pendidikan bagi MTI-MTI yang ada. Termasuk menyusun mata pelajaran khusus “ke- Perti-an” untuk memperkenalkan dan mengikat pemahaman para santri terhadap I’tiqad ahlussunnah wal jamaah yang diajarkan.
Selain penataan terhadap kurikulum, Perti juga perlu mengembangkan MTI tidak sebatas tingkat MTs dan MA, tetapi juga jenjang PAUD dan Pendidikan Dasar (Madrasah Ibtidaiyah) yang selama ini luput dari perhatian. Padahal lembaga pendidikan dasar ini juga sangat mempengaruhi input dari MTI yang telah ada.
Ketiga, metode pembelajaran di MTI juga perlu dikembangkan dan beradaptasi dengan perkembangan pendidikan mutakhir. Prinsipnya: al-muhafazhah ‘ala al-qadim ash-shalih wa al-ahdzu bi al-jadid al-ashlah (mempertahankan nilai-nilai lama yang baik dan melakukan inovasi untuk yang lebih baik). Termasuk cara cepat membaca dan memahami teks Arab (kitab kuning), perlu inovasi metode pembelajaran yang lebih efektif.
Keempat, manejemen pengelolaan lembaga MTI. MTI sejatinya dikelola secara profesional, ilmiah, dan sesuai ilmu manajemen. Adanya kasus konflik pengelola, hingga madrasah yang gulung tikar merupakan dampak dari buruknya manajemen lembaga pendidikan. Peran Perti dibutuhkan untuk memberikan bimbingan dan pendampingan kepada pimpinan sehingga MTI dikelola secara professional.
Kelima, sumber pembiayaan MTI. Untuk memajukan lembaga pendidikan, membutuhkan dukungan dana yang memadai. Saat ini, umumnya santri MTI berasal dari masyarakat kalangan menengah ke bawah. Karenanya, uang masuk, uang pembangunan, hingga uang SPP relatif rendah.
Hal ini berdampak pada pembangunan sarana dan prasana, termasuk kesejahteraan guru. Peran strategis Perti lagi-lagi dibutuhkan untuk mengembangkan sumber pembiayaan MTI, mulai dari badan wakaf hingga dunia usaha berbasis pesantren.
Dengan semangat kebersamaan dan kesadaran akan perjuangan para ulama pendiri MTI dan Perti diharapkan para ulama, cendikia, praktisi, dan jamaah Perti meningkatkan konsentrasi perjuangannya membesarkan MTI.
Dengan begitu misi pendidikan sukses diemban dan pasti berdampak pada misi dakwah dan sosial keumatan. Sebab MTI adalah the real Perti. Selamat Milad ke-95, semoga Perti Berjaya dalam ridha Allah SWT. (Muhammad Kosim, Dosen Ilmu Pendidikan Islam FTK UIN IB Padang) Editor : Novitri Selvia