Oleh: Shofwan Karim, Pengamat, Penulis Esai, dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar
PADEK.JAWAPOS.COM-Mamangan Minangkabau berkata: “Tagang bajelo-jelo, kandua badantiang-dantiang” — tegang berunta-untai, kendur berdenting-denting. Peribahasa ini bukan sekadar kearifan lokal, melainkan cermin universal tentang seni menjaga keseimbangan.
Ia mengajarkan bahwa dalam ketegangan, masih ada ruang negosiasi; dalam kelonggaran, tetap ada kewaspadaan.
Filosofi ini seakan menemukan panggungnya di Timur Tengah, di mana Washington-Tel Aviv dan Teheran memainkan irama perang dan diplomasi berlapis: kadang tegas, kadang longgar, namun selalu berdenting tanda waspada. Lebih dari itu, perlu merujuk kepada cahaya global dalam menelisik solusi konflik di dunia hari ini.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Sumbar 11 Mei 2026: Padang dan Pariaman Cerah
Negosiasi yang Belum Usai
Pertemuan Islamabad pertengahan April lalu, dengan 15 poin tuntutan Amerika Serikat dan 10 poin balasan Iran, menyerupai air terjun yang menggebu: deras, bising, tetapi sulit ditampung.
Dari total 29 poin, tiga hal menjadi simpul krusial: (1) program nuklir Iran: (2) pencairan aset dan keuangan internasional Iran yang dibekukan; (3) jaminan keamanan dari serangan militer terhadap Iran.
Ketiga isu ini bukan sekadar teknis diplomasi, melainkan simbol eksistensi. Nuklir bagi Iran bukanlah senjata, melainkan energi dan teknologi. Namun bagi AS dan sekutunya, ia tetap bayangan ancaman.
Baca Juga: BPBD Kabupaten Solok Lirik Sepablock Semen Padang untuk Huntap Bencana
Di sinilah paradoks muncul: Israel dengan program nuklirnya jarang dipersoalkan, sementara Iran terus ditekan. Dunia pun bertanya: keadilan macam apa yang sedang dipertontonkan?
Selat Hormuz, jalur vital minyak dunia, menjadi arena di mana ketiga isu tadi berdenyut. Jika nuklir Iran terus dipersoalkan, jika aset tetap dibekukan, jika jaminan keamanan tak diberikan, maka Selat Hormuz akan selalu menjadi titik genting.
Setiap kapal tanker yang melintas membawa bukan hanya energi, tetapi juga ketegangan global. Denting moderasi Minangkabau seakan bergaung di sana: tegang berunta-untai, kendur berdenting-denting.
Baca Juga: Polisi Tangkap Pengedar Sabu dan Ekstasi di Dharmasraya, 93 Butir Pil Disita
Di luar meja runding, dentuman senjata tetap terdengar. Israel berkali-kali melancarkan serangan ke Lebanon Selatan, menambah korban sipil. Gencatan senjata seolah hanya jeda musik, bukan penghentian lagu.
Dunia menyaksikan paradoks: diplomasi di satu sisi, tragedi kemanusiaan di sisi lain. Moderasi yang diajarkan mamangan Minang terasa jauh, namun justru semakin relevan: bagaimana tegas tanpa kehilangan nurani, bagaimana longgar tanpa kehilangan kewaspadaan.
Moderasi di Tengah Bara
Peribahasa Minang tadi mengandung makna filosofis yang mendalam. Moderasi bukan kompromi lemah, melainkan kekuatan untuk menempatkan diri secara bijak.
Baca Juga: Perkuat Hilirisasi, Siapkan Pabrik Gambir
Dalam konteks Timur Tengah, moderasi berarti: (1) Amerika Serikat harus tegas dapat saja menjaga keamanan global, tetapi juga bijak membuka ruang keadilan; (2) Iran harus berani mempertahankan hak teknologi, tetapi juga bijak menunjukkan transparansi: (3) Israel dan Lebanon harus sadar bahwa dentuman senjata hanya melahirkan dendam, bukan damai.
Moderasi adalah denting yang mengingatkan: jangan lalai, jangan ekstrem. Ia adalah bunyi kecil yang menyelamatkan dari kebisuan atau kebisingan berlebihan. Dengan begitu, kenyataannya kebuntuan nuklir Iran bukan hanya masalah regional, melainkan ujian global.
Dunia berharap AS dan Iran menemukan jalan tengah. Jalan itu bukan sekadar teknis diplomasi, melainkan etika kemanusiaan. Dunia tidak bisa terus hidup dalam bayang-bayang ancaman nuklir, embargo ekonomi, dan serangan militer. Dunia membutuhkan denting moderasi: tegas namun bijak, longgar namun waspada.
Baca Juga: Polri Pindahkan 321 WNA Terduga Judol ke Imigrasi
Bayangkan Timur Tengah sebagai panggung besar. Di atasnya, aktor-aktor utama memainkan drama panjang: Washington dengan naskah hegemoninya, Teheran dengan monolog eksistensinya, Israel dengan improvisasi militernya, Lebanon dengan tragedi kemanusiaannya.
Penonton dunia menyaksikan dengan cemas, berharap ada adegan damai. Namun yang terdengar hanyalah dentuman. Di sela dentuman itu, peribahasa Minang berbisik: “Tagang bajelo-jelo, kandua badantiang-dantiang.” Bisikan itu adalah harapan bahwa moderasi masih mungkin, bahwa denting kecil bisa mengalahkan dentuman besar.
Cahaya Global Al-Qur’an
Ketegangan Timur Tengah adalah cermin dunia: bagaimana kekuasaan, teknologi, dan kepentingan sering menyingkirkan nurani. Namun mamangan Minang mengingatkan kita bahwa hidup adalah seni menjaga keseimbangan.
Baca Juga: Polri Pindahkan 321 WNA Terduga Judol ke Imigrasi
Tegang berunta-untai, kendur berdenting-denting. Tegas tanpa kehilangan ruang negosiasi, longgar tanpa kehilangan kewaspadaan.
Lebih dari itu, ada cahaya global meminta umat manusia menjadikan keadilan sebagai fondasi kehidupan, larangan agresi, kedepankan dialog, utamakan perdamaian dan moderat sebagai kesaksian: QS. An-Nisa [4]:135 “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu...”
QS. Al-Baqarah [2]:190 “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi janganlah kamu melampaui batas...”.
Baca Juga: KORMI Payakumbuh 2026-2031 Resmi Dilantik, 13 Inorga Siap Gerakkan Gaya Hidup Sehat Warga
QS. Al-Hujurat [49]:13 “Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal...”
QS. Al-Anfal [8]:61 “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah...”
QS. Al-Baqarah [2]:143 “Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang moderat agar kamu menjadi saksi atas manusia...”
Baca Juga: Cetak Juara LKS Sumbar, Siap Bersaing Nasional
Moderasi global menurut Al-Qur’an adalah jalan tengah yang menolak ekstremisme, menegakkan keadilan, dan mengutamakan perdamaian.
Jika prinsip ini dijadikan kebijakan internasional, dunia akan terhindar dari perang sia-sia dan mampu membangun peradaban damai yang berkelanjutan. Denting kecil itu akan menjadi simfoni damai, dan kearifan lokal berpadu dengan cahaya wahyu untuk menerangi panggung global. (*)
Editor : Novitri Selvia