Balai Bahasa Sumbar meluncurkan buku terjemahan Kaba Minangkabau, Selasa (7/12). Ada 23 buku yang berasal dari 23 Kaba yang dikumpulkan oleh tim.
Kepala Balai Bahasa Sumatera Barat, Aminulatif, mengatakan penerjemahan prosa berirama Minangkabau ini merupakan program prioritas Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Tekonologi, untuk menerjemahkan cerita rakyat ke bahasa Indonesia dalam rangka memperkaya bahan bacaan literasi bagi siswa.
”Harapannya buku ini menjadi sumber literasi bagi siswa sekolah dasar dan menengah. Kemudian agar masyarakat yang tidak memahami bahasa Minangkabau, bisa menikmatinya dalam bahasa Indonesia karena ditampilkan dwi bahasa,” ucapnya.
Aminulatif mengungkapkan penerjemahan buku ini dilaksanakan tim yang melibatkan konsultan dari berbagai kalangan. Baik tokoh adat, penulis, sastrawan, serta budayawan.
Rencananya, di tahun mendatang penerjemahan karya sastra tradisional akan dilakukan kembali agar khazanah sastra daerah diketahui masyarakat luas.
Koordinator penerjemah Joni Syahputra mengatakan dalam perjalanan penerjemahan Kaba ini menghadapi berbagai kendala. Di antaranya mencari sumber-sumber tulisan atau penulis Kaba yang kebanyakan telah meninggal dunia. Namun upaya lain tetap dilakukan untuk mengumpulkan dan mendapat sumber yang sahih.
”Itu salah satu kendala kita. Kendala lainnya yakni, meski bahasa ibu kita Minangkabau, tapi banyak kosakata dalam kaba Minangkabau yang tidak kita ketahui artinya,” tuturnya.
Wakil Gubernur Sumbar Audy Joinaldy mengungkapkan penerjemahan kaba dalam bahasa Indonesia pernah dilakukan dua masa, yakni tahun 1880 an dan 1920-an.
Penerjemahan itu dilakukan untuk kebutuhan cerita hikayat dan sandiwara. Untuk itulah dirasa perlu penerjemahan kaba dalam bahasa Indonesia tapi tidak menghilangkan substansinya.
Adapun 23 Kaba yang diterjemahkan yaitu, Kaba Si Umbuik Muda, Kaba Sutan Lembak Tuah, Kaba Magek Manandin, Kaba Sabai Nan Aluih, Kaba Rambun Pamenan, Kaba Laksamana Hang Tuah, Kaba Tuanku Lareh Simawang, Kaba Si Sabariah, Kaba Anggun Nan Tongga, Kaba Siti Risani, Kaba Cindua Mato, Kaba Si Buyuang Karuik, Kaba Malin Deman, Kaba Si Gadih Ranti, Kaba Puti Nilam Cayo, Kaba Bungo Talang Mamak, Kaba Siti Kalasun, Kaba Siti Baheran, Kaba Amai Cilako, Kaba Untuang Sudah, Kaba Puti Marintan Aluih, Kaba Angku Kapalo Sitalang, dan Kaba Rancak Dilabuah. (eko) Editor : Hendra Efison