Bangunan yang awalnya dirancang untuk mengendalikan sedimen dan menahan laju air di hulu sungai ini kini menjelma menjadi ruang pelarian pelepas penat bagi mahasiswa Universitas Andalas (Unand).
Terletak di jalur menuju Masjid Batu, hanya beberapa kilometer dari kompleks kampus, tempat ini menjadi magnet bagi anak muda yang ingin sejenak menjauh dari rutinitas akademik.
Setiap sore, kawasan dam mulai dipadati mahasiswa yang datang berkelompok, membawa bekal, dan mencari ketenangan di antara udara sejuk dan gemericik air yang jernih.
“Udaranya di sini sejuk sekali, air sungainya pun masih sangat jernih. Kontras dengan suasana di kota,” ujar Andi, mahasiswa yang tengah duduk di bebatuan pinggir sungai, Senin (03/11/2025).
Dari kejauhan, terlihat mahasiswa lain melepas alas kaki dan bermain air di aliran sungai yang dangkal.
Beberapa tampak asyik berfoto dengan latar perbukitan, sementara yang lain hanya duduk diam menikmati semilir angin.
Tak ada kebisingan kendaraan, tak ada hiruk-pikuk tugas kuliah — hanya alam yang berbicara dengan ketenangan.
Akses yang mudah membuat lokasi ini semakin digemari. Dari kampus Unand, hanya perlu waktu sekitar 10 menit dengan kendaraan roda dua untuk mencapai Check Dam.
Biaya masuknya pun gratis, menjadikannya tempat “healing” yang hemat dan menenangkan bagi mahasiswa.
“Ini pelarian terbaik untuk menjernihkan pikiran, menghilangkan stres setelah tugas-tugas kuliah. Murah, mudah dijangkau, dan sejuknya alam benar-benar menenangkan,” ungkap Yani, pengunjung lainnya.
Meski fungsi utama dam ini adalah bagian dari proyek konservasi air untuk mitigasi banjir, keberadaannya membawa manfaat yang lebih luas — bukan hanya menjaga ekosistem, tetapi juga menghadirkan ruang interaksi sosial dan relaksasi alami di tengah kehidupan mahasiswa yang padat. (cr2)
Editor : Hendra Efison