Riyadhatul Khalbi, Padang—
Mereka adalah anggota Komunitas Cermin, sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas yang berada di bawah Fakultas Ilmu Budaya. Komunitas ini telah lama dikenal sebagai ruang bagi mahasiswa yang ingin mendalami seni teater berbasis bahasa Inggris.
Komunitas ini berdiri dengan filosofi yang cukup unik. Seperti cermin yang merefleksikan diri seseorang, teater dipercaya mampu memantulkan gambaran manusia di hadapan panggung. Bagi mereka, seorang aktor harus mampu merefleksikan siapa pun karakter yang diperankannya.
Selama tahun ini, komunitas tersebut telah beberapa kali menampilkan pementasan teater yang seluruh dialognya menggunakan bahasa Inggris. Genre teater semacam ini tidak banyak ditemui di Kota Padang, sehingga kehadiran mereka menjadi warna tersendiri dalam dunia seni kampus.
Namun perjalanan Cermin tidak selalu mulus. Mereka sempat vakum pada masa pandemi ketika seluruh kegiatan perkuliahan berlangsung secara daring. Pada masa itu, keberlanjutan komunitas ini berada dalam ketidakjelasan.
Dirga Trilinda Putra, mahasiswa Sastra Inggris angkatan 2021 yang memimpin Cermin pada 2022 hingga 2024, mengenang masa-masa sulit tersebut. Menurutnya, hanya beberapa anggota senior yang masih bertahan untuk mempertahankan komunitas saat itu.
Dirga termasuk salah satu dari sekitar dua puluh pendaftar baru yang mencoba bergabung ketika komunitas mulai dibangkitkan kembali. Namun, karena kegiatan belum stabil, sebagian besar pendaftar akhirnya tidak aktif dan meninggalkan komunitas tersebut.
Seiring berjalannya waktu, para anggota yang tersisa berupaya keras menghidupkan kembali Cermin. Mereka harus memulai kembali dari nol karena kevakuman telah menghilangkan pola latihan dan berbagai naskah pementasan terdahulu.
Bantuan dari para senior dan alumni menjadi kunci untuk mengumpulkan kembali arsip dan metode latihan yang pernah ada.
“Kami waktu itu bersepuluh berkomitmen untuk kembali menghidupkan Cermin ini biar tetap ada dan berjalan sebagaimana mestinya seperti dulu,” ujar Dirga. Ia menyebut hingga hari ini perkembangan komunitas tersebut telah memenuhi ekspektasinya.
Komunitas Cermin sendiri telah berdiri sejak 2008. Komunitas ini diinisiasi oleh Donny Eros, dosen Sastra Inggris, sebagai wadah mahasiswa Prodi Sastra Inggris untuk menunjang mata kuliah pementasan drama. Hingga kini, mata kuliah tersebut masih menjadi salah satu mata kuliah wajib semester empat di Program Studi Sastra Inggris.
Meski lahir dari lingkungan Sastra Inggris, komunitas ini tidak pernah membatasi keanggotaan hanya untuk mahasiswa prodi tersebut. Mereka membuka kesempatan bagi mahasiswa dari Prodi dan Fakultas mana pun di Unand yang memiliki minat mendalami seni teater berbahasa Inggris.
Dimas Buditra Habib, mahasiswa Sastra Inggris angkatan 2023 selaku Ketua Komunitas Cermin periode sekarang, menyampaikan bahwa keanggotaan komunitas tersebut kini beragam. Terdapat mahasiswa dari Sastra Indonesia, Sastra Jepang, bahkan dari Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Menurutnya, Cermin menyambut siapa saja yang tertarik bergabung tanpa memandang latar belakang jurusan. Perbedaan kemampuan berbahasa Inggris juga bukan kendala karena seluruh anggota saling membantu meningkatkan kemampuan dialog dan pelafalan.
Salah satu anggota yang berasal dari luar FIB adalah Fauzianne Sabila Aprilianty, mahasiswi Ilmu Komunikasi angkatan 2024. Ia mengenal komunitas ini dari kegiatan pengenalan UKM saat masa orientasi mahasiswa baru.
Fauzianne mengaku tertarik bergabung karena ingin mengasah kemampuan seni teater sekaligus meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Awalnya ia ragu karena bukan berasal dari FIB, namun keraguan itu hilang setelah mengetahui komunitas memperbolehkan mahasiswa lintas fakultas untuk bergabung.
Ia mengatakan para anggota Cermin sangat menerima kehadirannya dengan baik. Meski awalnya kesulitan beradaptasi karena berasal dari luar kota, ia merasa terbantu oleh sikap ramah anggota lainnya yang membuatnya cepat akrab dan nyaman.
Pada 15 November 2025, Komunitas Cermin akan menggelar Cermin Annual Exhibition. Acara ini merupakan pementasan tahunan yang sekaligus menjadi perayaan ulang tahun mereka yang ke-17. Dua drama yang akan dibawakan adalah curse dan can’t you see im’m burning? di Medan Nan Balinduang FIB pada pukul 17.00 hingga 22.00 WIB.
Salah satu pementasan tersebut, curse, disutradarai oleh Ade Kurnia Illahi, mahasiswa Sastra Inggris angkatan 2023. Ketertarikannya pada teater berawal dari pengalamannya menjadi pemeran tambahan dalam pementasan drama seniornya.
Ade mengatakan pengalaman tersebut membuka wawasannya tentang dunia teater. Ia mendapatkan banyak ilmu dari para senior dan semakin tertarik ketika menyaksikan pementasan Komunitas Cermin yang menurutnya sangat luar biasa.
Hobi menulis cerpen membuatnya tertarik mendalami penulisan naskah drama. Naskah ciptaannya kemudian terpilih untuk ditampilkan pada pementasan tahun ini, sekaligus menjadikannya sutradara untuk karya tersebut.
Ia menyebut komunitas ini sebagai rumah kedua karena setiap anggota saling mendukung dan perlahan membangun kembali kekompakan yang sempat hilang selama masa vakum.
Keempat tokoh dalam komunitas tersebut, Dirga, Dimas, Fauzianne, dan Ade, berharap Komunitas Cermin terus berdiri kokoh dan tidak kembali mengalami kevakuman seperti masa lalu. Mereka menginginkan komunitas berkembang lebih besar dengan berbagai program yang sudah direncanakan ke depan. (*)
Editor : Adetio Purtama