Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kisah Inspiratif Sardian Sastra: Penjual Koran yang Sukses Antar Anak jadi Perawat dan Polisi

Mengki Kurniawan • Senin, 17 November 2025 | 10:39 WIB

Sardian Sastra, penjual koran di Pasar Raya Padang, sedang menunggu pembeli di lapaknya, kemarin.
Sardian Sastra, penjual koran di Pasar Raya Padang, sedang menunggu pembeli di lapaknya, kemarin.
Di salah satu sudut strategis Pasar Raya Padang, sosok Sardian Sastra, 61, adalah pemandangan yang tak pernah absen. Rambutnya yang memutih dan keteguhan sikapnya menjadi gambaran nyata seorang pekerja keras yang tak pernah menyerah pada keadaan. Setiap hari, ia berdiri dengan setumpuk koran di tangan, menjajakan informasi bagi warga kota, sekaligus menjadi simbol keteguhan hati dalam menghadapi kerasnya hidup. Seperti apa ceritanya?

Mengki Kurniawan, Padang—

Di usianya yang tak lagi muda, Sardian terus membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti bermimpi. Bahkan, dari profesi sederhana sebagai penjual koran, ia berhasil mewujudkan cita-cita besar keluarganya.

Dua dari empat anaknya kini telah menggapai profesi membanggakan, yakni satu menjadi tenaga kesehatan dan satu lagi mengabdi sebagai aparat keamanan.

Kepada Padang Ekspres ia menceritakan, perjalanan panjang dimulai dari kampung halamannya di Sulitair, Kecamatan X Koto Diatas, Kabupaten Solok. Pada tahun 1972, ketika usianya baru menginjak delapan tahun, ia memutuskan merantau ke Kota Padang.

Sebuah keputusan besar untuk anak seusianya, yang kala itu hanya berbekal tekad kuat untuk mengubah nasib dan janji suci kepada ibunda.

Janji itu sederhana namun bermakna, ia harus menyelesaikan pendidikan hingga tingkat SMA di Padang. Prinsip ini menjadi suluh dalam setiap langkahnya, terutama di masa-masa awal ketika ia tidak memiliki apa pun selain keberanian.

Ia menumpang hidup di tempat para pedagang perempuan di kawasan terminal, yang kini telah berubah menjadi Plaza Andalas.

Tahun demi tahun berlalu, dan Sardian kecil terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Barulah pada 1983, setelah lebih dari satu dekade merantau, ia berhasil menyewa kamar kos pertamanya dengan harga Rp1.500. Dari kamar kecil itulah ia mulai menata hidup dan memperkuat keinginannya untuk bertahan di kota ini.

Ia menambahkan, sejak kecil, ia sudah terbiasa bekerja sambil sekolah. Ia menghidupi dirinya sendiri sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

Awalnya, ia berdagang es di Terminal Lintas, sebuah pekerjaan sederhana namun berarti baginya. Namun, pada 1978, tepat ketika duduk di kelas dua SMP, ia mengambil keputusan penting yang akan membentuk jalan hidupnya, yakni beralih menjadi penjual koran.

Sejak itu, koran menjadi bagian penting dari hidupnya. Ia menjajakan berita dari pagi hingga sore, sembari terus menempuh pendidikan.

Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, ia terlebih dahulu menjual koran untuk mendapatkan uang saku dan biaya kebutuhan sekolah. Ia tumbuh menjadi remaja mandiri yang belajar memaknai kerja keras sejak dini.

Bahkan setelah lulus SMA, kecintaannya pada pendidikan tak berhenti. Ia sempat mengecap bangku kuliah hingga semester lima di jurusan Hukum Pidana Universitas Bung Hatta.

Namun, mimpi meraih gelar sarjana harus terhenti sementara karena keterbatasan biaya. Meski begitu, penyesalan tidak pernah menjadi bagian dari hidupnya.

Di masa ketika media cetak sedang berada pada puncak kejayaannya, pilihan menjadi penjual koran adalah keputusan tepat. Dahulu ia bisa mendapatkan keuntungan hingga Rp150.000 hingga Rp200.000 per hari.

Namun kini, di tengah serbuan internet dan smartphone, keuntungan itu merosot drastis menjadi sekitar Rp50.000 per hari. Meski demikian, ia tetap bertahan karena kecintaannya pada dunia membaca.

Rutinitas Sardian dimulai sejak subuh. Ia menjemput koran di salah satu titik distribusi dan mulai berdagang sekitar pukul enam pagi hingga sore hari.

Lokasinya berada di persimpangan Jalan Pasar Raya, tepat di depan Restoran Selamat, tempat di mana para pelanggan setianya sudah mengenal sosoknya bertahun-tahun lamanya.

Hujan menjadi satu-satunya kendala berat bagi profesinya. Namun, tidak ada cuaca yang mampu menghalangi tekadnya. Ia percaya bahwa koran tetap menjadi media informasi paling aman dari berita bohong.

Kepercayaan ini diperkuat oleh banyak pelanggannya yang masih setia membeli koran darinya, termasuk kalangan akademisi dan guru besar.

Motivasi terbesar dalam hidupnya adalah anak-anak. Ia ingin memberikan pendidikan terbaik, baik formal maupun agama, agar mereka tidak harus melewati jalan terjal seperti yang ia tempuh. Tekad itu bukan sekadar harapan, melainkan nyata diwujudkan melalui cucuran keringat dan kerja keras setiap hari.

Buah manis dari perjuangannya kini sudah dapat ia nikmati. Anak pertamanya, Stefani Sastra, 26, telah berhasil menjadi Perawat dan kini bertugas di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta Barat. Sementara anak keduanya, Elang Sastra, 24, saat ini menjadi Polisi di Polda Sumatera Barat.

Dua anak lainnya, Nadin Sastra dan Alifi Sastra, masih duduk di bangku SMA dan SMP. Meski begitu, masa depan cerah telah tampak di depan mereka, berkat fondasi kuat yang dibangun ayahnya sejak puluhan tahun lalu.

Pelajaran terpenting yang selalu ia pegang adalah pesan dari ibunda ketika ia merantau dulu, yaitu menjadi anak yang jujur. Nilai itu selalu ia tanamkan pada keempat anaknya sebagai bekal berharga dalam menjalani hidup. (*)

Editor : Adetio Purtama
#pasar raya padang #penjual koran #anak #sukses #perawat #polisi #kisah inspiratif