Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Mendekati Satu Abad Jam Gadang: Penjaga Waktu yang tak Pernah Mati di Jantung Bukittinggi

Rian Afdol • Jumat, 7 November 2025 | 11:01 WIB

Kawasan Jam Gadang ramai dikunjungi oleh wisatawan beberapa waktu lalu.
Kawasan Jam Gadang ramai dikunjungi oleh wisatawan beberapa waktu lalu.
Berdiri gagah di tengah kota, Jam Gadang menjadi simbol yang tak tergantikan bagi masyarakat Bukittinggi. Selama hampir satu abad, denting jam setinggi 27 meter itu terus bergema, seolah menjadi pengingat waktu dan saksi bisu perjalanan panjang sejarah kota yang dijuluki “Paris van Sumatera” tersebut. Seperti apa kisahnya?

Laporan RIAN AFDOL, Bukittinggi—

Dibangun pada tahun 1926, Jam Gadang tidak hanya sekadar penunjuk waktu. Ia adalah monumen yang merekam jejak masa kolonial, perjuangan kemerdekaan, hingga geliat pariwisata modern.

Di bawah menara yang anggun ini, ribuan kisah dan kenangan berpadu antara masa lalu dan masa kini, menjadikannya sebagai ikon abadi yang menyatukan warga dan pengunjung dari berbagai penjuru dunia.

Bangunan ini memiliki lima lantai dengan luas dasar sekitar 6,5 x 6,5 meter. Dari lantai pertama yang memiliki tangga lebar hingga empat meter, pengunjung dapat membayangkan proses panjang perancangannya di masa lampau.

Di lantai keempat, terdapat mesin jam berukuran besar sekitar 150 x 150 cm dengan tinggi dua meter, buatan pabrik B. Vortmann, Recklinghausen I.W. Germany. Mesin tua ini masih berfungsi sempurna hingga hari ini, menandakan kualitas dan ketekunan kerja para pembuatnya.

Empat sisi menara dihiasi jam raksasa berdiameter 80 cm, sementara di puncaknya, lonceng kuno masih berdentang nyaring setiap jam berganti. Tulisan berbahasa Jerman di permukaan lonceng menjadi bukti bahwa perangkat jam ini merupakan buatan pabrikan ternama di Eropa.

Namun yang membuat bangunan ini semakin istimewa adalah fakta bahwa desain dan konstruksinya dikerjakan oleh dua putra Minangkabau, Yazid Sutan Maruhun dan Rasid Sutan Gigi Ameh.

Keunikan Jam Gadang tidak hanya terletak pada teknologinya, tetapi juga pada bahan bangunannya. Tanpa menggunakan besi penyangga, menara ini dibangun dengan campuran semen, kapur, pasir putih, dan putih telur, metode tradisional yang memperlihatkan kearifan lokal dan kekuatan teknik arsitektur masa itu.

Atap Jam Gadang pun mengalami beberapa kali perubahan bentuk mengikuti perjalanan sejarah bangsa. Di masa Hindia Belanda, puncak menara berbentuk kubah dengan patung ayam jantan di atasnya.

Foto beberapa bentuk perubahan bentuk puncak Jam Gadang, Bukittinggi
Foto beberapa bentuk perubahan bentuk puncak Jam Gadang, Bukittinggi

Saat pendudukan Jepang, desainnya berubah menjadi segi empat dengan gaya arsitektur Jepang. Setelah Indonesia merdeka, atapnya berganti menjadi bentuk gonjong khas Minangkabau, simbol kejayaan dan identitas budaya daerah.

Kini, hampir seabad kemudian, Jam Gadang tidak hanya menjadi ikon sejarah tetapi juga magnet utama pariwisata Kota Bukittinggi. Setiap akhir pekan dan musim liburan, area di sekelilingnya ramai dipadati wisatawan.

Di siang hari, para pengunjung menikmati keindahan arsitekturnya, sementara malam hari menjadi waktu favorit untuk berswafoto dengan latar cahaya yang menyorot gagah dari menara.

Zaki, 19, warga Bukittinggi yang ditemui di sekitar lokasi, mengaku bangga dengan keberadaan Jam Gadang yang menjadi simbol kebanggaan warga kota.

“Tentu bangga, Jam Gadang menjadi simbol penting bagi kita orang Bukittinggi, baik dahulu maupun sekarang, dan tentunya di masa yang akan datang,” ujarnya sambil tersenyum.

Bagi Zaki, keberadaan Jam Gadang tidak hanya bernilai sejarah, tapi juga memberikan dampak ekonomi yang nyata. “Dampaknya tentu besar, karena banyak pengunjung, ada dampak ekonomi dan dampak positif lainnya. Harapan saya, Jam Gadang terus dikelola dengan baik sehingga manfaatnya tetap dirasakan masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Abrar Maulana, 42, pengunjung asal Padang, menilai bahwa daya tarik Jam Gadang semakin kuat berkat dukungan fasilitas pariwisata di sekitarnya.

“Ada banyak pendukung, salah satunya kuliner. Bagi pengunjung sangat mudah untuk mencari makanan khas dan lezat. Kalaupun ingin membawa oleh-oleh, pilihannya juga beragam,” tuturnya.

Ia menambahkan, Bukittinggi memiliki banyak penginapan dengan beragam kelas dan harga, memudahkan wisatawan memilih sesuai kebutuhan.

Lonceng yang berada di dalam Jam Gadang.
Lonceng yang berada di dalam Jam Gadang.

“Kota ini memang lengkap. Selain Jam Gadang, ada Ngarai Sianok, Lubang Jepang, Kebun Binatang, Benteng Van Der Kock, dan banyak lagi. Jadi ke Bukittinggi seperti dapat paket wisata lengkap, sejarah, alam, kuliner, dan budaya,” katanya.

Bagi sebagian orang, Jam Gadang adalah penanda waktu. Namun bagi masyarakat Bukittinggi, menara ini adalah penjaga memori kolektif, saksi bisu dari zaman yang berubah, dan inspirasi bagi generasi baru untuk tetap bangga dengan warisan leluhur.

Dentangnya tak hanya menandai pergantian jam, tetapi juga menyuarakan denyut kehidupan kota yang terus bergerak maju tanpa melupakan akar sejarahnya. Di bawah bayangan menara ini, setiap langkah pengunjung seolah berpadu dengan irama waktu yang terus berputar, membawa Bukittinggi dari masa lalu yang penuh cerita menuju masa depan yang cerah. (*)

Editor : Adetio Purtama
#jam gadang #satu abad #jantung #penjaga waktu #bukittinggi