Sedangkan pembangunan masjid yang perencanaannya juga sudah menelan anggaran ratusan juta rupiah di Dinas Pekerjaan Umum, hingga kini masih belum menunjukkan tanda-tanda kapan dimulainya.
AKHIR November lalu, Padang Ekspres mengunjungi lahan yang disiapkan Pemko Payakumbuh untuk pembangunan Masjid Agung tersebut. Lahan itu berada di kawasan Sawahkoreh, Pakansinayan, Koto Nan Ompek, Payakumbuh Barat.
Akses jalan menuju lahan Masjid Agung tersebut, dapat dilewati dari jalan raya Balaipanjang, dekat bekas Balaikota Bukiksibaluik. Bisa pula lewat jalan Soekarno-Hatta, persisnya sebelah kiri dekat kios pedagang drum dan jeriken, sebelum Simpang Ngalau Indah dari arah pusat kota Payakumbuh.
Akses jalan menurut lahan Masjid Agung Payakumbuh, sebagian besar merupakan bekas jalur kereta api yang pernah melintasi kota ini. Sekarang, kondisi jalan menuju lahan tersebut dipenuhi dengan semak-semak berduri. Sedangkan lahan untuk lokasi pembanguna Masjid Agung sendiri, masih ditanami dengan jagung.
Menurut seorang warga yang tinggal di dekat lahan tersebut, jagung yang tumbuh di atas lahan untuk pembangunan Masjid Agung Payakumbuh, merupakan jagung yang ditanam para pemilik lahan.
Para pemilik lahan yang sudah menerima ganti kewajaran dari pemerintah daerah, dibolehkan menggarap lahan mereka, sampai rencana pembangunan Masjid Agung terwujud.
Berdasarkan data yang pernah diperoleh Padang Ekspres dari Pemko Payakumbuh melalui Kecamatan Payakumbuh Barat, ada 43 persil tanah yang terkena rencana pembangunan Masjid Agung Payakumbuh di kawasan Sawahkoreh, Pakansinayan. Ke-43 persil tanah itu dikuasakan kepada 26 orang.
Dari 43 persil tanah itu, sudah dibayarkan ganti wajarnya sebanyak 37 persen oleh pemerintah daerah pada tahun 2021 lal. Adapun anggaran untuk pembebasan tanah ini, terbilang besar. Dialokasikan dalam beberapa tahun anggaran oleh Pemko Payakumbuh.
Berdasarkan data yang diperoleh Padang Ekpres, untuk membangun Masjid Agung, Pemko Payakumbuh membutuhkan tanah seluas 4,8 hektare hingga 5 hektare. Untuk pembebasan tanah ini, Pemko Payakumbuh sudah mengalokasikan anggaran sebesar Rp4,7 miliar pada tahun 2019 dan sebesar Rp10 miliar pada tahun 2020.
Meski sudah menelan anggaran daerah belasan miliar rupiah, termasuk anggaran untuk perencanaan yang ditender Dinas PU Payakumbuh tahun 2022 lalu dengan nilai pagu paket sebesar Rp385 juta, namun Masjid Agung Payakumbuh sampai kini belum melihatkan tanda-tanda akan dimulai pembangunannya.
Maka tidak heran, bila kalangan DPRD pun, angkat bicara terhadap kondisi ini. Misalnya, saja. Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (F-PPP). Sebelum mengesahkan APBD Payakumbuh tahun 2023, Fraksi PPP yang terdiri dari Ahmad Zifal, Edwadr DF, dan Alhudrie Dt Rangkayo Mulie, meminta mendorong pemerintah kota, untuk mencarikan solusi.
Agar rencana pembangunan Masjid Agung bisa dimulai melalui dana APBD, APBN ataupun bantuan dari pihak lain yang tidak mengikat. Sejauh ini, Pemko Payakumbuh memang belum punya anggaran untuk memulai pembangunan fisik Masjid Agung.
Pada Agustus 2020 lalu, Pemko dan DPRD Payakumbuh sepakat, membangun Masjid Agung dengan sistem multi year atau kontrak tahun jamak. Ini karena pelaksanaan pengerjaannya, membebani APBD lebih dari satu tahun anggaran.
Akan tetapi, dua bulan kemudian, tepatnya November 2020, Pemko dan DPRD Payakumbuh membatalkan nota kesepakatan tentang Pelaksanaan Sub Kegiatan Tahun Jamak Pembangunan Masjid Agung. Ini terjadi karena berkurangnya pendapatan daerah yang diterima Payakumbuh pada tahun anggaran 2021 gara-gara Covid-19.
Walau gagal membangun Masjid Agung menggunakan APBD tahun 2021, Wali Kota Payakumbuh 2012-2022 Riza Falepi tidak hilang akal. Sebelum masa jabatannya berakhir pada September lalu, Riza membidik bantuan Arab Saudi.
Dengan restu dari Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah, Riza Falepi mengajukan proposal pembangunan Masjid Agung ke Kedutaan Besar (Kedubes) Arab Saudi di Jakarta. Rupanya, proposal yang dikirim Riza Falepi direspons Kedubes Arab Saudi.
Buktinya, Kepala Atase Agama Kedubes Arab Saudi di Jakarta, Syeikh Ahmad Bin Essa Al Hazmi, sengaja datang ke Payakumbuh, Rabu lalu (8/12/2021). Kemudian, Duta Besar Arab Saudi, Syeikh Essam Abed Al-Thaqafi beserta Yahya Al Qhatani (Wakil Duta Besar), juga datang ke Payakumbuh pada Januari 2022. Mereka datang melihat lokasi pembangunan Masjid Agung.
Dalam kesempatan itu, Riza Falepi mengaku terharu, proposal pembangunan Masjid Agung direspons Kedubes Arab Saudi. Riza menyebut, kalau Masjid Agung dibangun dengan APBD, diperkirakan baru selesai dalam 10 tahun. Dengan catatan, dianggarkan setiap tahun.
Dan kepala daerah berikutnya, komit untuk melanjutkan. Tapi jika tidak, tentu masjid ini tak jadi-jadi. Riza berharap, Duta Besar Arab Saudi yang datang ke Payakumbuh bisa menyampaikan kepada Raja Salman agar berkenan membangunkan Masjid Agung di Payakumbuh. Jika selesai, masjid Agung ini akan dinamai sebagai Masjid King Salman.
Disisi lain, Kepala Dinas PUPR Payakumbuh Muslim menyebut, jika proposal yang diajukan Pemko Payakumbuh ke Kedubes Arab Saudi disetujui Raja Salman, maka tahun 2022, pembangunan Masjid Agung sudah bisa dimulai.
“Tanah sudah siap. Perencanaan, studi kelayakan, dan amdal juga sudah selesai. Kita mengajukan kebutuhan sebesar Rp290 miliar hingga jadi semuanya. Termasuk bangunan utama dan bangunan pendukung,” ujar Muslim.
Hanya saja, sampai sekarang, rencana pembangunan Masjid Agung Payakumbuh, masih seperti menggantang asap dan mengukir langit. Agar perencanaan pembangunan tidak mubazir, banyak pihak mendorong agar Pemko Payakumbuh berupaya mencari solusi anggaran buat pembangunan masjid ini.(frv) Editor : Novitri Selvia