Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pasar Payakumbuh: Pernah Terbakar 1982, Dibangun lewat Inpres

M Fajar Rillah Vesky • Rabu, 27 Agustus 2025 | 11:15 WIB
M. Fajar Rillah Vesky, Anggota DPRD Limapuluh Kota.(dok. Padek)
M. Fajar Rillah Vesky, Anggota DPRD Limapuluh Kota.(dok. Padek)

Oleh: Fajar Rillah Vesky, Penulis Buku Sejarah Payakumbuh.

PADEK.JAWAPOS.COM- Iman pedagang Pasar Payakumbuh sedang diuji. Ketika jual-beli sepi, tempat mereka berjualan di Blok Barat, ludes pula dilahap api, Selasa pagi (26/8/2025).

Kebakaran serupa, di lokasi yang sama pernah terjadi tahun 1982. Peristiwa itu dikenang Masri MS, Wali Kota kedua Payakumbuh, saat saya mewawancarainya untuk penulisan buku “40 Tahun Payakumbuh: Dari Soetan Oesman Hingga Josrizal Zain” (2010).

Buku itu saya tulis bersama Rendra Trisnadi, putra mantan Ketua LKAAM Sumbar, mendiang Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie.

Dan sebagian besar isinya, termasuk wawancara dengan semua yang pernah menjadi wali kota dan wakil wali kota Payakumbuh, saya tulis ulang, saat saya bersama sastrawan Gus tf Sakai, diminta menulis buku “45 Tahun Payakumbuh: Tumbuh Kembang Sebuah Kota” (2015).

Menurut Masri MS, kebakaran Pasar Payakumbuh, dua kali terjadi semasa kepemimpinannya. Pertama tahun 1979. Kedua tahun 1982. Kebakaran tahun 1982, terjadi persis di Blok Barat, lokasi kebakaran sekarang.

Saat kebakaran tahun 1982, seluruh pedagang pasar kehilangan tempat berjualan. Mirip kejadiannya dengan kebakaran tahun 2025.

Setelah kebakaran tahun 1982, putra Nagari Sumaniak, Kabupaten Tanahdatar ini bersama Pemko Payakumbuh berusaha membangun kembali pasar tersebut.

Upaya itu didukung penuh DPRD Payakumbuh pada periode tersebut. Bahkan, DPRD kala itu mengajukan petisi kepada pemerintah pusat, tentang penghapusan utang pedagang pasar yang mengalami musibah kebakaran.

Bukan itu saja, DPRD juga meminta pemerintah pusat memberikan kredit untuk pembangunan atau pemugaran kembali los dan toko yang terbakar di kawasan pasar.

Permintaan ini masuk akal. Sebab, pada kurun 1979 sampai 1983, Pak Harto yang menjabat Presiden Indonesia, menerbitkan tiga Instruksi Presiden (Inpres) tentang bantuan kredit pasar.

Pertama, Inpres 15/1979 tentang Bantuan Kredit Pembangunan dan Pemugaran Pasar Tahun 1978/1980. Kedua, Inpres 8/1981 Tentang Bantuan Kredit Pembangunan dan Pemugaran Pasar Tahun 1981/1982.

Serta ketiga, Inpres 10/1983 tentang Bantuan Kredit Pembangunan dan Pemugaran Pasar Tahun 1983/1984. Bermodal tiga Inpres inilah, Pemko Payakumbuh dapat membangun kembali pasar yang terbakar pada tahun 1979 dan 1982.

Baca Juga: Rp 6 Miliar untuk Rehabilitasi Irigasi Lubuak Sikoci

Namun, pembangunannya secara total baru dimulai tahun 1983, saat kepemimpinan di Payakumbuh, berganti dari Masri MS kepada Muzahar Muchtar Dt Siri Dirajo.

Muzahar Muchtar adalah putra Ampanggadang, Guguak, Limapuluh Kota, yang sebelumnya menjabat Wali Kota Padangpanjang.

Dalam buku autobiografinya, Muzahar Muchtar mengakui, pembangunan pasar Payakumbuh yang terbakar tahun 1979 dan 1982, dilakukan dengan Inpres tentang bantuan kredit pasar.

Baca Juga: Rajo Sampono Puji Capaian Kerja JKA

Selama pembangun pasar digencarkan tahun 1983, otomatis kawasan pasar Blok Timur dan Blok Barat dikosongkan dari aktivitas pedagang.

Semua pedagang dialihkan ke luar kawasan pasar. Kegiatan perdagangan ditampung pada tujuh ruas jalan di sekitar kawasan pasar.

Keadaan darurat itu terus berlangsung selama dua tahun hingga proyek rampung. Selama periode itu tidak ada pemungutan sewa kios. Sehingga pendapatan asli daerah berkurang.

Baca Juga: Payakumbuh Targetkan Swasti Saba Wistara ke-8, Dalam Penilaian Kota Sehat 2025

Muzahar Muchtar mengakui setelah proyek pasar rampung sekitar tahun 1985, persoalan pembagian kios muncul. Sehingga semua celah penyelewengan harus ditutup rapat.

Hal ini belajar pada pengalaman kota lain yang penempatan kios pedagang banyak dicurangi staf pelaksana demi memperoleh tempat strategis.

Sehingga pimpinan dan staf yang bermain kotor menuai protes dari pedagang. Muzahar tak ingin itu terjadi di Payakumbuh. Karenanya, digunakan sistem pengundian untuk pembagian kios.

Baca Juga: Dua Penyuluh Agama Islam Sumbar Raih Juara Terbaik Penais Award 2025 

Prosedur pembagian petak toko yang sesuai jenis barang dagangan disusun sedemikian rupa. Hasilnya pembagian petak toko yang rawan kekacauan; berjalan lancar. Para pedagang puas.

Alhasil, Pusat pertokoan Payakumbuh Blok Barat dan Blok Timur diresmikan langsung Mendagri Letjen (Purn) Supardjo Rustam, didampingi Dirjen Pembantuan Daerah Drs Atar Sibero dan Gubernur Sumbar Azwar Anas.

Setelah peresmian tersebut, sumber pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemda Payakumbuh kembali bernyawa melalui pungutan retribusi sewa setiap bulannya atau dibayarkan sekali setahun dengan tarif yang ditetapkan oleh DPRD.

Baca Juga: Pemerintah tak Berencana Perpanjang Insentif EV Impor, Dorong Pabrikan Mulai Penuhi Aturan Penggunaan Komponen Lokal

Jangan Biarkan Berjuang Sendiri

Lantas, bagaimana dengan kebakaran tahun 2025? Apa akal yang harus dilakukan Pemko Payakumbuh? Memang benar, kapasitas fiskal Pemko Payakumbuh saat ini lebih kuat dari induknya Kabupaten Limapuluh Kota.

Pendapatan asli daerah Payakumbuh juga lebih besar dari Limapuluh Kota. Tapi, dengan kebakaran pasar yang terjadi sekarang, Pemko Payakumbuh sepertinya bakal keteteran mencari anggaran untuk membangun kembali pasar yang terbakar.

Apalagi, toko, kios, lapak atau palung yang terbakar subuh kemarin, tidak main-main jumlahnya.

Baca Juga: Perkuat Peran PKK untuk Kesejahteraan Masyarakat

Sekretaris Kota Payakumbuh Rida Ananda menyebut, kebakaran di Blok Barat Pasar Payakumbuh, Selasa 26 Agutus 2025, membuat hangus 68 petak toko, 38 kios, 160 palung, 9 palung patri, dan 5 RBT.

Kebakaran itu juga berdampak terhadap 99 toko, 10 kios, 16 palung patri, dan 7 RBT lainnya di blok yang sama.

Dalam kondisi efisiensi anggaran secara nasional dan dana transfer dari pusat yang terus berkurang buat daerah, APBD Payakumbuh diperkirakan tidak akan kuat membangun pasar yang terbakar dalam waktu cepat.

Baca Juga: LPS Turunkan Bunga Penjaminan Simpanan Bank Umum-BPR, Pertahankan TBP Tabungan Valas

Atas kondisi ini, sudah sepatutnya Pemerintah Provinsi Sumbar turun tangan. Begitu pula dengan seluruh anggota DPR-RI dan DPD-RI dari Sumatera Barat.

Jangan biarkan Payakumbuh, kota yang berusia 55 tahun pada Desember mendatang, berjuang sendiri menanggung deritanya.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang rajin membuat Inpres seperti zaman Pak Harto, perlu memberi perhatian khusus buat Pasar Payakumbuh yang terbakar.

Baca Juga: Atlet Muda Padang, Iqbal Saputra Sabet Juara Half Marathon Maybank Bali 2025, Lanjut ke Sidney

Jika pembangunan jalan untuk sebuah kawasan perumahan di Kota Padang saja, bisa digunakan dengan Inpres.

Mudah-mudahan, Presiden Prabowo, berkenan pula membuat Inpres, atau setidaknya mengucurkan anggaran buat pembangunan Pasar Payakumbuh.

Sejarah Panjang

Pasar Payakumbuh sendiri punya sejarah yang panjang. Sebelum Payakumbuh diresmikan Mendagri Amir Machmud sebagai sebuah kotamadya pada tahun 1970, hasil dari pemekaran Kabupaten Limapuluh Kota, pasar Payakumbuh pernah bernama pasar serikat.

Baca Juga: Persija Jakarta Incar Puncak Klasemen Saat Hadapi Dewa United di Pekan ke-4 BRI Super League

Pada tanggal 17 Februari 1971, pasar serikat itu diserahkan Pemkab 50 Kota kepada Kotamadya Payakumbuh, dengan dasar hukum Keputusan Gubernur Sumbar Nomor 18/GSB/1971.

Meski status pasar serikatnya sudah lama hilang. Namun, keberadaan Pasar Payakumbuh, tetap menjadi kebanggaan bersama dan memori kolektif.

Tidak hanya bagi warga Kota Payakumbuh, tapi juga bagi warga Kabupaten Limapuluh Kota dan daerah hinterlandnya.

Baca Juga: Rio Ngumoha Pecahkan Rekor di Liverpool: Lebih Muda Sehari dari Gol Ikonik Wayne Rooney

Karenanya, pembangunan kembali pasar yang terbakar, patut menjadi agenda serius Pemko Payakumbuh ke depannya. Sementara menunggu pasar dibangun, kembali, pedagang yang mengalami kerugian, tentu perlu diinvetarisir.

Agar mereka bisa berjualan kembali, tak ada salahnya, Pemko Payakumbuh melirik-lirik toko di Blok Timur yang kosong, sebagai tempat berjualan sementara.

Kerja sama pembangunan pasar dengan pihak ketiga yang pernah dijalin, tapi masih menyisakan petak-petak toko yang kosong, meski diretas kembali. Semoga saja, Payakumbuh kuat dan badai cepat berlalu. (*)

Baca Juga: Hingga Agustus 2025 Produksi Padi Kota Padang hanya 19.747 Ton

Editor : Novitri Selvia
#Gus tf Sakai #Rida Ananda #kebakaran pasar #Inpres #Rendra Trisnadi #Masri MS #Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie