Berdasarkan data resmi RSUD M. Natsir, jumlah pasien rawat jalan naik dari 81.342 kunjungan pada 2020 menjadi 126.783 kunjungan pada 2024.
Sementara pasien rawat inap meningkat dari 8.593 pasien (2020) menjadi 13.217 pasien (2024).
Kunjungan pasien didominasi oleh warga Kabupaten Solok (58,2%) dan Kota Solok (34,1%).
Daerah lain yang memanfaatkan layanan rumah sakit ini meliputi Kota Sawahlunto (2,8%), Kabupaten Sijunjung (2,3%), Kabupaten Solok Selatan (0,4%), dan Kabupaten Dharmasraya (0,3%).
Seiring meningkatnya kebutuhan layanan spesialistik, RSUD M. Natsir menjadi lokasi kegiatan pengabdian Bedah Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) – RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) pada Jumat, 21 November 2025.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, menyambut baik kolaborasi tersebut.
“Keberadaan tim FK UI RSCM di RSUD M. Natsir merupakan ikhtiar bersama untuk menghadirkan pelayanan bedah saraf yang lebih merata, sekaligus bertujuan untuk meningkatkan kompetensi tenaga medis daerah,” ujar Mahyeldi di Solok.
Mahyeldi berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin setiap tahun.
“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi menjadi awal dari kerja sama jangka panjang yang berdampak positif untuk masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Bedah Saraf FKUI RSCM, dr. Setyo Widi Nugroho, menyoroti tantangan layanan saraf di Indonesia, khususnya pada penanganan Kanker, Jantung, Stroke, dan Uronefro (KJSU).
“Kualitas dan akses layanan stroke di Indonesia masih tertinggal karena sebagian besar pasien datang terlambat, sehingga membutuhkan pengobatan skala berat,” ungkap Setyo.
Berdasarkan analisis internal FKUI RSCM, Indonesia membutuhkan 435 rumah sakit siap stroke, namun saat ini baru tersedia 37 rumah sakit.
Kondisi ini mendorong perlunya penguatan layanan bedah saraf di daerah, termasuk di Sumatera Barat.(*)
Editor : Hendra Efison