Pernyataan tersebut disampaikan Nevi sebagai refleksi atas rangkaian bencana yang terjadi di Sumatera Barat.
Nevi menyebut para istri pejabat publik PKS sebagai “penjaga nurani negara”, yakni perempuan-perempuan yang hadir untuk memastikan negara berada di tengah masyarakat saat krisis terjadi.
Ia menilai peran mereka tidak ditujukan untuk mendapat sorotan, tapi untuk menjalankan panggilan kemanusiaan.
Menurutnya, aksi para perempuan tersebut merupakan bentuk “ketangguhan sunyi” yang terlihat di dapur umum, tenda pengungsian, wilayah terdampak longsor, serta rumah-rumah warga yang kehilangan tempat tinggal.
“Mereka adalah sosok yang bergerak lebih cepat dari sirene pemerintah, karena mata seorang ibu selalu lebih peka membaca derita,” ujar Nevi.
Legislator asal Sumatera Barat II itu menegaskan bahwa istri pejabat publik bukanlah pihak yang berdiri di belakang suami, melainkan berdiri bersama rakyat dalam masa-masa sulit.
Nevi mencontohkan langkah Harneli Mahyeldi yang membatalkan pesta pernikahan putrinya demi mendampingi warga terdampak bencana, serta upaya Yasmiati yang menembus jalur sulit sebelum bantuan besar tiba di lokasi.
Ia juga menyoroti peran Meri Beni Warlis yang menggerakkan solidaritas dari Kabupaten Agam, Lian Octavia yang mempercepat distribusi kebutuhan keluarga di Solok, Gusmalini yang memberikan dukungan kepada para ibu di Pasaman Barat, dan Melinda yang turut membantu pemulihan masyarakat di Limapuluh Kota. Seluruh gerakan tersebut, kata Nevi, dilakukan tanpa menunggu instruksi formal.
Nevi, yang merupakan istri Gubernur Sumbar periode 2010–2020, menyampaikan bahwa para srikandi PKS disatukan oleh tiga karakter utama: empati sebagai identitas keluarga, solidaritas sebagai kebiasaan, dan kehadiran fisik sebagai bentuk kepemimpinan moral.
Menurutnya, keberadaan mereka memberi masyarakat bukan hanya bantuan, tetapi juga kekuatan untuk bangkit.
Dalam pesannya, Nevi menegaskan bahwa bangsa akan tetap kuat selama perempuan berhati besar terus berada di garis depan kemanusiaan.
“Mereka adalah pendamping pejabat publik, dan mereka adalah pilar yang menjaga kehangatan hati bangsa. Dengan keteladanan mereka, Indonesia belajar bahwa kekuatan sebuah negara sering kali tumbuh dari kelembutan yang bekerja dalam diam,” tutupnya.(*)
Editor : Heri Sugiarto