Program ini menitikberatkan pada konseling trauma berbasis Ifdil Perceptual Light Technique (IPLT) yang dipadukan dengan pendidikan darurat inklusif dan penguatan resiliensi komunitas.
Kegiatan dilakukan di Salareh Aia pada 18–22 Desember 2025 dan kembali turun pada 29–30 Desember 2025, Silayang pada 20 Desember 2025, serta Koto Tinggi pada 21–24 Desember 2025.
Ketua Tim Pelaksana, Prof. Ifdil, menyampaikan bahwa kegiatan difokuskan pada anak-anak, keluarga, serta kelompok rentan.
“Pendampingan psikososial harus berjalan bersamaan dengan pemenuhan kebutuhan dasar agar proses pemulihan masyarakat lebih efektif,” jelasnya.
Tim Lintas Disiplin dan Mahasiswa Terlibat Aktif
Program ini melibatkan tim dosen lintas disiplin UNP, yakni Prof. Asmar Yulastri, Prof. Dr. Afdal, Dr. Nurhastuti, Dr. Mardianto, Dr. Yudi Antomi, Dr. Zadrian Ardi, Dr. Zahriyah Simargolang, dan Evelynd, dengan dukungan mahasiswa sebagai pendamping lapangan.
Mahasiswa berperan dalam penyelenggaraan kegiatan ramah anak, pendidikan darurat, edukasi komunitas, penyaluran bantuan, serta pelaporan lapangan. Keterlibatan mahasiswa ini bertujuan memastikan program berjalan terstruktur dan tepat sasaran.
Penyaluran Logistik dan Kolaborasi dengan Relawan Lokal
Selain layanan psikososial, tim UNP menyalurkan bantuan logistik dan kebutuhan pokok bagi warga terdampak di ketiga lokasi.
Kegiatan ini dilakukan bekerja sama dengan perangkat nagari dan relawan lokal untuk menjamin kelangsungan program.
Program pendampingan dan penyaluran bantuan ini didukung pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Tanggap Darurat Bencana Tahun 2025.
“Sinergi antara akademisi, mahasiswa, dan komunitas lokal menjadi kunci keberhasilan program pemulihan pascabencana ini,” kata Prof Ifdil.(*)
Editor : Heri Sugiarto