PADEK.JAWAPOS.COM - Di sebuah ruangan kantor Yayasan Wakaf Ar Risalah Padang, Kamis (23/4), percakapan soal uang tidak terdengar seperti urusan teknis semata. Ia berubah menjadi soal prinsip, bahkan keyakinan.
Bendahara Yayasan Riza Elvera didampingi Ketua Layanan Umum Emiria dan Kepala Sekretariat dan Humas Farid Miftahul Ramadhan membeberkan satu pilihan yang sejak lama dipegang teguh: seluruh pengelolaan keuangan yayasan hanya melalui bank syariah.
Bukan keputusan mendadak. Bukan pula tren. Di Yayasan Wakaf Ar Risalah Padang, pilihan itu sudah berjalan sejak awal, dan hingga kini tidak pernah bergeser ke bank konvensional. “Sejak awal kita memang diarahkan ke bank syariah. Kita belum pernah melakukan pembiayaan ke bank konvensional,” ujar Vera, tenang.
Pilihan itu kini melibatkan sejumlah lembaga keuangan syariah besar seperti, Bank Syariah Indonesia, Bank Muamalat Indonesia, dan Bank Nagari Syariah. Dari pembiayaan pembangunan gedung, pengelolaan operasional, hingga sistem pembayaran pendidikan, semuanya bergerak dalam ekosistem yang sama: syariah.
Di balik pilihan itu, ada alasan tidak sekadar administratif. Vera menyebut, perbedaan prinsip antara sistem bagi hasil di bank syariah dan mekanisme bunga di bank konvensional menjadi pertimbangan utama. Namun lebih dari itu, ada kesesuaian nilai yang ingin dijaga oleh yayasan. “Bukan hanya soal margin atau biaya, tapi soal kesesuaian prinsip,” katanya.
Di luar ruang rapat, pilihan itu terasa nyata dalam keseharian. Sistem pembayaran SPP siswa, misalnya, sudah menggunakan virtual account (VA) terhubung ke beberapa bank syariah. Orangtua tidak perlu lagi antre atau datang ke sekolah. Semua bisa dilakukan dari jarak jauh, dengan sistem otomatis mencatat transaksi. “Lebih mudah, lebih efisien. Sistemnya sudah jalan,” tambah Vera.
Namun yang menarik, bank-bank mitra justru tidak berhenti di layanan digital. Mereka datang langsung ke yayasan. Menawarkan pembiayaan, menanyakan kebutuhan pembangunan, hingga membuka komunikasi rutin.
“Kadang mereka datang langsung. Jemput bola. Tanyakan apakah ada kebutuhan pembangunan atau dana segar,” ujarnya.
Di sisi lain, Kepala Sekretariat dan Humas Farid Miftahul Ramadhan melihat pilihan bank syariah bukan sekadar soal teknis keuangan. Lebih dalam dari itu, ia menyebutnya bagian dari DNA lembaga.
Yayasan Wakaf Ar Risalah berdiri di atas gagasan bahwa aset pendidikan harus menjadi milik umat. Bukan individu, bukan keluarga, tetapi wakaf yang dikelola untuk keberlanjutan jangka panjang.
“Sejak awal, ini yayasan wakaf. Artinya kepemilikan umat. Maka sistem keuangannya juga harus menjaga nilai itu,” kata Farid.
Sejak dibentuknya Badan Pengelola Wakaf pada 2017, konsep wakaf di Ar Risalah berkembang jauh dari sekadar donasi. Ia menjadi sistem ekonomi. Dana pendidikan, yang dulu disebut “uang titipan”, kini diarahkan menjadi wakaf berjangka atau wakaf abadi.
Perubahan istilah itu bukan sekadar kosmetik. Ia mengubah cara pandang. Orangtua siswa kini diberi pilihan: menarik kembali dana atau mewakafkannya untuk dikelola secara produktif.
“Kalau diwakafkan, ada nilai ibadah yang terus mengalir. Dan manfaatnya bisa terus berkembang,” jelas Farid.
Dari situ, lahir berbagai unit usaha produktif. Salah satunya kebun hidroponik melon di lingkungan sekolah putri. Sudah dua kali panen, hasilnya kembali ke ekosistem pendidikan. Ada juga kebun cabai, kebun sawit, hingga pengembangan wakaf lahan untuk fasilitas pendidikan.
Di titik ini, bank syariah bukan hanya lembaga keuangan. Ia menjadi bagian dari rantai besar: wakaf, pendidikan, dan keberlanjutan ekonomi. “Wakaf itu bukan hanya soal memberi, tapi menghidupkan sistem,” kata Farid.
Saat ini, Ar Risalah mengelola sekitar 1.800 siswa boarding dari jenjang SMP hingga SMA/MA. Skala ini membuat sistem keuangan dan wakaf menjadi tulang punggung utama operasional.
Di balik semua itu, ada konsistensi yang tidak banyak berubah sejak awal: tidak ada bank konvensional dalam sistem utama yayasan. Pilihan itu mungkin terlihat sederhana dari luar, tetapi di dalamnya ada arah yang jelas—menjaga kesesuaian antara nilai, sistem, dan praktik.
Di tengah dunia pendidikan yang makin digital dan kompetitif, Ar Risalah memilih jalan yang tetap berpijak pada prinsip. Dan di jalan itu, bank syariah bukan sekadar mitra transaksi, melainkan bagian dari cara mereka menjaga makna. (*)
Editor : Adriyanto Syafril