PADEK.JAWAPOS.COM-Kasus keracunan massal yang diduga karena Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Agam, kini dinyatakan sepenuhnya terkendali. Hingga Minggu (5/10), seluruh korban sudah pulih dan tidak ada lagi pasien yang dirawat di fasilitas kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Agam Hendri Rusdian mengatakan, satu korban terakhir yang sebelumnya masih dirawat di RSUD Lubukbasung sudah diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan intensif selama tiga hari.
“Kondisi terakhir alhamdulillah sudah stabil. Tidak ada lagi korban yang dirawat dan tidak ada tambahan kasus baru sejak Sabtu (4/10),” ujar Hendri di Lubukbasung, Minggu (5/10).
Korban yang dirawat terakhir merupakan siswa MTs di Kecamatan Lubukbasung. Ia sempat menjalani perawatan lebih lama karena masih membutuhkan terapi suntikan. Kini, 120 korban sudah dinyatakan sembuh seluruhnya.
“Semuanya sudah pulih, baik yang dirawat di RSUD, Puskesmas Manggopoh, Puskesmas Lubukbasung, maupun RSIA Rizki Bunda,” jelasnya.
Menurut Hendri, sebelumnya pada Jumat (3/10) pagi masih terdapat 20 korban yang dirawat di RSUD Lubukbasung. Namun, 19 di antaranya diperbolehkan pulang pada siang harinya setelah kondisi mereka membaik.
“Total korban berjumlah 120 orang. Hingga Sabtu sore, 119 sudah pulih sepenuhnya dan tidak ada lagi tambahan kasus baru,” katanya.
Meski kondisi lapangan sudah aman, Pemkab Agam terus melanjutkan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti kasus yang sempat ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) itu.
Pemerintah daerah telah mengirim empat jenis sampel ke Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Kota Padang.
“Sampel yang kita kirim berupa nasi goreng yang disantap korban, muntahan, tinja siswa, serta air dari dapur SPPG Kampungtangah,” jelas Hendri.
Ia mengatakan, pemeriksaan laboratorium akan menentukan sumber keracunan dan kandungan kimia yang mungkin terdapat dalam makanan.
“Biasanya hasil keluar dalam dua minggu hingga satu bulan, tetapi karena ini KLB, BPOM berupaya mempercepat prosesnya,” tambahnya.
Dapur SPPG Kampungtangah, tempat pengolahan makanan MBG yang dikonsumsi para korban, masih ditutup sementara waktu hingga hasil uji labor keluar dan penyelidikan selesai.
BGN Ambil Alih Biaya Pengobatan Korban
Sebagai bentuk tanggung jawab moral, Badan Gizi Nasional (BGN) turun langsung ke Agam meninjau penanganan kasus MBG dan menyatakan menanggung penuh seluruh biaya pengobatan korban.
Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah I BGN, Harjito, menyebut langkah itu merupakan komitmen pemerintah pusat memastikan anak-anak penerima MBG mendapat perlindungan maksimal.
“Kami tidak ingin ada keluarga yang terbebani. Semua biaya pengobatan ditanggung penuh oleh BGN sebagai bentuk tanggung jawab dan kepedulian,” tegasnya saat bertemu Bupati Agam di Lubukbasung, Jumat (3/10).
Harjito juga menyampaikan permohonan maaf atas kejadian yang menimbulkan keresahan belakangan ini. Ia menegaskan, pemerintah sama sekali tidak memiliki niat untuk membuat warga khawatir.
“Pemerintah tidak pernah berniat menimbulkan keresahan. Kami menyampaikan permohonan maaf atas kasus ini,” ujar Harjito.
Menanggapi hal itu, Bupati Agam Benni Warlis Dt Tan Batuah, mengapresiasi langkah cepat BGN dan seluruh tim medis di lapangan. Menurutnya, kasus ini menjadi momentum penting untuk memperbaiki tata kelola program gizi nasional.
“Kami berterima kasih kepada BGN dan semua pihak yang bergerak cepat. Insiden ini menjadi bahan evaluasi besar agar ke depan, pelaksanaan MBG di Agam benar-benar aman dan menyehatkan,” ujar Benni Warlis.
Ia menekankan, program MBG tidak boleh berhenti karena satu insiden. Sebaliknya, pemerintah akan memperkuat sistem pengawasan, mulai dari standar dapur, bahan baku, sumber air, hingga distribusi makanan ke sekolah.
“Kita ingin ini menjadi yang pertama dan terakhir. MBG tetap berjalan, tapi dengan pengawasan yang jauh lebih ketat. Program ini menyentuh banyak anak, jadi harus benar-benar terjamin keamanannya,” tegasnya.
Meski seluruh korban sudah pulih, sebagian orang tua siswa masih merasa waswas. Namun, Pemkab Agam memastikan akan melakukan sosialisasi dan edukasi keamanan pangan di sekolah-sekolah serta menutup dapur MBG yang tidak berizin untuk memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap program tersebut.
Kasus keracunan MBG di Agam menjadi pengingat bahwa program bergizi untuk anak sekolah tidak hanya tentang ketersediaan makanan, tetapi juga soal keamanan dan pengawasan ketat.
Setelah kondisi dinyatakan pulih, pemerintah pusat dan daerah kini fokus memperkuat sistem pencegahan agar insiden serupa tak terulang. (ptr)
Editor : Novitri Selvia