Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

UPT SMP Negeri 3 Batipuh Selatan, Mengasah Kreativitas dan Karakter melalui Kegiatan Korikuler Mading

Zulkarnaini. • Jumat, 19 September 2025 | 13:00 WIB

DEKAT: Siswa UPT SMP Negeri 3 Batipuh Selatan terlihat akrab.
DEKAT: Siswa UPT SMP Negeri 3 Batipuh Selatan terlihat akrab.

PADEK.JAWAPOS.COM-Berdasarkan Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 yang merevisi Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024, struktur kurikulum terdiri dari tiga komponen utama: 1) Intrakurikuler , 2) Kokurikuler dan 3) Ekstrakurikuler.

Kokurikuler menggantikan sebagian peran Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Projek P5 sebelumnya adalah bagian dari Kurikulum Merdeka yang bertujuan memperkuat karakter siswa sesuai nilai-nilai Pancasila.

Di Kurikulum 2025, P5 digabung atau dialihkan ke dalam kegiatan kokurikuler. Kompetensi kokurikuler juga dihubungkan dengan Profil Lulusan delapan dimensi, yang meliputi aspek: keimanan dan ketakwaan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, komunikasi, dan kesehatan.

Kokurikuler adalah kegiatan pembelajaran yang berada di dalam struktur kurikulum utama, tetapi tidak hanya terbatas pada pelajaran intrakurikuler biasa.

Kokurikuler dirancang untuk menguatkan, memperdalam, dan memperkaya kompetensi siswa yang sudah atau sedang dikembangkan melalui pembelajaran intrakurikuler.

Kegiatan ini memiliki muatan pendidikan, artinya tidak hanya sekadar aktivitas tambahan atau hiburan, tetapi harus ada konten pembelajaran seperti nilai karakter, kreativitas, kerja sama, kompetensi sikap, keterampilan dan sebagainya.

Melalui kegiatan ini, siswa diberikan kesempatan untuk mengembangkan potensi, kreativitas, serta bakat mereka secara lebih luas. Di UPT SMPN 3 Batipuh Selatan, salah satu kegiatan korikuler yang menjadi unggulan adalah Mading Sekolah atau Majalah Dinding.

Waktu dan Pelaksanaan

Kegiatan korikuler Mading dilaksanakan setiap hari Senin setelah sholat zuhur berjamaah. Seluruh siswa mengikuti kegiatan ini sebagai program wajib sekolah.

Dengan jadwal yang teratur, Mading telah menjadi bagian dari rutinitas yang ditunggu-tunggu karena memberi kesempatan bagi siswa untuk berkreasi dan menyalurkan bakat mereka.

Kegiatan ini dibimbing langsung oleh dua guru, yaitu Bapak Sakirman selaku guru Bahasa Indonesia, dan Ibu Titin Ulandari selaku guru Informatika.

Peran keduanya sangat penting: Bapak Sakirman membimbing siswa dalam penguasaan bahasa, gaya penulisan, dan estetika sastra, sementara Ibu Titin membantu dalam aspek teknis, tata letak, serta kreativitas desain. Kehadiran kedua pembimbing ini membuat siswa merasa lebih percaya diri dalam menghasilkan karya terbaiknya.

Bentuk Kegiatan

Agar semua siswa terlibat aktif, mereka dibagi ke dalam tiga kelompok besar. Masing-masing kelompok bertugas membuat karya tulis dengan berbagai bentuk, antara lain, puisi, sebagai media ekspresi perasaan dan keindahan bahasa.

Cerpen, sebagai latihan menulis cerita dengan alur, tokoh, dan pesan moral. Pantun, sebagai bentuk karya tradisional yang tetap dijaga dan dilestarikan. Slogan, sebagai ajakan atau pesan singkat yang sarat makna.

Karya-karya tersebut kemudian dipajang di pojok Mading masing-masing kelompok. Setiap kelompok memiliki ruang khusus untuk menampilkan hasil karya mereka, sehingga suasana sekolah menjadi lebih hidup dan penuh warna.

Tidak hanya itu, adanya pojok khusus ini juga menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kebanggaan bagi siswa terhadap karya yang mereka hasilkan.

Penilaian dan Apresiasi

Keunikan dari kegiatan ini terletak pada adanya penilaian oleh majelis guru. Karya-karya yang dipajang tidak dibiarkan begitu saja, melainkan dinilai secara cermat dengan memperhatikan kreativitas, kerapian, pesan yang disampaikan, serta estetika bahasa.

Hasil penilaian kemudian diumumkan untuk menentukan kelompok terbaik. Pengumuman ini selalu menjadi momen yang paling ditunggu, karena selain memberikan apresiasi, juga memotivasi siswa agar lebih bersemangat menghasilkan karya pada pertemuan berikutnya.

Dengan adanya penilaian ini, suasana kompetisi sehat tumbuh dengan sendirinya, sekaligus melatih siswa menerima kritik dan berusaha memperbaiki diri.

Manfaat bagi Siswa

Pelaksanaan kegiatan Mading memberikan banyak manfaat positif, di antaranya, pengembangkan kreativitas siswa dalam menulis dan berimajinasi. Meningkatkan keterampilan berbahasa, terutama dalam memilih diksi dan menyusun kalimat yang indah.

Menumbuhkan budaya literasi, karena siswa terbiasa membaca, menulis, dan menampilkan karya. Meningkatkan rasa percaya diri, ketika karya mereka dipajang dan diapresiasi oleh banyak orang.

Membangun kerja sama, karena setiap karya dihasilkan dari usaha kelompok yang saling melengkapi. Dengan manfaat ini, kegiatan Mading tidak hanya sekadar pajangan karya, tetapi juga wahana pembelajaran yang nyata bagi siswa.

Suara Guru Pembimbing

Menurut Bapak Sakirman, kegiatan Mading merupakan langkah nyata untuk membiasakan siswa menulis. Beliau menegaskan, “Menulis adalah keterampilan yang harus terus dilatih.

Melalui Mading, siswa belajar mengekspresikan diri, menyampaikan pesan, dan tentu saja menjaga tradisi literasi yang sangat penting bagi masa depan mereka”.

Sementara itu, Titin Ulandari menambahkan bahwa kegiatan ini juga melatih keterampilan abad 21, khususnya kolaborasi dan kreativitas.

“Anak-anak tidak hanya belajar menulis, tetapi juga belajar bekerja sama, mendesain, dan menata karya mereka agar menarik. Semua itu adalah bekal penting untuk menghadapi dunia yang serba digital saat ini,” ungkapnya.

Harapan ke Depan

Kegiatan kokurikuler Mading di UPT SMPN 3 Batipuh Selatan merupakan bukti nyata bahwa pendidikan tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga dalam aktivitas kreatif di luar jam pelajaran.

Dengan pendampingan guru yang berdedikasi serta antusiasme siswa yang tinggi, kegiatan ini mampu menjadi wadah pembentukan karakter, pengembangan bakat, dan peningkatan budaya literasi.

Ke depan, diharapkan kegiatan Mading tidak hanya berhenti pada pajangan di dinding sekolah. Karya-karya terbaik dapat dikompilasi dalam bentuk buku antologi atau dipublikasikan melalui media digital sekolah, sehingga jangkauan apresiasi semakin luas. Dengan cara ini, karya siswa akan abadi dan dapat menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.

Lebih dari sekadar menempelkan karya di dinding, Mading adalah ruang belajar yang penuh makna. Dari sini lahir generasi muda yang berani berkarya, mencintai literasi, dan siap menghadapi masa depan dengan kreativitas serta percaya diri. (Rozatul Rahmah, S.Si, GURU UPT SMPN 3 BATIPUH SELATAN)

Editor : Novitri Selvia
#UPT SMP Negeri 3 Batipuh Selatan #Rozatul Rahmah #mading