Selama ini, banyak pisang yang tidak terangkut oleh kapal karena kapasitas muatan kapal belum memadai, sehingga banyak pisang yang menjadi busuk begitu saja.
Afrizon, pengepul pisang di Sikakap, Senin (20/6), membenarkan hal tersebut. Dia mengatakan, kapasitas kapal yang ada saat ini tidak lagi bisa menampung komoditi pisang setiap minggunya di dalam kapal.
“Kami berharap ada penambahan kapal dengan kapasitas yang lebih besar. Sebab, kondisi ini sudah berlangsung sejak lama dan sering terjadi perselihan antara satu pengepul dengan pengepul lainnya. Karena berebut agar pisangnya bisa diangkut ke atas kapal,” ungkapnya.
Dia mengatakan, komoditi pisang setiap minggunya yang berasal dari 3 kecamatan di Pulau Pagai, yakni, Kecamatan Sikakap, Pagai Utara dan Pagai Selatan tertumpu pada satu titik di dermaga Sikakap.
Artinya, setiap minggunya komoditi pisang di tiga kecamatan tersebut, yang tidak bisa diangkut oleh kapal mencapai lebih kurang 100 ton.
“Kapasitas kapal yang terbatas untuk menampung seluruh hasil bumi masyarakat untuk bisa didistribusikan ke luar Mentawai belum memadai. Kami, berharap, melalui pemerintah untuk bisa menjembatani dan mencarikan solusi yang tengah dihadapi masyarakat,” ungkapnya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kepulauan Mentawai, Hatisama Hura mengakui kondisi yang tengah dihadapi oleh para petani dan pengepul pisang di Sikakap.
Dia mengaku, sudah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan untuk mengusulkan penambahan armada kapal dengan kapasitas yang lebih besar ke Mentawai, khususnya untuk mengangkut hasil bumi Mentawai.
“Kita berharap, bisa segera ada penambahan kapal dengan kapasitas yang lebih besar. Apalagi, pascapandemi kemarin, para petani sangat membutuhkan semangat dan dukungan untuk menggairahkan dalam pemulihan ekonomi,” ujarnya.
Menurut dia, pihaknya terus berupaya agar apa yang menjadi kendala petani tersebut, bisa didengar oleh Pemerintah Pusat. Minimal, lanjut dia, ada penambahan line atau rute kapal untuk pelayaran Padang-Sikakap yang bisa membantu mendistribusikan hasil pertanian masyarakat ke luar Mentawai. (rif) Editor : Novitri Selvia