Penulis : Fidel Miro - Dosen dan Peneliti Bidang Keahlian Transportasi Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Bung Hatta, Kota Padang
PADEK.JAWAPOS.COM - Kota Padang, ibu kota Provinsi Sumatera Barat, dalam beberapa tahun terakhir mulai menunjukkan geliat dalam pengembangan transportasi umum. Kehadiran Trans Padang dengan enam koridor yang sudah penuh beroperasi menjadi bukti nyata. (ANTARA News) Namun, meskipun progresnya jelas, tarif terjangkau, jangkauan koridor diperluas, hingga perhatian terhadap inklusivitas gender dan kelompok rentan masih ada banyak pekerjaan rumah agar transportasi umum benar-benar menjadi pilihan utama warga.
Tulisan ini mengajak kita semua, pemerintah, pemangku kepentingan, serta masyarakat untuk bersama mempercepat transformasi transportasi umum berkelanjutan di Kota Padang, demi kota yang lebih bersih, aman, ramah lingkungan dan manusiawi.
Fakta dan Tantangan di Kota Padang
Ekspansi Trans Padang. Trans Padang kini telah mengoperasikan enam koridor yang merentang ke berbagai wilayah: Koridor 1 Pusat Kota-Air Pacah; Koridor 2 Pusat Kota-Bungus Teluk Kabung; Koridor 3 Pusat Kota – Pusat Pemerintah di Air Pacah; Koridor 4 Pelabuhan Teluk Bayur – Terminal Tipe di kawasan Anak Air; Koridor 5 ke Indarung; dan Koridor 6 ke kampus Universitas Andalas kawasan Limau Manis. (ANTARA News) Tarifnya pun relatif murah: sekitar Rp 3.500 untuk umum dan Rp 1.500 bagi pelajar. (ANTARA News).
Komitmen Pemerintah Kota
Walikota Padang dan OPD terkait sudah menyatakan komitmen untuk transportasi yang responsif menolak diskriminasi gender, melindungi kelompok rentan (anak-anak, lansia, penyandang disabilitas). (Padang Portal). Di samping itu, juga dilakukan pelatihan untuk pengarustamaan gender dalam transportasi umum. (Padang Portal)
Tantangan Infrastruktur dan Manajemen
Terminal yang belum optimal, angkutan “informal” masih mendominasi, manajemen trayek dan halte belum sepenuhnya terintegrasi dengan baik. (Padang Portal) Akses ke halte dan armada sering tidak nyaman, terutama dari sudut pejalan kaki atau penyandang disabilitas. Frekuensi dan kenyamanan armada kadang jauh dari harapan, terutama pada jam padat. Kebiasaan masyarakat untuk menggunakan kendaraan pribadi masih tinggi, disebabkan oleh persepsi lebih cepat, fleksibel, dan memberi kenyamanan pribadi.
Arah Kebijakan & Rekomendasi
Untuk memastikan transportasi umum di Padang berkembang ke arah yang lebih berkelanjutan, inklusif, dan efektif, pada tulisan ini, penulis ajukan beberapa langkah yang bisa dipertimbangkan: Perbaikan Aksesibilitas dan Konektivitas “Last-Mile”
Jalan kaki ke halte/koridor, sambungan dengan feeder angkutan kecil harus dirancang nyaman, aman dan cepat. Halte-halte harus berada dalam radius yang wajar dari pemukiman dan area aktivitas masyarakat. Armada Ramah Lingkungan. Beralih ke bus listrik atau hybrid untuk mengurangi polusi udara dan emisi karbon. Trans Padang bisa menjadi pionir dalam hal ini. Insentif dari pemerintah pusat/provinsi bisa membantu pembiayaan.
Pelayanan Inklusif dan Ramah Gender
Pastikan armada memiliki fasilitas bagi lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas. Penegakan hak prioritas bagi kelompok rentan dalam antrean, tempat duduk, keamanan di dalam bus dan halte. Manajemen Angkutan dan Terminal Penataan trayek informal dan formal agar tidak bertabrakan dan tidak saling mengganggu. Pengembangan terminal terminal tipe A dan terminal feeder yang strategis. (Padang Portal) Pengaturan parkir, jalur bus, jalur prioritas untuk bus agar tidak terjebak kemacetan.
Kebijakan Tarif dan Subsidi Tepat Sasaran. Tarif yang sudah relatif murah perlu dipertahankan, bahkan dips lebih baik jika ada tarif sosial untuk golongan tidak mampu. Penting juga transparansi penggunaan subsidi agar publik melihat manfaatnya nyata.
Partisipasi Publik & Edukasi
Masyarakat harus dilibatkan dalam perencanaan rute, penempatan halte, jadwal. Kampanye dan edukasi tentang manfaat transportasi umum — ekonomi, lingkungan, kenyamanan — akan membantu mengubah budaya mobilitas.
Perencanaan Tata Ruang Terintegrasi (TOD — Transit Oriented Development)
Membuat kawasan yang memusatkan aktivitas di sekitar titik transit, campuran penggunaan lahan (perumahan, perdagangan, kantor) agar orang tinggal dan bekerja dekat koridor transportasi umum. Penelitian akademik menunjukkan kawasan transit Padang masih banyak yang belum optimal sejauh radius 800 meter dari titik transit. (ejurnal.bunghatta.ac.id)
Penutup
Transportasi umum berkelanjutan bukan hanya soal mobilitas; ia adalah soal kualitas hidup, keadilan, dan masa depan lingkungan Kota Padang. Semua elemen pemerintah, masyarakat, akademisi, sektor swasta, asosiasi bidang transportasi, harus bergerak bersama.
Dengan komitmen kuat, penggunaan teknologi tepat, dan partisipasi aktif publik, Padang bisa menjadi contoh kota menengah di Indonesia yang berhasil menjadikan transportasi umum sebagai tulang punggung mobilitas warganya: nyaman, bersih, terjangkau, dan menghormati semua orang. Mari jadikan Trans Padang bukan sekadar moda, tetapi ikon perubahan: ikon kota Padang yang lebih berkelanjutan dan manusiawi. (*)
Editor : Adriyanto Syafril