(Analis Sejarah, Analis Cagar Budaya–Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang)
Ketika melakukan pendataan bangunan cagar budaya (heritage) Kota Padang beberapa waktu lalu, secara tidak sengaja kami mendapati satu tipologi yang khas. Sebagian besar bangunan heritage di kota ini berlokasi mengelompok berdasarkan kesamaan fungsi dan penggunaan ruang.
Sebagai contoh, bangunan heritage yang merupakan bekas kantor (dan gudang) perusahaan-perusahaan dagang Eropa, terletak berjejeran di sepanjang sisi utara Sungai Batang Arau. Kawasan ini tempo dulu dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan terpenting di pesisir barat Sumatra.
Lain halnya dengan gedung-gedung peribadatan dan sekolah Katolik, yang umumnya terkonsentrasi di sekitar Jalan Gereja, Belakang Tangsi. Keberadaan ‘Catholics heritage’ di sini dimungkinkan karena, pada zaman kolonial, Belanda mendukung pemanfaatan wilayah tersebut sebagai pusat penyebaran Misi Katolik.
Contoh berikutnya dapat dilihat pada kelompok bangunan ‘military heritage’, yang sebagian besar tersebar di Padang Timur, terutama di Ganting Parak Gadang. Khususnya sejak Perang Aceh bergejolak pada 1870-an, Belanda menjadikan Padang sebagai kota militer dan pusat perbekalan untuk mendukung ekspedisi militernya, di antaranya dengan membangun rumah sakit untuk merawat tentara yang terluka selama perang.
Singkat kata, lain kawasan lain pula penggunaan ruang dan konteks sejarahnya.
II
Keberagaman pola penggunaan ruang di atas, bila dikelola dengan baik, dapat mendukung pengembangan pariwisata daerah. Salah satu bentuk pengembangan itu, misalnya, melalui kegiatan “Tour de Heritage” (TdH). Konsep TdH yang akan dibicarkan di sini sebetulnya cukup sederhana, mirip dengan tur sejenis di daerah lain, yaitu berwisata mengunjungi bangunan-bangunan cagar budaya.
Akan tetapi, ada satu hal yang membuat TdH ini menjadi berbeda dengan kebanyakan heritage tourism pada umumnya. Rute TdH terbagi secara terstruktur dan urut ke dalam beberapa etape (zona), masing-masing dengan karakter dan tipologi penggunaan ruang yang khas.
Berdasarkan tipologi penggunaan ruang dan sebaran bangunan heritage, TdH terbagi ke dalam 8 (delapan) etape. Delapan etape tersebut adalah:
Jalan Gereja Hingga Muara
Kawasan Perdagangan di Batang Arau
Kawasan Pecinan di Kampung Pondok
Kawasan Pasa Gadang
Kawasan Militer di Ganting
Jalan Jend. Sudirman dan Sekitarnya
Gunung Padang
Kawasan Pabrik Semen Indarung I
Pembagian ini dirancang agar wisatawan dapat mengikuti rute dengan lebih mudah, menghadirkan alur cerita (storyline) yang jelas, dan memberi kesempatan bagi setiap etape untuk menonjolkan pesona dan keunikannya masing-masing.
Bagian pertama dari tulisan “Tour de Heritage” ini bertujuan untuk memperkenalkan pembagian etape beserta bangunan heritage yang menjadi bagian dari rute TdH. Mengikuti urutan pembagian etape di atas, kegiatan TdH disarankan dimulai dari Kawasan Jalan Gereja.
Alasannya adalah kawasan ini berjarak paling dekat dengan kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Padang–pusat data dan informasi cagar budaya. Memulai perjalanan dari sini memungkinkan wisatawan untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh tentang setiap etape yang akan dilalui.
Berikut ini disajikan gambaran setiap etape dan rute TdH.
III
Jalan Gereja Hingga Muara
Dalam Etape I ini, kegiatan tur meliputi perjalanan ke 10 bangunan heritage yang berada di sepanjang Kawasan Jalan Gereja, Jl. Diponegoro, Jl. Samudra, dan berakhir di Jl. Muara.
Khususnya di Jl. Gereja, terdapat 5 bangunan yang termasuk dalam kelompok ‘Catholics heritage’, yaitu SD Agnes, Kapel St. Leo, Gedung Bergamin (dulu Fr. Xaverius Kerk), Gedung De Martino (dulu Wisma Katedral), dan Gedung Keuskupan (Fraterhuis).
Keberadaan bangunan-bangunan ini dimungkinkan karena, pada zaman Belanda, Gereja Katolik menjadi salah satu organisasi yang paling aktif membangun sekolah, rumah, dan bangunan-bangunan peribadatan. Bangunan-bangunan di atas merupakan bukti dari keberhasilan penyebaran Misi Katolik (yang dikenal dengan missiecomplex I) di Kota Padang.
Di sekitar Catholics heritage, masih di Jl. Gereja, terdapat sebuah tugu yang dikenal dengan Tugu Pemuda. Tugu ini dibangun pada 1920 untuk memperingati penyelenggaraan kongres pertama dari perkumpulan Jong Sumatranen Bond yang diadakan setahun sebelumnya.
Dari Jl. Gereja, perjalanan selanjutnya menuju ke arah utara ke Jl. Diponegoro. Di sini terdapat Kantor Pengadilan Tata Usaha Negara (dulu disebut Raad van Justitie; semacam pengadilan tinggi zaman Belanda).
Mengakhiri Etape I, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan melewati Jl. Pancasila menuju Jl. Samudra dan Jl. Muara di pinggir laut. Di Jl. Samudra terdapat dua bangunan heritage, yaitu Gedung Joang ’45 Sumatera Barat (dulu Kantor Konsul Jerman) dan Denhubrem 032 (dulu Kantor Pengadilan Belanda), sementara di Jl. Muara terdapat bangunan Denpal I/3 Padang.
Kawasan Perdagangan di Batang Arau
Pada Etape II, wisatawan dapat melanjutkan kunjungan ke bangunan-bangunan heritage yang berada di sepanjang Kawasan Jalan Batang Arau (dulu disebut Grevekade dan Handelskade).
Karakter khas kawasan ini adalah keberadaan bangunan bekas kantor (dan gudang) perusahaan-perusahaan dagang Eropa.
Beberapa perusahaan dagang itu, yang sudah terlacak jejak sejarahnya, adalah Firma Van Houten en Steffan (sekarang bangunan kantornya dimanfaatkan sebagai Gedung HKBP Dr. T.D. Pardede), Firma Guntzel en Schumacher (sekarang Angel’s Wing), dan Firma Geo Wehry & Co (sekarang A.W. Billiard).
Menurut Colombijn (2006), perusahaan-perusahaan dagang Eropa telah menempati kawasan Batang Arau sejak abad ke-19. Kawasan ini merupakan lokasi yang dirasa paling tepat untuk membangun kantor dan gudang.
Hingga akhir kekuasaan Belanda, perusahaan-perusahaan Eropa itu terus membangun dan memperluas kantor beserta gudang-gudangnya. Berbagai literatur kolonial dari periode 1920-an dan 1930-an menyebutkan bahwa kawasan ini acapkali dilanda kebakaran yang menghanguskan kantor dan gudang perusahaan, tetapi bangunan-bangunan tersebut segera dibangun kembali.
Perusahaan-perusahaan dagang tersebut tidak hanya mendirikan kantor dan gudang, tetapi juga berhasil menarik lembaga perbankan.
Karena itu, di kawasan ini terdapat pula bangunan heritage seperti De Javasche Bank (sekarang Museum Bank Indonesia) dan Nederlandsch-Indische Escompto Maatschappij (sekarang Bank Mandiri Muaro).
Di kawasan ini tercatat ada 12 bangunan heritage yang masih eksis. Selain yang telah disebutkan di atas, bangunan-bangunan heritage lainnya adalah Kantor PU Tk. I Cipta Karya, Kantor PT. Hiswana Migas, Kantor Detasemen Pembekalan Angkutan I/3 A, Halim Badminton Hall, Gudang Minangcaisa, Toko Clarity Audio, dan PT Kurnia Jagad Abadi.
Kawasan Pecinan di Kampung Pondok
Perjalanan berlanjut ke Etape III, menuju bangunan-bangunan heritage Tionghoa yang umumnya berada di kawasan yang disebut Kampung Cina (atau Kampung Pondok). Kawasan ini memiliki karakteristik yang unik: bentuk bangunan pada umumnya bertingkat dua atau tiga (rumah toko) dan dihiasi dengan ornamen-ornamen Tiongkok dan Eropa.
Bangunan-bangunan tersebut berlokasi di Jl. Klenteng, seperti Kelenteng See Hin Kiong, Himpunan Keluarga Tan, bekas Rumah Tinggal Ang Sia, Himpunan Tjinta Teman, dan bekas Rumah Tinggal Neo Seng Jaue.
Keberadaan bangunan-bangunan ini berkaitan erat dengan sejarah Tionghoa di Kota Padang. Dulu, Belanda menerapkan kebijakan wijkenstelsel, yaitu memisahkan pemukiman penduduk berdasarkan garis etnis.
Hal ini merupakan bagian dari politik segregasi Belanda yang bertujuan untuk membatasi hubungan antara penduduk lokal dan etnis pendatang, termasuk Tionghoa. Kebijakan ini pada awalnya diberlakukan di Jawa (berdasarkan Staatblad No. 37/1835), lalu diterapkan pula ke daerah-daerah di luar Jawa.
Sistem ini kemudian melahirkan perkampungan-perkampungan berdasarkan etnis, termasuk Kampung Tionghoa (Erniwati, 2016).
Di sekitar Jl. Klenteng, tepatnya di Jl. Batang Arau, terdapat pula bangunan heritage lain seperti Padangsche Spaarbank, PT. Buana Andalas, Gedung Hong Jang Hoo, dan bekas Kantor NV Internatio.
Kawasan Pasa Gadang
Dari Kampung Tionghoa, perjalanan berlanjut ke Pasa Gadang. Sejak pertengahan abad ke-19, Kawasan Pasa Gadang telah dikenal sebagai pusat perdagangan orang Minangkabau, khususnya perdagangan kain. Pasar ini tumbuh secara bertahap menjadi tiga bagian, yaitu Pasar Hilir, Pasar Mudik, dan Pasar Batipuh.
Lokasinya yang strategis, dekat dengan Batang Arau, memudahkan akses bagi pedagang dari dataran tinggi Minangkabau.
Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan bahwa di sini terdapat bangunan heritage yang berkaitan dengan perdagangan, seperti Rumah Tinggal Keluarga Asbon (dulu toko kain) dan Gudang Distributor Semen (dulu toko grosir).
Namun, peran Pasa Gadang sebagai pusat perdagangan utama di masa Belanda, meredup ketika aktivitas perdagangan dialihkan ke Pasar Jawa (kini Pasar Raya). Perubahan ini secara perlahan mengubah wajah Pasa Gadang–dari deretan kedai sederhana menjadi bangunan toko permanen dengan dinding bata yang kokoh.
Colombijn (2006) menyebut, setelah kemerdekaan, banyak toko di Pasa Gadang mengalami kemerosotan. Akibatnya, sebagian besar toko dialihfungsikan menjadi gudang penyimpanan hasil pertanian dan perkebunan.
Selain dua bangunan heritage yang sudah disebut sebelumnya, pada Etape IV ini, wisatawan juga dapat mengunjungi bangunan-bangunan bersejarah lain di sekitarnya seperti Masjid Muhammadan, Stasiun Pulau Air, rumah tinggal/penginapan, dan Gedung Juang BPPI (sekarang Sekretariat Pengelola Kawasan Kota Tua Padang).
Baca Juga: Mark Zuckerberg Klarifikasi Isu Bunker di Hawaii: Bukan Tempat Perlindungan Kiamat
Kawasan Militer di Ganting
Dari Pasa Gadang, rute perjalanan terdekat adalah menuju kawasan militer bersejarah di bagian timur Kota Padang, Ganting. Di kawasan ini, bangunan-bangunan heritage tersebar di berbagai titik di sekitar Jl. Ganting, Jl. Kesatria, Jl. Proklamasi, dan Jl. Dr. Wahidin.
Dulu, khususnya sejak Perang Aceh pecah pada 1873, Belanda mengembangkan kawasan ini sebagai kompleks militer lengkap dengan berbagai fasilitas. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan bila di sini dapat dilihat jejak-jejak tinggalan kolonial bercorak militer seperti wisma prajurit (Mess Kuwera), kantor zeni militer pertama (sekarang Denzibang 5/I), kediaman perwira (sekarang Denzibang 5/I Bukit Barisan, subdenzibang 045/I), rumah sakit militer (sekarang Rumah Sakit Dr. Reksodiwiryo), dan rumah tahanan militer.
Informasi tentang keberadaan dan perkembangan bangunan-bangunan ini dapat ditemukan dalam sejumlah Peta Kota Padang yang diterbitkan dari berbagai periode, antara lain peta tahun 1879 (publikasi Aardrijkskundig Genootschap), peta tahun 1915 (diterbitkan oleh Topographische Inrichting), dan peta tahun 1945 (disusun oleh Inter-Service Topographical Dept, War Office).
Selain bercorak militer, Etape V ini juga mencakup beberapa bangunan heritage lainnya seperti Masjid Raya Ganting, SMA Kartika 1-5 Padang, dan Stasiun KA Simpang Aru.
Jalan Jend. Sudirman dan Sekitarnya
Etape VI mencakup Kawasan Jl. Jend. Sudirman (dulu Jl. Belantung) dan sekitarnya seperti Jl. Bagindo Azizchan (dulu Bentengweg) dan Jl. Moh. Yamin (dulu Raaffweg), yang telah sejak lama dikenal sebagai kawasan elit.
Pada awal abad ke-20, Belanda mengembangkan kawasan ini sebagai kawasan eksklusif, terutama untuk penduduk Eropa dan pejabat tinggi Belanda. Di sini dibangun berbagai bangunan perkantoran, sekolah, dan perumahan standar Eropa. Beberapa di antaranya masih bertahan hingga kini dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya.
Bangunan heritage yang pada zaman kolonial berfungsi sebagai tempat tinggal para pejabat, antara lain Rumah Dinas Ketua DPRD Sumatra Barat, Bank Mandiri Prioritas, Oditurat Militer I-04 Padang, dan Istana Gubernur (dulu rumah Residen Belanda).
Sementara itu, ke dalam kategori bangunan sekolah terdapat bekas gedung ELS (Europeesche Lagere School, sekarang DPMPTSP Kota Padang) dan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekarang SMPN 1 Padang).
Selain dari yang telah disebutkan, bangunan-bangunan dan objek heritage lainnya yang berada di Etape VI ini adalah Puri Sriwedari, Hotel Padang, Gereja GPIB, Tugu Merah Putih, dan Balai Kota Padang lama–sekarang difungsikan sebagai museum.
Gunung Padang
Berbeda dengan etape lainnya, Etape VII membawa wisatawan menjelajahi Gunung Padang, sebuah kawasan yang menyimpan jejak pertahanan militer dari masa pendudukan Jepang (1942-1945).
Baca Juga: Bank Nagari Raih Dua Penghargaan Bergengsi di Ajang The Best Regional Champion 2025
Jika bangunan heritage lain pada umumnya dibangun era kolonial Belanda, maka objek-objek di kawasan ini lebih banyak berkaitan dengan strategi pertahanan Jepang selama Perang Dunia II.
Berdasarkan letaknya, bangunan-bangunan itu terbagi dua yaitu di bagian kaki dan bagian puncak Gunung Padang. Pada bagian kaki terdapat Lobang Jepang dan Meriam, sementara di bagian puncak terdiri dari Lobang Jepang Bundar I dan Lobang Jepang Bundar II.
Karena lokasinya yang tinggi dan strategis, Gunung Padang menjadi benteng pertahanan yang penting bagi militer Jepang.
Dari sini pergerakan musuh dapat diawasi dengan jelas, sehingga setiap ancaman dapat terdeteksi lebih awal dan respons taktis segera dapat dipersiapkan. Kawasan ini dianggap sebagai salah satu titik pertahanan paling signifikan selama masa pendudukan Jepang di Sumatera Barat.
Kawasan Pabrik Semen Indarung I
Etape terakhir dari rangkaian TdH adalah Kawasan Pabrik Semen Indarung I, terletak di Lubuk Kilangan, atau berjarak sekitar 14 km dari pusat kota. Didirikan pada 1910 dengan nama “Nederlandsch-Indische Portland Cement Maatschappij”, pabrik ini merupakan pabrik semen modern pertama di Asia Tenggara–dan kini tengah diusulkan sebagai ‘World Heritage’.
Kawasan ini terdiri dari dua situs cagar budaya, yaitu situs Pabrik Semen Indarung I dan situs PLTA Rasak Bungo, dan mencakup 42 bangunan dan objek heritage yang dulunya berperan penting dalam mendukung kelancaran proses pengolahan semen.
Sebagai satu-satunya industri semen pada zaman kolonial, Pabrik Semen Indarung I menjadi pemasok utama kebutuhan semen dalam negeri, dan bahkan juga melayani ekspor ke luar negeri.
Karena berada di lokasi pabrik, maka akses ke kawasan ini dibatasi dan kunjungan hanya dapat dilakukan setelah mendapat izin dari pihak pengelola, PT. Semen Padang.
IV
Demikianlah bagian pertama dari seri tulisan Tour de Heritage. Jika diperhatikan, pembagian rute TdH berdasarkan 8 tipologi penggunaan ruang ini tidaklah bersifat kaku–dan masih bisa dikembangkan lagi.
Beberapa bangunan heritage justru memiliki fungsi berbeda atau tidak berkaitan dengan pola umum pemanfaatan ruang di atas. Tugu Pemuda, misalnya, yang berlokasi di sekitar Jalan Gereja, tidak memiliki keterkaitan fungsi maupun latar sejarah yang sama dengan perkembangan Misi Katolik.
Tipologi di atas dimaksudkan untuk memudahkan wisatawan dalam memahami sejarah dan fungsi ruang kota secara lebih terstruktur, serta memungkinkan eksplorasi yang lebih fleksibel sesuai minat wisatawan. Namun demikian, keragaman ruang dan sejarah bangunan-bangunan ini telah memperkaya karakter kawasan heritage kota.
Bangunan heritage, baik yang tersebar menurut kesamaan tipologi maupun yang tidak, kedua-duanya telah menjadi bagian dari apa yang disebut oleh Eko Alvarez (2002) sebagai ekspresi keruangan morfologi Kota Padang.
Jika pada bagian pertama ini fokusnya adalah pada aspek “attraction” (daya tarik)–merujuk pada konsep 4A Pariwisata, maka pada bagian kedua nanti akan membicarakan aspek “accessibility” dari Tour de Heritage. (bersambung)
Editor : Adetio Purtama