Kepala Dinas Pertanian Kota Padang, Yoice Yuliani menyampaikan, curah hujan di Kota Padang masih turun secara berkala meski intensitas panas cukup tinggi dalam beberapa pekan terakhir. Situasi ini dinilai masih mendukung pertumbuhan padi yang saat ini umumnya berada dalam fase vegetatif awal.
“Sampai saat ini belum ada laporan dari petani yang mengeluh soal kekurangan air sawah. Curah hujan masih ada, sepekan panas, sebentar hujan,” ujar Yoice saat ditemui, Kamis (24/7).
Ia menjelaskan, musim tanam padi di Kota Padang umumnya dimulai antara akhir Juni hingga awal Juli. Artinya, sebagian besar tanaman padi saat ini masih berusia sekitar 30 hingga 40 hari setelah tanam (HST), sehingga belum memasuki masa kebutuhan air yang tinggi.
“Kalau umur padi masih 30 sampai 40 hari, belum terlalu butuh air banyak. Nanti di atas 70 hari baru butuh air lebih, dan itu belum sampai sekarang,” terangnya.
Namun demikian, Dinas Pertanian tetap menyiagakan berbagai upaya antisipatif untuk menghadapi kemungkinan dampak kemarau, khususnya di wilayah-wilayah sawah tadah hujan dan daerah dengan aliran air yang mulai melemah. Yoice menuturkan bahwa pihaknya telah menyalurkan bantuan pompa air ke area rawan kekeringan sebagai bentuk kesiapsiagaan.
“Cuma ada di wilayah Padangbesi aliran irigasi tertutup sedimen pasir, jadi aliran air terhambat. Tapi itu sudah kami identifikasi dan akan segera diperbaiki,” katanya.
Selain itu, Yoice mengimbau para petani untuk mulai mengoptimalkan penggunaan pupuk organik, terutama dalam menghadapi musim kemarau. Menurutnya, pupuk organik mampu membantu menjaga kelembaban tanah sehingga lebih tahan terhadap kekeringan.
“Pupuk organik bisa bantu tanah tetap lembab di saat kemarau. Jadi jangan hanya pupuk kimia, kombinasikan dengan organik,” imbaunya.
Dinas Pertanian juga terus memantau perkembangan iklim berdasarkan data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumatera Barat.
Berdasarkan informasi terkini, musim kemarau di wilayah Padang diperkirakan tidak akan berlangsung lama, sehingga risiko kekeringan ekstrem terhadap lahan pertanian bisa diminimalisasi.
“Menurut BMKG, kemarau ini tidak terlalu panjang. Arah hujan masih mengarah ke barat, jadi sebagian besar wilayah di Padang masih dapat curah air dari hujan,” ungkap Yoice.
Ia memastikan, pihaknya akan terus melakukan pemantauan dan siap memberikan bantuan teknis apabila ada petani yang mulai terdampak kekeringan atau memerlukan dukungan air irigasi tambahan.
“Intinya kita tetap siaga. Tapi sejauh ini, kondisi lahan pertanian di Padang aman dan tidak mengalami kekeringan,” pungkas Yoice. (cr1)
Editor : Adetio Purtama