Fokus utama kegiatan adalah pemulihan pasca-bencana dengan mengerahkan mesin penyedot lumpur dan air untuk mengatasi endapan yang menutupi akses jalan, rumah warga, dan saluran drainase.
Koordinator Lapangan PKM UNP, Donny Fernandez, menjelaskan, penggunaan mesin penyedot lumpur menjadi krusial karena metode manual tidak lagi memadai. "Kegiatan ini merupakan bagian dari program sanitasi, dengan fokus spesifik pada pengoperasian mesin penyedot air dan lumpur. Saat ini kami menyiagakan dua unit mesin di lokasi," ujarnya.
Langkah ini ditujukan untuk mempercepat pemulihan area terdampak dan meminimalkan risiko kesehatan akibat banjir. Endapan lumpur yang tebal menghambat aliran air dan dapat menimbulkan masalah baru bagi masyarakat setempat.
Respons Langsung Permintaan Warga
Pemilihan Perumahan Kubutama sebagai lokasi aksi bukan tanpa alasan. Wilayah ini belum pulih sepenuhnya meski masa tanggap darurat di Sumatera Barat telah berakhir.
Donny menambahkan bahwa kehadiran tim PKM UNP merupakan respons atas permintaan warga. "Masyarakat meminta agar pengabdian ini diarahkan ke sini karena kondisinya masih banyak lumpur tebal. Ini adalah bentuk pemahaman kami atas kebutuhan riil di lapangan pasca bencana," kata Donny.
Akademisi dan Teknologi Tepat Guna
Meski tim gabungan dan alat berat masih bersiaga di beberapa titik, kontribusi mesin dari akademisi sangat membantu jangkauan pembersihan yang lebih detail, terutama di pemukiman dan selokan.
Pendekatan ini memungkinkan pemulihan lebih efisien dan tepat sasaran, sekaligus memaksimalkan efektivitas program sanitasi PKM UNP.
UNP menekankan pentingnya ketersediaan teknologi tepat guna, mengingat Kota Padang memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi.
Ke depan, PKM UNP berencana menambah armada mesin penyedot lumpur dan melakukan inventarisasi untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana.
Langkah ini menjadi strategi jangka panjang agar proses pembersihan lumpur dan normalisasi wilayah terdampak bencana dapat dilakukan lebih cepat dan efisien, sekaligus mengurangi dampak bencana serupa di masa mendatang.(*)
Editor : Heri Sugiarto