Beberapa keluarga tampak membuka tikar di bawah pepohonan rindang, sementara para remaja bersiap menyelam ke air jernih yang memantulkan sinar matahari.
Pemandian yang terletak di kawasan utara Kota Padang ini memang menjadi magnet bagi warga setiap akhir pekan.
Dengan suasana alam yang masih asri dan aliran air yang segar, tempat ini menjadi pelarian sederhana dari hiruk pikuk kota.
“Kalau hari Sabtu dan Minggu, pengunjung ramai sekali. Ada yang datang dari pusat kota, ada juga dari luar daerah,” tutur Deni Sartika, pedagang makanan yang sudah bertahun-tahun membuka lapak di tepi pemandian.
Di warung kecilnya, aroma mie rebus hangat bercampur dengan suara riuh pengunjung yang baru selesai mandi.
“Biasanya yang datang ke tempat ibu itu ada yang berkeluarga, remaja, sampai dewasa. Setelah mandi, mereka sering beli pop mie atau mie rebus. Kami juga menyediakan payung-payung untuk pengunjung,” ujarnya sambil tersenyum, tangannya tak berhenti melayani pembeli.
Bagi warga sekitar, ramainya pengunjung bukan hanya membawa keceriaan, tapi juga rezeki. Lapak-lapak sederhana menjajakan minuman dingin, makanan ringan, hingga mainan anak-anak.
Setiap akhir pekan, perekonomian kecil di Lubuk Minturun berdenyut hidup, bergerak bersama aliran air yang tak pernah berhenti mengalir.
Pemandian Lubuk Minturun bukan sekadar tempat berendam di air sejuk, tapi juga potret kehidupan masyarakat yang beradaptasi dan bertumbuh dari potensi alam.
Di antara gemericik air dan rindangnya pepohonan, wisata sederhana ini menyimpan cerita tentang keseimbangan antara alam, hiburan, dan penghidupan.(cr5)
Editor : Hendra Efison