Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Yota Balad Promosikan Edutourism Pariaman di Forum Pendidikan ASEAN

ZikriNiati ZN • Selasa, 14 Juli 2026 | 08:30 WIB
Wali Kota Pariaman Yota Balad memaparkan konsep The Pariaman Edutourism Model saat menjadi pembicara pada International Education Forum 2026 di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta. (DOK PEMKO PARIAMAN)
Wali Kota Pariaman Yota Balad memaparkan konsep The Pariaman Edutourism Model saat menjadi pembicara pada International Education Forum 2026 di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta. (DOK PEMKO PARIAMAN)

PADEK.JAWAPOS.COM -- Wali Kota Pariaman Yota Balad menjadi satu-satunya kepala daerah dari Indonesia yang tampil sebagai pembicara pada International Education Forum 2026 di Kem­pinski Grand Ballroom, Jakarta. Kehadirannya menjadi momentum penting untuk memperkenalkan model pe­ngem­bangan pendidikan berbasis pariwisata atau The Pa­riaman Edutourism Model sebagai stra­tegi memperluas akses pendi­dikan tinggi di kawasan ASEAN.

Forum internasional bertema “Equitable Accessibility: Broadening the Opportunities to Higher Education in ASE­AN” (Aksesibilitas yang Ber­keadilan: Memperluas Peluang Pendidikan Tinggi di ASEAN) itu diselenggarakan oleh Education Malaysia Global Servi­ces (EM­GS) bekerja sama dengan Universiti Kuala Lumpur (UniKL) sebagai rangkaian mega iven “Ayo Kuliah di Malaysia”.

Dalam sesi panel, Yota Balad duduk berdampingan dengan Chief Executive Officer (CEO) EMGS, Mr. Novie Tajuddin, yang memaparkan praktik pendidikan tinggi dari Malaysia. Yota tampil mewakili Indonesia dengan mempresentasikan praktik pengembangan pendidikan yang mengintegrasikan potensi wisata alam dan budaya Kota Pariaman. Diskusi dipan­du akademisi senior Universiti Kuala Lumpur, Dr. Farah Hida Sharin.

Di hadapan ratusan pe­mim­pin perguruan tinggi, pem­buat kebijakan, dan akademisi dari berbagai negara ASEAN, Yota menegaskan keunggulan Pariaman sebagai kawasan belajar yang minim distraksi.

“Daya tarik terbesar kami justru terletak pada apa yang tidak kami miliki, zero urban distractions . Tanpa hiruk-pikuk kota besar, kami me­nawarkan lingkungan murni yang dirancang khusus untuk 100 persen fokus pembelajaran bagi mahasiswa,” ujar Yota.

Ia menjelaskan, Pariaman tidak hanya diposisikan sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai “laboratorium alam” yang mendukung pembelajaran berbasis praktik.

Berbagai kawasan pesisir, gugusan pulau hingga desa wisata dipaparkan sebagai ruang belajar terbuka yang dapat dimanfaatkan mahasiswa lintas disiplin ilmu. Salah satunya Pulau Kasiak yang menjadi lokasi praktik konservasi ling­kungan.

“Mahasiswa dari berbagai program studi kami ajak turun langsung mempraktikkan konservasi pe­nyu, me­rehabilitasi mangro­ve, hingga melakukan tran­splan­­tasi terumbu ka­rang di Pulau Kasiak,” katanya.

Selain potensi alam, Yota juga menawarkan ke­­ka­yaan budaya Pa­­riaman sebagai ruang riset bagi pergu­ruan tinggi di ASE­AN, khusus­nya di bi­dang sosiologi, antro­po­logi, dan sport tourism.

Menurutnya, berbagai tradisi lokal seperti Festival Ho­yak Tabuik, budaya Malamang, tradisi Bajamba, hingga Maelo Pukek dapat menjadi laboratorium sosial yang memperkaya pengalaman akademik mahasiswa sekaligus memperkenalkan nilai gotong royong dan kolaborasi.

Dari sisi aksesibilitas, Yota menepis ang­gapan bahwa Pa­­ria­man sulit dijangkau. Ia me­nye­butkan, per­jalanan dari Kuala Lumpur menuju Bandara Internasional Minangkabau (BIM) hanya memerlukan sekitar 30 menit pe­ner­bangan, ke­mu­­dian dilanjutkan perja­la­nan darat ya­ng relatif si­ngkat me­nuju Kota Pa­riaman.

“Komitmen kami sederhana: aman, autentik, dan sangat terjangkau. Mahasiswa Anda akan merasakan pesona budaya dan kuliner lezat yang bersahabat bagi anggaran kampus,” ujarnya.

Forum tersebut juga dihadiri Ketua Setia Usaha (KSU) Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia, YBhg. Datuk Ts. Dr. Hj. Aminuddin bin Hassim. Keha­diran Yota Balad dinilai men­jadi momentum strategis bagi diplomasi pendidikan Kota Pariaman di tingkat Asia Tenggara sekaligus membuka peluang kerja sama antarkampus dan program pertukaran mahasiswa.

Menutup presentasinya, Yota mengundang perguruan tinggi di kawasan ASEAN untuk menjadikan Pariaman sebagai mitra pembelajaran.

“Pariaman menerima dengan tangan terbuka seluruh inisiatif dari universitas-universitas di ASEAN. Kirimkan mahasiswa Anda kepada kami. Karena kami siap, dan kami sangat bangga, untuk menjadi kampus di luar kampus Anda,” tutupnya. (nia)

Editor : Adriyanto Syafril
International Education Forum 2026 pemko pariaman