Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Iyut Fitra: Penyair Payakumbuh yang Menjaga Tradisi Tutur dalam Puisi Indonesia Kontemporer

Irfan R Rusli • Sabtu, 20 Desember 2025 | 12:34 WIB

Iyut Fitra, penyair Payakumbuh, konsisten mengolah tradisi tutur Minangkabau dalam puisi reflektif yang memperkaya sastra Indonesia kontemporer.
Iyut Fitra, penyair Payakumbuh, konsisten mengolah tradisi tutur Minangkabau dalam puisi reflektif yang memperkaya sastra Indonesia kontemporer.
PADEK.JAWAPOS.COM—Penyair asal Payakumbuh, Iyut Fitra, dikenal konsisten mengolah tradisi tutur Minangkabau dalam karya-karya puisinya yang berbahasa tenang, ringkas, dan reflektif.

Lahir pada 16 Februari 1968, Iyut tumbuh dalam lingkungan budaya Minangkabau yang sarat dengan kaba, petatah-petitih, dan cerita lisan.

Tradisi tersebut membentuk relasinya dengan bahasa dan memengaruhi cara pandangnya terhadap puisi.

Dalam proses kreatifnya, Iyut memilih pendekatan bahasa yang sederhana dan hemat diksi.

Puisi-puisinya tidak mengandalkan efek dramatik, tetapi membuka ruang tafsir yang mengajak pembaca merenung secara perlahan.

Sejumlah karya Iyut telah dimuat di media massa nasional serta dipresentasikan dalam berbagai forum sastra di dalam dan luar negeri, menandai konsistensinya dalam menjaga mutu estetik di ranah sastra Indonesia kontemporer.

Beberapa buku puisi yang telah diterbitkannya antara lain Musim Retak, Dongeng-dongeng Tua, Lelaki dan Tangkai Sapu, Mencari Jalan Mendaki, dan Sinama.

Setiap buku merekam fase pencarian kreatif yang berbeda, mulai dari pengalaman personal hingga refleksi sosial dan spiritual.

Dalam Dongeng-dongeng Tua, Iyut mengolah kembali mitos dan ingatan kolektif sebagai cara membaca realitas masa kini.

Sementara Mencari Jalan Mendaki menghadirkan puisi-puisi reflektif yang menekankan kesabaran dan ketekunan sebagai sikap hidup.

Selain menulis, Iyut juga aktif dalam pembinaan penulis muda, diskusi sastra, dan pembacaan puisi di Payakumbuh.

Ia menilai keberlangsungan sastra memerlukan ruang perjumpaan agar tetap terhubung dengan masyarakat.

“Puisi itu kerja panjang. Ia lahir dari kesediaan mendengar—diri sendiri, lingkungan, dan sejarah,” kata Iyut Fitra saat diwawancarai Padang Ekspres, Jumat (19/12/2025).

Menurutnya, penyair perlu bersikap rendah hati di hadapan bahasa. Ia memandang kata bukan sekadar unsur estetika, melainkan medium untuk memikirkan persoalan hidup.

Iyut juga menegaskan bahwa karya sastra dari daerah tidak berada di pinggiran. “Daerah bukan batas. Selama bekerja jujur pada pengalaman, puisi akan menemukan jalannya,” ujarnya.

Melalui konsistensi berkarya dan keterlibatan di komunitas, Iyut Fitra terus menegaskan peran Payakumbuh sebagai salah satu simpul penting dalam perkembangan sastra Indonesia.(CR8)

Editor : Hendra Efison
#puisi Indonesia kontemporer #Iyut Fitra #sastra Minangkabau #penyair Payakumbuh