Pantauan di kawasan Andalas, Jalan Ikhlas Raya, hingga Jalan Pulai menunjukkan debit air kali menyusut drastis hingga dasar sungai berlumpur dan dipenuhi sampah terlihat ke permukaan.
Air yang tidak lagi mengalir menyebabkan genangan menjadi stagnan, berlumut, dan berubah warna menjadi hijau pekat.
Limbah rumah tangga yang mengendap tanpa aliran juga mulai menimbulkan bau tidak sedap.
Kondisi tersebut dikeluhkan warga yang tinggal di sepanjang bantaran kali karena berdampak pada sanitasi lingkungan.
Warga setempat, Hardian (52), mengatakan penyusutan air telah terjadi sejak awal Januari 2026 dan semakin parah dalam beberapa hari terakhir.
“Kondisi ini sudah cukup lama, kira-kira sejak awal bulan air mulai surut dan tidak mengalir lagi. Sekarang airnya cuma menggenang dan warnanya sudah hijau karena kotor,” ujar Hardian, Minggu (25/1/2026).
Menurutnya, genangan air berpotensi menjadi sarang nyamuk dan memicu penyakit, termasuk demam berdarah.
“Kami khawatir karena kali menjadi kotor dan bisa jadi sumber penyakit. Apalagi anak-anak sering bermain di sekitar sini,” katanya.
Selain masalah kesehatan, kemarau juga mulai berdampak pada ketersediaan air bersih. Sejumlah sumur warga dilaporkan mengalami penyusutan debit air.
“Kami kadang kesulitan air bersih. Sumur warga ikut dangkal. Kalau hujan tidak turun dalam waktu dekat, kami bingung mencari sumber air untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Hardian.
Secara teknis, kondisi kemarau dengan tingkat penguapan tinggi yang tidak diimbangi curah hujan menyebabkan sedimen lumpur mengeras dan mempersempit aliran kali.
Warga berharap pemerintah daerah segera melakukan langkah penanganan, seperti normalisasi atau pengerukan sungai, guna mencegah dampak lingkungan dan kesehatan yang lebih luas.(CR3)
Editor : Hendra Efison