Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kemarau Awal 2026 Picu Pendangkalan Kali di Padang, Warga Resah Ancaman Penyakit dan Krisis Air

Hendra Efison • Minggu, 25 Januari 2026 | 14:33 WIB

Kemarau di Kota Padang memicu pendangkalan kali di kawasan Andalas dan sekitarnya. Air menggenang, warga resah ancaman penyakit dan krisis air bersih. (Foto: Mengki Kurniawan/Padeks)
Kemarau di Kota Padang memicu pendangkalan kali di kawasan Andalas dan sekitarnya. Air menggenang, warga resah ancaman penyakit dan krisis air bersih. (Foto: Mengki Kurniawan/Padeks)
PADEK.JAWAPOS.COM—Kemarau yang melanda Kota Padang sejak awal Januari 2026 mulai berdampak pada kondisi lingkungan, ditandai dengan pendangkalan ekstrem aliran kali di sejumlah kawasan permukiman, Minggu (25/1/2026).

Pantauan di kawasan Andalas, Jalan Ikhlas Raya, hingga Jalan Pulai menunjukkan debit air kali menyusut drastis hingga dasar sungai berlumpur dan dipenuhi sampah terlihat ke permukaan.

Air yang tidak lagi mengalir menyebabkan genangan menjadi stagnan, berlumut, dan berubah warna menjadi hijau pekat.

Limbah rumah tangga yang mengendap tanpa aliran juga mulai menimbulkan bau tidak sedap.

Kondisi tersebut dikeluhkan warga yang tinggal di sepanjang bantaran kali karena berdampak pada sanitasi lingkungan.

Warga setempat, Hardian (52), mengatakan penyusutan air telah terjadi sejak awal Januari 2026 dan semakin parah dalam beberapa hari terakhir.

“Kondisi ini sudah cukup lama, kira-kira sejak awal bulan air mulai surut dan tidak mengalir lagi. Sekarang airnya cuma menggenang dan warnanya sudah hijau karena kotor,” ujar Hardian, Minggu (25/1/2026).

Menurutnya, genangan air berpotensi menjadi sarang nyamuk dan memicu penyakit, termasuk demam berdarah.

“Kami khawatir karena kali menjadi kotor dan bisa jadi sumber penyakit. Apalagi anak-anak sering bermain di sekitar sini,” katanya.

Selain masalah kesehatan, kemarau juga mulai berdampak pada ketersediaan air bersih. Sejumlah sumur warga dilaporkan mengalami penyusutan debit air.

“Kami kadang kesulitan air bersih. Sumur warga ikut dangkal. Kalau hujan tidak turun dalam waktu dekat, kami bingung mencari sumber air untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Hardian.

Secara teknis, kondisi kemarau dengan tingkat penguapan tinggi yang tidak diimbangi curah hujan menyebabkan sedimen lumpur mengeras dan mempersempit aliran kali.

Warga berharap pemerintah daerah segera melakukan langkah penanganan, seperti normalisasi atau pengerukan sungai, guna mencegah dampak lingkungan dan kesehatan yang lebih luas.(CR3)

Editor : Hendra Efison
#kemarau Padang 2026 #pendangkalan kali Padang #sanitasi lingkungan #krisis air bersih Padang