Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Malam Ramadan di Payakumbuh: Kedai Kopi Gerobakan jadi Tempat Nongkrong Anak Muda setelah Tarawih

Irfan R Rusli • Rabu, 11 Maret 2026 | 11:52 WIB

Photo
Photo
PADEK.JAWAPOS.COM—Malam Ramadan di Payakumbuh tidak sepenuhnya sunyi setelah salat tarawih usai. Ketika jamaah mulai meninggalkan masjid dan jalanan berangsur lengang, sejumlah sudut kota justru kembali hidup dengan aktivitas anak muda yang berkumpul di kedai kopi gerobakan.

Pantauan Padang Ekspres menunjukkan salah satu gerobak kopi di kawasan pusat kota mulai dipadati pengunjung sejak pukul 22.00 WIB. Kursi-kursi plastik yang disusun sederhana perlahan terisi oleh anak-anak muda yang datang secara bergelombang setelah menunaikan salat tarawih.

Di bawah cahaya lampu jalan, suasana tampak santai. Aroma kopi yang baru diseduh berpadu dengan obrolan ringan yang mengalir di setiap meja. Sebagian pengunjung tampak asyik berbincang, sementara yang lain menikmati minuman hangat sambil sesekali tertawa bersama teman-temannya.

Fenomena tersebut menjadi pemandangan yang hampir selalu muncul setiap bulan Ramadan di kota tersebut. Kedai kopi gerobakan yang pada hari biasa hanya ramai pada waktu-waktu tertentu, kini berubah menjadi ruang berkumpul bagi anak muda.

Salah seorang pengunjung, Abdi (22), mengatakan kebiasaan berkumpul setelah tarawih sudah menjadi tradisi kecil di kalangan anak muda selama Ramadan.

“Biasanya habis tarawih kami pulang dulu ke rumah. Sekitar jam sepuluh baru keluar lagi ketemu kawan-kawan. Nongkrong sambil ngopi saja, ngobrol santai,” ujarnya.

Menurut Abdi, suasana malam selama Ramadan terasa lebih hidup dibandingkan hari biasa karena banyak anak muda memanfaatkan waktu malam untuk bertemu teman-teman.

“Kalau hari biasa mungkin cepat sepi. Tapi kalau Ramadan, banyak yang keluar malam setelah tarawih. Jadi tempat ngopi seperti ini ramai,” katanya.

Pengunjung lainnya, Munawir (26), mengaku kedai kopi sering menjadi tempat bertemu teman-teman lama, terutama menjelang Lebaran ketika sebagian perantau mulai pulang ke kampung halaman.

“Biasanya kami janjian ketemu di sini. Ada kawan yang baru pulang dari rantau, jadi sekalian kumpul,” ujarnya.

Menurutnya, momen berkumpul seperti ini jarang terjadi di luar Ramadan karena kesibukan pekerjaan dan jarak tempat tinggal yang berbeda.

“Kalau Ramadan suasananya beda. Banyak yang pulang kampung, jadi bisa ketemu lagi. Biasanya ngobrol panjang sampai larut malam,” katanya.

Percakapan yang berlangsung di meja-meja kecil tersebut beragam, mulai dari cerita pekerjaan di perantauan, pengalaman hidup di kota lain, hingga mengenang masa sekolah bersama.

Selain menjadi ruang pertemuan sosial, aktivitas tersebut juga memberi dampak positif bagi pelaku usaha kecil. Pedagang kopi gerobakan mengaku jumlah pembeli meningkat selama bulan Ramadan dibandingkan hari biasa.

Ramainya aktivitas malam ini menunjukkan bagaimana Ramadan menghadirkan dinamika sosial tersendiri di tengah masyarakat. Setelah menjalankan ibadah bersama di masjid, sebagian warga melanjutkan kebersamaan di ruang-ruang publik yang lebih santai.

Menjelang tengah malam, sebagian pengunjung mulai beranjak pulang, sementara lainnya masih bertahan melanjutkan obrolan sambil menikmati sisa kopi di gelas mereka. Bagi anak muda Payakumbuh, kedai kopi gerobakan tidak hanya menjadi tempat menikmati minuman hangat, tetapi juga ruang silaturahmi yang menghidupkan suasana malam Ramadan. (cr7)

Editor : Adetio Purtama
#tempat nongkrong #salat tarawih #kedai kopi #payakumbuh #ramadan